MATARAM – Dalam upaya memperkuat perlindungan anak melalui pendekatan budaya, Tim Riset UIN Mataram melalui program riset Mora the Air Funds Kementerian Agama RI–LPDP menyelenggarakan kegiatan sosialisasi serta uji coba “Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal” untuk pencegahan kekerasan terhadap anak. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Yayasan Inspirasi NTB.
Acara dilaksanakan selama dua hari pada Sabtu hingga Minggu, 15-16 Agustus 2026, di Inspirasi Coffee & Culture Movement, Perumahan Lantana Garden, Labuapi, Lombok Barat. Kegiatan ini menghadirkan fasilitator, yakni Direktur Eksekutif Inspirasi (Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial), Rohani Inta Dewi, M.A., dan perwakilan peneliti Mora the Air Funds, Dr. Baiq Ratna Mulhimmah, M.H. Selain itu, kegiatan ini dihadiri sekitar 20 peserta pelatihan.
Mendobrak Konstruksi Sosial dan Bias Gender dalam Keluarga
Dr. Baiq Ratna Mulhimmah dalam paparannya menekankan pentingnya mendobrak konstruksi sosial yang selama ini membatasi peran laki-laki dan perempuan. Menurutnya, pekerjaan domestik tidak memiliki jenis kelamin. “Laki-laki harus bisa membersihkan rumah, mencuci piring, dan sebagainya, begitupun perempuan,” ujarnya.
Ratna menyoroti adanya pelabelan yang timpang, di mana perempuan kerap dianggap hanya sebatas urusan sumur dan kasur, sementara laki-laki dibebankan ekspektasi harus kuat dan dilarang mengekspresikan emosi. Konstruksi ini berdampak pada pola asuh yang bias gender, di mana orang tua membedakan perlakuan, disiplin, hingga ekspektasi pilihan aktivitas berdasarkan jenis kelamin anak.
“Dampaknya nyata pada perkembangan emosional anak. Laki-laki menjadi kurang mampu mengekspresikan emosi, sementara perempuan lebih rentan mengalami kecemasan,” jelas Ratna. Ia menambahkan bahwa pengasuhan anak yang ideal harus melindungi anak dari rasa lapar dan kekerasan, serta dilakukan secara kolaboratif antara ayah dan ibu.
Transformasi Harapan melalui Kearifan Lokal
Di sisi lain, Rohani Inta Dewi menyoroti pentingnya transformasi harapan orang tua melalui kearifan lokal. Ia mengambil contoh budaya penguburan ari-ari yang sering kali memuat bias harapan. Harapan untuk anak perempuan cenderung diarahkan menjadi sosok penurut dan lemah lembut, sedangkan anak laki-laki diproyeksikan menjadi pemimpin yang kuat.
“Ketika ada bias gender dalam pengasuhan anak laki-laki dan perempuan, ini perlu ditransformasikan melalui pengasuhan berbasis adat lokal. Kita memiliki harapan yang sama untuk kebaikan mereka,” tegasnya.
Membangun Komunikasi Empatik dan Pembagian Peran yang Adil
Dalam kegiatan yang dilakukan secara interaktif ini, peserta diajak berdiskusi mengenai pentingnya komunikasi empatik dan pembagian peran yang adil di dalam rumah tangga. Pembagian peran bukan hanya soal pekerjaan domestik, tetapi tentang bagaimana orang tua mengajarkan tanggung jawab, kerja sama, dan rasa saling menghargai.
“Setiap anggota keluarga harus diberikan kesempatan mengemukakan pendapat tanpa memandang jenis kelamin, serta melibatkan semua anggota dalam pengambilan keputusan,” tambah Ratna.
Uji coba modul ini juga mencakup peta kearifan lokal yang relevan, seperti perlindungan anak dari bahaya dan eksploitasi pekerjaan. Melalui diskusi kelompok dan studi kasus, diharapkan orang tua mampu membangun pola asuh yang lebih resilien, belajar dari contoh pengasuhan yang baik, serta mampu menyelesaikan perbedaan pola asuh antar pasangan melalui diskusi yang sehat, demi mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak di masa depan.
Penulis : Yunita, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






