Perjanjian Dagang RI-AS: Jebakan Konstitusional dan Ancaman Kedaulatan Data

- Redaksi

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. (Dosen Bagian Hukum Bisnis, Dekan  Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mataram)

i

Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. (Dosen Bagian Hukum Bisnis, Dekan  Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mataram)

Oleh: Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. (Dosen Bagian Hukum Bisnis, Dekan  Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mataram)

Pada 19 Februari 2026, sebuah perjanjian perdagangan Agreements on Reciprocal Trade (ART) diteken di Washington D.C. dengan narasi optimisme: eliminasi tarif untuk 1.819 produk Indonesia dan pemangkasan bea masuk hingga nol persen bagi 99% produk Amerika Serikat. Namun, di balik angka-angka yang memikat tersebut, tersimpan “ranjau” legal yang berpotensi menjadi bumerang bagi kedaulatan hukum Indonesia.

Cacat Legal dan Konstitusional

Hanya berselang sehari setelah penandatanganan, tepatnya 20 Februari 2026, Mahkamah Agung (Supreme Court) Amerika Serikat membatalkan skema tarif resiprokal Trump yang diterbitkan April 2025. Pembatalan ini bukan sekadar berita ekonomi, melainkan ancaman nyata terhadap legal standing perjanjian ART itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah perjanjian dagang yang bertumpu pada skema tarif dapat berlaku efektif jika fondasi hukum di negara mitra sedang runtuh?

Lebih jauh lagi, mari kita bicara tentang rumah kita sendiri. Secara konstitusional, pemerintah Indonesia tampak mengabaikan Pasal 11 UUD 1945. Konstitusi kita secara eksplisit mengamanatkan bahwa perjanjian internasional yang berdampak luas bagi kehidupan rakyat harus mendapatkan persetujuan DPR. Mengabaikan parlemen dalam kesepakatan sebesar ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan cacat konstitusional yang serius.

Selain itu, Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional menetapkan bahwa perjanjian yang berkaitan dengan kedaulatan negara, hak asasi manusia, lingkungan hidup, pembentukan kaidah hukum baru, serta aspek politik dan keamanan wajib dituangkan dalam bentuk Undang-Undang. ART ini jelas menyentuh aspek-aspek tersebut. Hingga saat ini, belum ada proses legislasi yang menandakan perjanjian ini akan disahkan melalui UU. Tanpa itu, posisi hukum perjanjian ini sangat lemah.

Ancaman Kedaulatan Data

Selain masalah tarif, ada satu pasal yang sering luput dari perhatian publik namun sangat vital: kewajiban transfer data pribadi ke Amerika Serikat. Ini bukan masalah teknis biasa. Ketentuan ini secara terang-terangan berpotensi melanggar UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Ketika data warga negara “dijual” sebagai bagian dari paket dagang, kita sedang mempertaruhkan kedaulatan digital. Apakah pemerintah sudah memikirkan bagaimana regulasi kita melindungi data tersebut dari penyalahgunaan di luar yurisdiksi Indonesia? Jika perjanjian ini melangkahi UU PDP, maka ia telah mengkhianati amanat pelindungan data warga negara yang diperjuangkan dengan susah payah.

Reevaluasi: Keadilan Dagang

Pemerintah jangan silau dengan janji-janji eliminasi tarif. Sebuah perjanjian dagang yang lahir dengan cacat prosedur di dalam negeri dan ketidakpastian hukum di luar negeri hanya akan membawa kerugian.

Kita membutuhkan perdagangan yang adil (fair trade), bukan perdagangan yang dipaksakan dengan melanggar konstitusi. Pemerintah harus segera melakukan reevaluasi, melibatkan DPR, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun klausul yang menggadaikan kedaulatan data dan hukum Indonesia. Jangan sampai Indonesia menjadi pihak yang dirugikan dalam “permainan” dagang yang pondasi hukumnya sendiri belum rampung.

Penulis : Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H.,M.H (Dosen Bagian Hukum Bisnis dan Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mataram)

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Ponpes Darurat Kekerasan Seksual, Urgensi Pengawasan dan Perlindungan Santri
Piala Dunia, Memori Kolektif, dan Budaya Massa
Mengokohkan Fondasi Negara, Menagih Etika dalam Demokrasi Substansial
Bittersweet Program Makanan Bergizi Gratis
Ambisi Pajak, Penopang Kehidupan di Tengah Kerentanan Global
Menggugat Paradoks Ekstraktivisme: Ilusi Keadilan di Tengah Kebangkrutan Ekologis
Bukan Lagi “Pembantu”: Dimensi Kemanusiaan di Balik UU PPRT
Ironi Hibah APBD, Birokrasi Menjadi “Mentor” Korupsi Gerakan Mahasiswa

Lanjutan Narasi

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:35 WITA

Ponpes Darurat Kekerasan Seksual, Urgensi Pengawasan dan Perlindungan Santri

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:29 WITA

Piala Dunia, Memori Kolektif, dan Budaya Massa

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00 WITA

Mengokohkan Fondasi Negara, Menagih Etika dalam Demokrasi Substansial

Senin, 15 Juni 2026 - 19:41 WITA

Bittersweet Program Makanan Bergizi Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:30 WITA

Ambisi Pajak, Penopang Kehidupan di Tengah Kerentanan Global

Lensa Hari Ini

mantan Bupati Lalu Ahmad Zaini ditangkap KPK. Foto : Dok. Detik.com

Berita

OTT Bupati Lombok Barat, Ironi Alumni Retret Magelang

Rabu, 22 Jul 2026 - 19:11 WITA