Sepulang dari sebuah cafe kecil di pinggiran kota Mataram. Saya men-scroll feed instagram, lalu menemukan potongan video “sekumpulan anak-anak kecil” sedang bermain sepakbola di lapangan tarkam di bawah derasnya hujan. Video itu, sontak membawa ingatan saya kembali ke puluhan tahun silam. Lamat-lamat, saya mengingat satu-persatu wajah teman sepermainan masa kecil. Mereka sempat punya mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, tapi tak pernah menjadi kenyataan. Begitulah sepak bola Indonesia; hanya akan menjadi kenangan mewah masa kecil. Bukan menjadi profesi masa depan.
Nun jauh di sana, di bagian dunia Selatan, Tanjung Verde, sebuah negara kecil menghadirkan mimpi bagi anak-anak negerinya. Tim nasionalnya menjalani debut pada Piala Dunia 2026 di Amerika. Timnas berjuluk ‘Hiu Biru” itu memberi kejutan; bermain imbang 0-0 melawan Spanyol. Menahan imbang Uruguay 2-2. Dan meredam Arab Saudi, 0-0. Hasil ini membuat Tanjung Verde melangkah ke babak 32 besar. Mereka menciptakan Sejarah. Kemudian akan menantang juara bertahan: Argentina. Sebuah pencapaian yang tak dapat dirasakan oleh euforia anak-anak Indonesia di pentas olahraga paling megah.
Turnamen yang digelar empat tahun sekali ini menyedot perhatian miliaran manusia di berbagai belahan dunia. Orang-orang berkumpul di stadion. Ruang keluarga. Warung kopi. Atau sekadar meyaksikan di depan layar ponsel. Mereka bersorak, gembira, menangis, dan berdebat di sosial media merayakan hasil laga. Mereka seolah-olah menjadi bagian langsung dari Piala Dunia. Pada titik ini, Piala Dunia bukan hanya sebatas kompetisi olahraga. Melainkan telah menjadi sebuah panggung depan “peristiwa kebudayaan mondial”, yang melibatkan euforia, identitas dan budaya massa dalam masyarakat modern.
Piala Dunia juga seperti lorong waktu. Menghadirkan memori kolektif bagi jutaan orang. Saban kali perhelatan ini digelar, orang-orang akan mengenang kembali gol “Tangan Tuhan” Maradona. Tangisan Roberto Baggio di final 1994. Sundulan Zinedine Zidane pada final 1998. Dan yang terakhir, final dramatis Argentina versus Prancis pada 2022. Peristiwa-peristiwa itu telah tertulis menjadi sejarah sepak bola. Bahkan, menjadi memori kolektif lintas bangsa dan generasi. Menurut Maurice Halbwachs, ingatan manusia tidak pernah berdiri sendiri sebagai pengalaman individual. Ia selalu dibentuk oleh cadres sociaux (lingkungan sosial) di mana seseorang itu hidup dan bertumbuh. Karena itu, ingatan masa kecil tentang timnas mana yang didukung oleh lingkaran keluarga atau teman sepermainan kita, menentunkan selera dukungan kita di masa kini.
Melampaui hal itu, Piala Dunia seperti etalase kebudayaan. Setiap edisi Piala Dunia tiba, kita membandingkan lagu resmi, maskot, trofi, stadion, dan gegap seremonial pembukaan. Arsip digital tiap edisi Piala Dunia telah menjadi bahan pengawet bagi ingatan kita tentang edisi-edisi sebelumnya. Saya tidak pernah menyaksikan era Maradona, baik di liga maupun Piala Dunia. Namun, melalui serangakian dokumenter digital, saya mengenal lebih dekat “dewa” sepak bola itu. Juga percakapan-percakapan saya tentang Maradona bersama Bung Alkaf, esais asal Aceh. Membuat saya memahami jejak “makrokosmis” Maradona dalam jagad Sepak bola. Alkaf menahbiskan, bahwa “Maradona adalah Dewa sepak bola, dan Mardona ditakdirkan untuk Sepak Bola”. Saya melihat, Alkaf telah menjadikan Maradona sebagai simbol idelogis: pria bengal yang menari-nari lincah melawan status quo Barat.
Di luar lapangan Maradona tampil sebagai pendukung vokal gerakan-gerakan politik kiri, anti-imperialisme, dan mendukung perjuangan kelas pekerja. Lahir dan tumbuh di kawasan permukiman miskin, shantytown, di Buenos Aires, membuat Maradona berpihak pada sosialisme di Amerika Latin. Komitmen ideologisnya itu terlihat pada tato wajah Che Guevara di lengannya. Ia juga menjalin persahabatan yang erat dan mendukung Fidel Castro, Hugo Chávez, dan Evo Morales. Menurut pandangannya, gerakan-gerakan yang mereka pimpin merupakan bentuk perlawanan penting terhadap hegemoni Amerika Serikat. Dan yang tak kalah penting, Maradona secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka.
Dari berbagai jejak Maradona itu, saya memahami, kenapa Alkaf menghendaki sepak bola mestinya menjadi mekanisme reproduksi ideologis seperti yang telah diperankan Maradona. Bukan berkutat pada capaian angka-angka statistik gol dan trofi. Namun pertanyaanya; siapakah yang layak menjadi Hermes (juru terjemah) lapangan hijau di era sepak bola modern yang mampu mengaktualisasikan komitmen Maradona? Tidak ada! Maradona hanya lahir sekali, pemain hebat bisa lahir tiap generasi.
Di Piala Dunia 2026, saya terkesan dengan penampilan impresif Jepang. Tim yang membangun kualitasnya tanpa proyek naturalisasi. Saya mendukungnya sebagai wakil Asia. Tapi Jepang terlalu cepat ketemu Brasil. Tim dengan tradisi dan sejarah panjang di Piala Dunia. Akhirnya Jepang terpaksa pulang lebih cepat. Tapi selama sembilan puluh menit pertandingan Jepang vs Brasil, telah menghapus sekat-sekat kelas sosial, profesi, bahkan perbedaan orientasi politik di negeri gingseng. Rivalitas dan polarisasi politik antara kubu pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi versus kelompok oposisi bersatu mendukung timnasnya. Demikianlah sepak bola menjadi bahasa simbolik, yang memungkinkan bangsa membayangkan dirinya sebagai satu komunitas yang utuh. Benedict Anderson menyebutnya sebagai imagined community.
Di sisi yang lain, Piala Dunia memperlihatkan bagaimana kapitalisme bekerja melalui budaya massa. Dalam society of the spectacle, Guy Debord menjelaskan sebuah masyarakat yang kehidupannya semakin didominasi oleh tontonan. Piala Dunia adalah salah satu spektakel (hiburan) terbesar dalam sejarah umat manusia. Ia hadir dalam ekosistem kapital yang besar: hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor multinasional, industri periklanan, media digital, influencer, hingga ekonomi kreatif. Hal ini menunjukkan, bahwa sepak bola modern merupakan bagian integral dari kapitalisme global. Sementara kita, sebagai kelas menengah yang terpenjara di dalam siklus kerja berulang butuh tontonan (spectacle). Maka menonton Piala Dunia menjadi semacam “kesenangan” , sembari mengalihkan pikiran dari urusan cicilan.
Meskipun demikian, Piala Dunia memiliki dimensi afektif, yang tidak bisa direduksi menjadi sebatas logika pasar. Seseorang dapat melupakan skor pertandingan, tetapi tidak melupakan dengan siapa ia menonton pertandingan. Anda mungkin mengingat momen menonton dengan ayah Anda puluhan tahun lalu, teman-teman sekampung, atau suasana Nobar di warung kopi yang penuh sesak. Di sinilah memori kolektif bekerja bukan hanya melalui media, tetapi juga melalui pengalaman hidup yang nyata.
Sebagai budaya popular, Piala dunia menjadi “mitos” modern. Gol spektakuler, selebrasi pemain, nomor punggung tertentu, bahkan ekspresi wajah pelatih dapat berubah menjadi simbol yang memiliki tafsir jauh melampaui pertandingan itu sendiri. Trofi Piala Dunia bukan lagi sekadar pajangan, tapi menjadi lambang supremasi negara pemenang. Stuart Hall menyebut fenomena ini sebagai “representasi”. Media tidak sekadar memotret realitas, tetapi juga memproduksi makna melalui narasi, simbol, dan citra yang terus direproduksi.
Contoh paling nyata dari reprsentasi pada piala dunia 2026 adalah perdebatan mengenai siapa yang layak menjadi GOAT antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Melalui dua sosok ini representasi bekerja dalam budaya massa. Media mencitrakan Messi sebagai sosok jenius yang pendiam, memiliki bakat alami, dan berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022. Sebaliknya, Ronaldo kerap direpresentasikan sebagai figur pekerja keras, disiplin, dan ambisius membawa Portugal meraih Piala dunia 2026.
Kedua citra tersebut direproduksi tanpa henti oleh media dan jutaan penggemar di media sosial. Sehingga publik tidak hanya bicara soal urusan teknis dan kualitas sepak bola, tetapi juga dua narasi tentang bagaimana seorang legenda seharusnya dibentuk dan dikenang. Yang dipertarungkan sesungguhnya adalah makna yang dilekatkan pada mereka. Messi dan Ronaldo telah berubah menjadi tanda-tanda budaya (cultural signs) yang mewakili nilai, gaya hidup, bahkan identitas penggemarnya.
Akhirnya, menonton Piala Dunia itu seperti membuka album foto masa kecil. Dulu, habis nonton pertandingan, besok main di lapangan tarkam sambil membayangkan diri jadi Ronaldo, Zidane, atau Ronaldinho. Kini, Piala Dunia lebih sering menjadi alasan berkumpul dengan teman-teman, lalu sesekali bermain futsal atau mini soccer di akhir pekan. Kini Sepak bola bagi kita hanya sekadar aktivitas membakar lemak, agar perut tidak semakin buncit. Oh ya, Saya pendukung timnas Prancis, sebab 90 persen pemainnya berkulit hitam; didominasi anak-anak keturunan imigran Afrika. Timnas Prancis adalah wujud decolonial in football; anak-anak kulit hitam mampu menyingkirkan anak-anak kulit putih.
Penulis : Muhammad Said (Pemerhati Isu-isu Sosial & Budaya)
Editor : Redaksi Narasio






