Pidato Paripurna Prof. Rodliyah: Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan

- Redaksi

Jumat, 28 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan. Foto: Baiq Nurul/Sorot Kamera

i

Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan. Foto: Baiq Nurul/Sorot Kamera

MATARAM — Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram (FHISIP Unram) menggelar kegiatan Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk “Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan” pada Kamis, 27 Agustus 2026. Acara yang berlangsung pukul 13.00 hingga 17.00 WITA di Ruang Sidang Utama (Aula Prof. Zainal Asikin), Lantai 3 Gedung A FHISIP Unram ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah penegakan hukum di Indonesia, khususnya dalam memberikan keadilan substantif bagi perempuan.

Kegiatan akademik ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, akademisi, dan mahasiswa. Selain pidato utama dari Guru Besar hukum pidana, rangkaian acara juga diisi dengan pembacaan rekam jejak akademik serta peluncuran buku khusus sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjang dalam pengembangan ilmu hukum di Universitas Mataram.

Hukum untuk Keadilan Rakyat, Bukan Penguasa

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FHISIP Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya posisi ilmu hukum sebagai instrumen keberpihakan kepada masyarakat luas alih-alih melayani kepentingan kelompok tertentu.

Dekan FHISIP Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. dalam sambutan Pidato Paripurna Prof. Rodliyah.
Dekan FHISIP Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. dalam sambutan Pidato Paripurna Prof. Rodliyah. Foto: Baiq Nurul/Sorot Kamera

“Belajar hukum bisa memprediksi undang-undang yang ada sekarang. Prinsip hukum itu salah satunya untuk kebaikan manusia dan kepentingan rakyat, bukan kepentingan penguasa,” ujar Dr. Lalu Wira di hadapan peserta sidang paripurna.

Ia juga menyoroti bagaimana hukum dalam praktiknya kerap diuji antara idealisme perlindungan rakyat atau sekadar instrumen politik. Oleh karena itu, sivitas akademika didorong untuk terus kritis mengawal nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang menjadi fondasi utama tegaknya hukum. Pada kesempatan yang sama, beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi luar biasa yang telah diberikan oleh Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bagi kemajuan lembaga pendidikan tinggi tersebut.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan curriculum vitae dan jejak karir oleh Dr. Ufran, S.H., M.H. Dalam pemaparannya, Dr. Ufran menyampaikan bahwa perjalanan akademik Prof. Rodliyah di Universitas Mataram merupakan wujud nyata pengabdian tanpa henti. Menjadi rujukan utama dalam bidang hukum pidana, pencapaian akademik tertinggi yang diraih beliau melalui proses panjang pengajaran dan penelitian yang membutuhkan waktu puluhan tahun serta dedikasi tingkat tinggi.

Ketua Departemen Hukum Pidana FHISIP Universitas Mataram, Dr. Ufran, S.H., M.H. dalam sambutan Pidato Paripurna Prof. Rodliyah.
Ketua Departemen Hukum Pidana FHISIP Universitas Mataram, Dr. Ufran, S.H., M.H. dalam sambutan Pidato Paripurna Prof. Rodliyah. Foto: Baiq Nurul/Sorot Kamera

Urgensi Reformasi Hukum Pidana Modern dan Perlindungan Korban

Memasuki acara inti, Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. menyampaikan pidato paripurna yang mengupas secara mendalam kompleksitas penanganan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Perjalanan panjang sebagai pengajar dan pegiat organisasi perempuan memperkuat pandangannya bahwa perempuan kerap berada pada posisi paling rentan dalam sistem peradilan konvensional.

Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan.
Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan. Foto Baiq Nurul/Sorot Kamera

“Perempuan berada pada posisi paling rentan dan paling sulit dalam mendapatkan keadilan yang substantif. Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya secara fisik, seksual, rumah tangga, akan tetapi perempuan juga menghadapi kekerasan berbasis elektronik,” ungkap Prof. Rodliyah dalam pidatonya.

Ia mengkritisi sistem peradilan masa lalu yang cenderung kaku, normatif, dan terlalu prosedural sehingga kerap memberatkan korban. Seringkali, alih-alih mendapatkan pelindungan, korban justru mengalami viktimisasi sekunder di ruang sidang dan menghadapi proses pembuktian berat yang menghancurkan harkat serta martabat mereka.

Kendati demikian, angin segar mulai berhembus melalui instrumen hukum positif modern saat ini. Kehadiran Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru dinilai telah membuka fondasi baru bagi sistem hukum nasional. Hukum pidana masa depan, menurutnya, harus bergeser dari sekadar menghukum pelaku menuju orientasi restitusi dan pemulihan komprehensif bagi korban.

“Pelaku kejahatan bukan hanya bertanggung jawab terhadap negara, akan tetapi wajib bertanggung jawab atas kerugian materiil dan immateriil terhadap korban. Penanganan harus bersifat sinergi oleh aparat penegak hukum dan harus terhubung dengan ekosistem sosial,” tambahnya. Di akhir pidatonya, ia berpesan bahwa ilmu hukum yang sejati harus mampu memberikan keadilan serta perlindungan nyata bagi kaum tertindas.

Peluncuran Buku Festschrift sebagai Penghormatan Akademik

Rangkaian kegiatan Pidato Paripurna ini ditutup dengan sesi peluncuran buku bertajuk Hukum Kekerasan Seksual: Teori, Kebijakan dan Perlindungan Korban.  Buku tersebut disusun sebagai festschrift atau karya tulis penghormatan akademik atas dedikasi dan pengabdian panjang Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. dalam pengembangan ilmu hukum di Indonesia.

Wakil Dekan 3 FHISIP Universitas Mataram, Dr. Lalu Saipudin, S.H., M.H. dalam sambutan Pidato Paripurna Prof. Rodliyah.
Wakil Dekan 3 FHISIP Universitas Mataram, Dr. Lalu Saipudin, S.H., M.H. dalam sesi peluncuran buku bertajuk Hukum Kekerasan Seksual: Teori, Kebijakan dan Perlindungan Korban pada Pidato Paripurna Prof. Rodliyah. Foto Baiq Nurul/Sorot Kamera

Wakil Dekan III FHISIP Unram, Dr. Lalu Saepudin, S.H., M.H., yang memandu sesi akhir kegiatan, menyampaikan bahwa peluncuran karya ini merefleksikan rekam jejak institusi yang tidak terpisahkan dari integritas dan keteladanan sang profesor. Buku ini diharapkan mampu memperkaya literatur hukum pidana sekaligus menjadi panduan strategis bagi akademisi, penegak hukum, dan pegiat HAM dalam merumuskan kebijakan perlindungan korban kekerasan di masa depan.

Naskah Pidato Paripurna (Valedictory Lecture) Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H. bertajuk “Masa Depan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan”: Download

Penulis : Yunita, S.H.

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Sanksi Denda dan Pemulihan Lingkungan di Indonesia Hanya Jadi Macan Kertas
Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan
Diskusi Sorot Kamera FHISIP Unram: WALHI Tegaskan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Harus Memenuhi Syarat Konstitutif dan Ekologis
Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan
Ekonomi NTB dan Rekor MotoGP Mandalika 2026, Pakar Ekonomi Unram Soroti Kepastian Investasi dan Ekosistem Sport Tourism
Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik
Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?
Sorot Kamera Unram dan KOHATI HMI Mataram Kupas Kekerasan Seksual di Pesantren, Desak Pencegahan dan Sistem Perlindungan Korban

Lanjutan Narasi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:05 WITA

Sanksi Denda dan Pemulihan Lingkungan di Indonesia Hanya Jadi Macan Kertas

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:42 WITA

Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:56 WITA

Diskusi Sorot Kamera FHISIP Unram: WALHI Tegaskan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Harus Memenuhi Syarat Konstitutif dan Ekologis

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:30 WITA

Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:05 WITA

Ekonomi NTB dan Rekor MotoGP Mandalika 2026, Pakar Ekonomi Unram Soroti Kepastian Investasi dan Ekosistem Sport Tourism

Lensa Hari Ini