MATARAM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merilis laporan terbaru mengenai pola pengeluaran untuk konsumsi penduduk berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.
Laporan dalam Volume 10 (2026) tersebut mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per kapita penduduk NTB dalam sebulan mencapai Rp1.402.118. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 9,79 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Maret 2024.
Di antara berbagai pos pengeluaran, konsumsi untuk rokok dan tembakau masih menduduki posisi yang sangat signifikan, bahkan mengalahkan anggaran untuk pemenuhan kebutuhan protein esensial.
Tren Pengeluaran Makanan: Makanan Jadi dan Beras Mendominasi
Secara umum, pergeseran pola konsumsi masyarakat NTB sangat dipengaruhi oleh faktor harga dan inflasi. Berikut adalah peta pengeluaran terbesar masyarakat pada kategori makanan:
-
Peringkat 1: Makanan dan Minuman Jadi
Menjadi pos pengeluaran terbesar dengan porsi 16,85 persen dari total pengeluaran, atau setara dengan Rp236.266 per bulan. Angka ini terus meningkat dibanding tahun 2023 dan 2024.
-
Peringkat 2: Padi-Padian (Beras)
Sebagai makanan pokok, pos ini mengambil porsi 8,06 persen pada tahun 2025 (Rp113.010). Angka ini sedikit menurun dibanding tahun 2024 yang sempat menyentuh 9,50 persen akibat dinamika harga pangan.
-
Peringkat 3: Rokok dan Tembakau
Kelompok ini menempati urutan ketiga tertinggi dalam kategori konsumsi makanan masyarakat NTB.
Sorotan Khusus: Konsumsi Rokok vs Pemenuhan Gizi
Meskipun berada di peringkat ketiga, alokasi anggaran masyarakat untuk rokok dan tembakau memicu perhatian khusus terkait prioritas belanja keluarga.
Statistik Kunci Rokok dan Tembakau (Maret 2025):
Rata-rata pengeluaran: Rp79.505 per kapita dalam sebulan.
Persentase total: 5,67 persen dari seluruh anggaran belanja bulanan.
Perbandingan: Nilai belanja rokok ini tercatat lebih besar dibandingkan pengeluaran masyarakat untuk membeli telur, susu, serta sumber protein hewani lainnya.
Secara tren tahunan, sebenarnya terdapat penurunan nominal belanja rokok sebesar 6,31 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai Rp80.526. Namun, secara keseluruhan, angka ini tetap mendominasi struktur pengeluaran rumah tangga.
Tantangan Pembangunan SDM di NTB
Tingginya porsi pengeluaran untuk rokok dibandingkan dengan komoditas pangan bergizi seperti telur dan susu menjadi indikator penting dalam pembangunan daerah. Keseimbangan antara belanja rokok dan pemenuhan gizi keluarga dinilai menjadi salah satu tantangan nyata bagi penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Kebiasaan buruk masyarakat mengonsumsi rokok menjadi tantangan nyata bagi pembangunan sumber daya manusia, terutama dalam mencukupi kebutuhan gizi agar anak-anak generasi bangsa dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal”, tulis laporan BPS.
Penulis : M. Adib Zata Ilmam, S.Sos., M.Sc
Editor : Redaksi Narasio






