Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi instrumen penting untuk melontarkan refleksi kritis terhadap kondisi sistem pendidikan nasional saat ini. Sebagai representasi yang menegaskan bahwa di balik retorika kemajuan yang pemerintah dengungkan, kenyataan di akar rumput justru menunjukkan potret pendidikan yang memprihatinkan.
Kegagalan Sistemik
Sistem pendidikan Indonesia saat ini berada pada titik yang tidak layak. Ketidaklayakan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan akumulasi dari tumpang tindih regulasi serta kegagalan birokrasi dalam menjamin hak konstitusional warga negara.
Fasilitas sekolah yang berada di bawah standar nasional, disparitas akses digital di wilayah terpencil, hingga komersialisasi pendidikan yang menempatkan masyarakat miskin menjadi bukti nyata. Fenomena ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam menjalankan amanat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Disorientasi Kebijakan: Isi Perut vs Isi Otak
Saat ini, terjadi disorientasi mendasar dalam skala prioritas negara. Sektor pendidikan seolah-olah tersisih demi ambisi program populis yang bersifat pragmatis. Secara tajam adanya indikasi atau pemotongan anggaran pendidikan untuk menopang program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sebuah paradoks getir muncul dalam refleksi, bahwa negara lebih mengutamakan isi perut, namun mengabaikan isi otak. kebijakan tersebut mencerminkan kegagalan pemerintah dalam memahami bahwa kedaulatan bangsa bermula dari kekuatan intelektual, bukan menyediakan penyediaan logistik jangka pendek.
Tragedi dan Paradoks Menuju 2045
Tragedi kemanusiaan di NTT pada 29 Januari 2026 menjadi poin paling krusial. Peristiwa seorang siswa SD yang nekat mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pulpen adalah alarm keras bagi bangsa. Kejadian yang memilukan ini menandakan bahwa sistem pendidikan nasional sedang mengalami kerusakan parah.
Apabila kerusakan sistemik ini terus berlanjut tanpa perbaikan radikal, maka slogan “Indonesia Emas 2045” hanyalah halusinasi politik. Sebaliknya, Indonesia justru sedang bergerak menuju “Indonesia Cemas 2045” sebuah masa depan yang dihuni oleh generasi dari sistem yang rapuh dan visi yang kabur.
Menuntut Kewarasan di Tengah Sistem yang Sakit
Kemajuan suatu bangsa tidak tampak dari megahnya infrastruktur fisik, melainkan dari kualitas sistem pendidikannya. Sebuah ironi besar ketika negara memaksa pelajar hari ini untuk tetap kompetitif dan sehat, sementara mereka tumbuh di dalam ekosistem kenegaraan yang sedang tidak sehat. Jika pemerintah tidak segera mengembalikan pendidikan sebagai panglima pembangunan, maka mimpi menjadi negara maju hanya akan menjadi catatan kegagalan dalam sejarah bangsa.
Penulis : Rangga (Mahasiswa Universitas Mataram, Forum Komunikasi Mahasiswa Hukum Bima)
Editor : Redaksi Narasio






