MATARAM — Sorot Kampus Merah (Sorot Kamera) Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram (FHISIP UNRAM) sukses menggelar acara Seri Bedah Buku “Babad Alas” pada Selasa (19/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Prof. Zainal Asikin Lantai 3 Gedung A FHISIP UNRAM ini menghadirkan langsung sang penulis buku sekaligus Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Wamendagri RI), Dr. Bima Arya Sugiarto, S.IP., M.A, sebagai pemateri utama.
Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WITA tersebut dihadiri oleh Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini, jajaran pimpinan universitas, diantaranya Rektor UNRAM Prof. Dr. Sukardin, M.Pd., Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Prof. Dr. Sitti Hilyana selaku penanggap, Dekan FHISIP UNRAM Dr. Wira Pria Suhartana, S.H., M.H, para Wakil Dekan serta Ketua Program Studi lingkup FHISIP.
Hadir pula para dosen, peserta organisasi intra dan ekstra, mulai dari BEM, DPM, Unit Kegiatan Mahasiswa, Organisasi Paguyuban Wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa, HMI, GMNI, serta media. Jalannya diskusi dipandu secara dinamis oleh moderator Ayu Riska Amelia, M.H.
Kampus Adalah Laboratorium Kepemimpinan dan Ruang Bertumbuh
Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardin, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa forum bedah buku ini merupakan bentuk penegasan intelektual kampus. Menurutnya, melalui kegiatan ini, civitas akademika dapat membedah teori kepemimpinan yang disandingkan langsung dengan pengalaman riil di lapangan.

“Ketika menjadi pemimpin, kita perlu mengenal potensi wilayah kita. Bagi adik-adik mahasiswa, perguruan tinggi adalah ruang untuk bertumbuh,” ujar Prof. Sukardin.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyinggung dinamika sosial yang sempat viral belakangan ini mengenai pelarangan film Pesta Babi. Ia menegaskan sikap keterbukaan institusi terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi di lingkungan akademik.
“Kemarin juga sempat viral terkait dengan film Pesta Babi yang dilarang. Kami tidak melarang, itu semua aset negara dalam film tersebut. Kampus adalah laboratorium kepemimpinan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Sukardin berharap kehadiran perguruan tinggi dapat memberikan dampak nyata secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas. Saat ini, UNRAM memiliki kekuatan sumber daya manusia yang besar dengan 1.403 dosen dan 6.394 mahasiswa baru yang diterima UNRAM tahun akademik 2025/2026 yang pengelolaannya menggunakan sistem grade. Ia mencontohkan adanya program yang melibatkan 600 mahasiswa dan berharap pemerintah daerah, seperti bupati, dapat memberikan wilayah khusus untuk pengembangan lingkungan.
Ia juga menekankan pentingnya peran kepala daerah dalam mendorong anak muda membantu pihak kampus, sehingga mahasiswa yang memiliki beban ekonomi dapat terbantu melalui kolaborasi antara kampus dan pemerintah.
“Kami sangat senang atas kehadiran Bapak Wakil Menteri, sehingga ini menjadi laboratorium untuk kita terus belajar,” pungkas Rektor.
Filosofi ‘Babad Alas’ dan Titik Balik Pengalaman Bima Arya
Memasuki sesi pemaparan materi, moderator Ayu Riska Amelia menjelaskan bahwa buku Babad Alas menjadi ruang bagi Bima Arya untuk menceritakan potret utuh 10 tahun perjalanannya sebagai pemimpin, yang mencakup lembaran keberhasilan sekaligus kegagalan yang dialaminya.
Dr. Bima Arya memulai pemaparannya dengan merefleksikan fase kehidupannya. Ia menyebutkan sebuah pepatah bahwa kehidupan sejati seringkali baru dimulai ketika seseorang menginjak usia 40 tahun. Baginya, momen krusial itu datang di usia 38 tahun ketika ia memutuskan keluar dari zona nyaman untuk mendeklarasikan diri maju dalam pemilihan Walikota Bogor.
“Di usia 38 tahun saya mencalonkan diri sebagai Walikota Bogor. Saya mendeklarasikan diri, yang terjadi kemudian adalah masa-masa kampanye yang berat. Pertarungannya keras sekali. Akhirnya saya menang dengan selisih suara, atas kebaikan Allah mengizinkan saya, tapi setelah itu semua berubah,” kenang Bima Arya.
Filosofi judul buku Babad Alas sendiri diambil dari kisah pewayangan saat Pandawa Lima diberikan jatah wilayah hutan belantara, sementara faksi Kurawa menguasai wilayah-wilayah mapan lainnya. Dalam narasi tersebut, Yudistira menunggu di pinggir hutan, sementara Bima bergerak menghancurkan segala rintangan yang mengganggu.

Bima Arya menekankan bahwa dalam realitas kepemimpinan, keberanian saja tidak akan pernah cukup. “Ternyata nyali saja tidak cukup untuk membuka hutan, niat pun tidak cukup. Perlu adanya ideologi. Semuanya dimulai dengan ideologi yang ada nilai-nilainya. Hidup hanya sekali, harus memberikan arti,” tuturnya.
Komitmen Anti-Korupsi dan Keberpihakan pada Kebijakan Lokal
Wamendagri membagikan salah satu pengalaman integritas pertamanya saat baru menjabat sebagai Walikota. Kala itu, ia menerima pesan WhatsApp dari seorang warga yang mengaku diminta uang sebesar Rp40 juta yang diklaim diperuntukkan bagi Walikota.
Bima Arya langsung mengambil tindakan tegas dengan meminta pelapor menyerahkan uang tersebut, lalu ia datang langsung untuk menangkap oknum pelaku di tempat. Langkah clearance ini dilakukan demi membuktikan bahwa Walikota tidak menerima uang ilegal apa pun sekaligus menjadi bentuk perlawanan pertamanya terhadap praktik korupsi demi membuka pelayanan publik yang lebih berarti.
“Kemudian saya belajar, birokrasi harus hadir sebagai pelayanan yang memudahkan. Berbicara masalah ideologi, kita akan banyak terpengaruh oleh lingkungan dan nilai. Dan ketika menjadi pemimpin, kita dihadapkan dengan banyak pilihan,” jelasnya.
Bagi Bima Arya, memberikan dukungan penuh kepada mahasiswa dan masyarakat adalah bentuk ideologi yang wajib diperjuangkan. Ia mengibaratkan tanda tangan seorang pejabat publik adalah wujud dari arah keberpihakannya.
Salah satu kebijakan ideologis berbasis nilai yang pernah ia terapkan adalah mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Bogor untuk mengenakan pakaian produk lokal. Kebijakan ini ditargetkan langsung untuk menghidupkan sektor UMKM, pengusaha kecil, dan mengangkat sentimen local pride.
Tiga Strategi Utama dalam Buku ‘Babad Alas’
Bima Arya memaparkan bahwa setelah nilai ideologi ditetapkan, seorang pemimpin harus memiliki strategi matang untuk mengeksekusinya secara perlahan namun pasti. Dalam buku Babad Alas, strategi tersebut dirangkum ke dalam tiga poin utama:
- Mencicil Harapan Warga: Strategi ini diwujudkan melalui program nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan publik, seperti mengembalikan fungsi kota kepada para pejalan kaki dengan regulasi kesehatan dan kebersihan yang ketat.
- Merawat Dukungan: Kepemimpinan yang kuat memerlukan sokongan dari tiga elemen masyarakat, yaitu dukungan kelas menengah (seperti kelompok kampus dan emak-emak), dukungan akar rumput (diimplementasikan dengan rutin berkantor di kelurahan serta program kemah tenda walikota sebulan sekali untuk begadang mendengarkan aspirasi anak muda), serta dukungan dari level elit (termasuk Presiden dan sesama kepala daerah).
- Membangun Pasukan: Pemimpin harus mampu membentuk tim yang solid agar kinerja berjalan maksimal. Bima Arya mencontohkan taktiknya saat melantik pejabat PDAM (perusahaan air minum), di mana prosesi pelantikan sengaja dilakukan langsung di kawasan yang sedang mengalami krisis air bersih sebagai bentuk penguatan orientasi kerja. Strategi pembentukan pasukan ini terbukti mampu mengawal laju pertumbuhan ekonomi sepanjang periode 2013-2024 serta menguji kemampuan dalam memilih kepemimpinan (leadership).
Sesi bedah buku ditutup dengan tanggapan kritis dari Wakil Rektor 1 Bidang Akademik UNRAM, Prof. Dr. Sitti Hilyana. Dalam pandangannya, esensi dari kepemimpinan sejati terletak pada kebijaksanaan dalam menimbang momentum kapan harus maju bertarung dan kapan harus pulang membawa kemenangan.
Prof. Sitti Hilyana menilai gagasan dalam buku ini sangat membantu jika terus direalisasikan dalam dunia nyata. Namun, ia juga memberikan catatan kritis bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin adalah menjembatani jarak antara nilai ideal dengan kenyataan di lapangan.
“Saya menganggap idealisme tidak selalu seimbang dengan realitas sosial. Sedahsyat apa pun tanpa adanya strategi yang matang, semuanya akan sia-sia,” urai Prof. Sitti Hilyana.
Ia menyimpulkan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin pada akhirnya tidak hanya diukur dari bagaimana ia mengambil keputusan-keputusan taktis, melainkan bagaimana keputusan tersebut mampu menjadi cerminan utuh dari nilai dan citra kepemimpinannya secara berkelanjutan.



Penulis : Aminah, S.Pd., M.Pd.
Editor : Redaksi Narasio






