Deni, begitu ia akrab disapa. Ia lahir sebagai laki-laki, namun ia tumbuh lebih nyaman dengan ekspresi diri sebagai perempuan. Ia menyebut dirinya penyintas disforia gender; sebuah kondisi psikologis yang membuat seseorang merasa identitas gendernya berbeda dengan jenis kelamin biologis yang ia miliki sejak lahir.
Deni hanya mengenyam bangku pendidikan sampai sekolah dasar. Dalam keterbatasan itu, dengan semangat autodidak, ia belajar tata rias melalui YouTube dan media sosial. Sehingga ia menjadi seorang Make Up Artist (MUA) profesional. Namun, karirnya itu tiba-tiba runtuh oleh penghakiman sosial.
Beberapa waktu lalu, nama Deni viral di media sosial. Sebuah unggahan di Facebook menyebarkan foto dan narasi yang menuding Deni sebagai “penista agama”. Tanpa klarifikasi, tanpa konfirmasi, tuduhan itu menyebar dan viral. Foto-foto Deni yang diambil tanpa izin, kemudian diposting disertai dengan narasi yang berisi tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran moral dan agama. Sehingga, Deni menjadi sasaran ejekan dan caci maki.
Kasus Deni merupakan bentuk korban cyber bullying dan moral panic di Indonesia. Dalam kultur masyarakat religius dan homogen, orang-orang yang berbeda seringkali dianggap ancaman dalam tatanan sosial. Apa yang dialami Deni bukan sekadar kasus perundungan, tapi juga bentuk kekerasan struktural.
Kasus Deni menunjukkan betapa kerasnya dunia digital, dan betapa nihilnya empati. Satu unggahan di media sosial, ribuan jari siap menjadi algojo virtual. Atas nama penegakkan moral, sesungguhnya orang-orang hanya sedang menyalakan api kebencian. Akibatnya, orang-orang seperti Deni kehilangan rasa aman.
Keberagaman identitas manusia adalah bagian dari ciptaan Tuhan itu sendiri. Deni lahir berjuang melalui keterampilan rias wajah. Ia tidak mencuri, tidak menyakiti orang lain. Namun, dalam logika warganet, ia dianggap “salah” hanya karena ia berbeda. Stigma yang melekat pada Deni adalah bentuk ketidakadilan sosial. Masyarakat mestinya membangun budaya empati dan menghentikan moral policing terhadap Deni. Karena empati adalah fondasi kemanusiaan.
Tulisan ini sebentuk seruan bagi kita semua untuk melihat manusia dengan hati, bukan prasangka dan penghakiman. Deni hanyalah cermin dari ribuan wajah lain yang mungkin hidup di sekitar kitaa; mereka yang memilih diam karena takut, dan menanggung luka karena dirundung.
Membela Deni bukanlah soal membela gaya hidup tertentu, tapi membela hak dasar setiap manusia untuk tidak disakiti hanya karena ia berbeda. Mungkin dunia belum siap untuk benar-benar menerima perbedaan. Tapi selama masih ada suara yang berani berkata “cukup sudah penghakiman ini”, masih ada harapan bahwa kemanusiaan belum mati.
Penulis : Lukmanul Hakim (Gusdurian Lombok)
Editor : Redaksi Narasio






