Kisah Deni Dea Lipa: Orang tua berpisah sejak balita, alami perundungan hingga putus sekolah

- Redaksi

Selasa, 11 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deni Apriadi Rahman (23) alias Dea Lipa, orang tuanya berpisah sejak balita, kerap alami perundungan hingga putus sekolah. Ia mengalami gangguan pendengaran. Foto: Dok. Istimewa

i

Deni Apriadi Rahman (23) alias Dea Lipa, orang tuanya berpisah sejak balita, kerap alami perundungan hingga putus sekolah. Ia mengalami gangguan pendengaran. Foto: Dok. Istimewa

Mataram, Narasio.comDeni Apriadi Rahman, laki-laki (23) asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal dengan nama Dea Lipa, viral di jagad maya usai fotonya disebar dan terus dibagikan oleh netizen. Penampilannya menawan yang terlihat sebagai perempuan, sontak mendapat hujatan di berbagai platform media sosial. Facebook, Instagram hingga TikTok.

Kondisi itu, membuat Deni tertekan dan sampai ingin bunuh diri. Keluarganya terus mendampingi, di tengah arus publik yang terus menyudutkan dan menghakiminya.

Kisah Deni Kecil

Rahmayati, yang ditemui media ini menceritakan sosok Deni. Di akhir, ia matanya berkaca, meneteskan air mata dikala mengungkap sosok Deni yang hidup tanpa pengasuhan orang tua, dan kini kehilangan pekerjaan.

“hidup tanpa pengasuhan kedua orang tuanya yang berpisah sejak ia balita,” ujarnya.

Deni, juga mengalami gangguan pendengaran. Ia menggunakan alat bantu dengar.

“Dia penyintas disabilitas kekurangan fungsi pendengaran”, ceritanya.

Deni mengeyam pendidikan sampai dengan tamat Sekolah Dasar (SD). Bukannya tidak mau melanjutkan ke bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, karena kerap mendapatkan perundungan ia memutuskan keluar.

“Tidak melanjutkan ke bangku SMP karena Deni pernah merasa trauma dengan perundungan”.

Menurutnya sekarang Deni dalam kondisi depresi karena komentar dan hujatan ditambah ia harus kehilangan pekerjaan.

“Dia membatalkan jadwal rias dengan kliennya. Bukan hanya dia yang kasian tapi orang yang ikut dan bersama dia,” tutupnya.

Keterampilan Rias

Saat ditemui Senin (10/11/2025), Deni enggan memberikan tanggapan semua secara langsung, karena kondisinya yang tertekan, beberapa jawaban ia berikan tertuliis dalam catatan.

“Saat ini saya bekerja sebagai MUA (Make Up Artist). Tata rias wajah pengantin,” katanya.

Ia ungkapkan, keterampilan tata rias dipelajari secara otodidak.

“Dulu saya sempat menjadi asisten MUA yang lebih senior, sampai akhirnya memutuskan untuk mandiri,” ceritanya.

Kini ia memutuskan untuk menadiri. Ia juga merekrut beberapa asisten tetap dan mitra seperti jasa fotografer dan event organizer dekorasi.

Pekerjaan Hilang

Rahmayati, ikut berkomentar atas kasusnya yang viral sehingga berpengaruh terhadap pekerjaannya.

“yang ikut dia kerja jadinya tidak dapat penghasilan, karena dia harus membatalkan,” sesalnya.

Deni, mengakui jadwal janji pekerjaan untuk merias pengantian dibatalkan karena kejadian viral ini menimpanya.

“Saya merasa shock dan terpukul. Pembatalan oleh saya bukan oleh klien, karena mereka cukup paham kondisi sekarang. Mohon maaf dan terima kasih untuk pengertian klien saya,” ungkapnya.

Ia menyesali atas pembatalan yang membuatnya mengalami kerugian material, begitu juga dengan asisten rias, asisten hena tangan dan fotografer yang bekerja satu tim dengannya,

“pekerjaan dan penghasilan kami tidak ada”, sambungnya.

Fitnah hingga Caci Maki

Deni mengatakan hal terberatnya menerima dampak dari fitnah, caci maki dan perundungan yang kembali ia terima.

“perundungan yang menyebabkan saya benar-benar depresi,” ungkapnya.

Ia menceritakan postingan berawal dari salah satu akun Facebook yang kemudian disebar. Tak berhenti disitu, foto maupun kalimat menghakimi terus disebar kesekian kali.

“saya tidak kenal dengan orangnya dan tidak punya masalah. Tapi foto dan kalimat tersebar yang memicu komentar netizen”, ungkapnya.

Baca: Viral Laki-Laki Berhijab Glowing, Deni Alias Dea Lipa beri Klarifikasi

Bahkan ada kalimat menyerukan boikot dan mengambil narasi seolah main hakim sendiri.

“Ada di postingannya ajakan boikot. Ini tambah buat saya semakin tertekan, disebar dan ramai di kolom komentar”, bebernya.

Ia menuturkan bahwa harapan orang-orang agar ia berubah menjadi lebih baik, justru merasa terancam dan dirugikan dari peristiwa ini.

“banyak cerita yang berkembang menjadi fitnah, saya tidak melakukan, tapi komentar terhadap diri saya seoalah semuanya benar,” sesalnya.

Ia sangat menyesalkan berbagai tuduhan seperti ia pernah bertunangan sampai pada tuduhan mengidap penyakit HIV.

Harap Setitik Cahaya

“Saya sebenarnya merasa tidak perlu melakukan pembuktian apapun pada mereka yang menghakimi saya. Tapi demi menghargai keluarga dan menghentikan tuduhan dan perundungan, saya berharap ada keadilan melihat saya sebagai manusia,” urainya.

Deni juga menyayangkan berbagai cerita yang berkembang dipenuhi bumbu-bumbu, seolah menyudutkan dirinya tanpa diberi kesempatan untuk menjawab.

“Sedih membaca banyak komentar yang tidak tahu apa-apa terhadap perjuangan hidup saya”, lanjutnya.

Ia pun menyarankan kepada pihak yang dirugikan untuk menggunakan saluran hukum agar tidak ada fitnah dan ada fakta yang berimbang.

“lebih baik laporkan saya kalau langsung dituduh dan terus berkembang, menggelinding menjadi sebuah fitnah tidak berdasar.”

Deni mengungkapkan harapannya, bahwa ada setitik cahaya agar ia dan orang-orang yang bernasib sama diperlakukan sebagai manusia.

“Ada cara yang lebij bijak, lebih baik untuk merangkul kami. Sebab kita sama-sama manusia yang lahir dari rahim seorang ibu,” tutupnya.

Penulis : Hamzah Fansuri Hidayat, S.H.

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Workshop Pelestarian Mangrove, Strategi Mitigasi Iklim dan Penguatan Ekonomi Pesisir NTB
Perjanjian Dagang ART Indonesia – Amerika Serikat Ancaman Bagi Kedaulatan dan Kepentingan Nasional
LPW NTB Desak Reformasi Total Polri: Buntut Penangkapan Kapolres Bima Kota Terkait Narkoba
Sosialisasi KPU Lobar, Pendidikan Segmen Pemilih Perempuan
Diskusi KUHAP Baru, Pakar Hukum Unram Soroti Perluasan Alat Bukti dan Potensi Kesewenang-wenangan
Aktivis Hukum Bongkar Bobrok Penegakan Hukum: Ribuan Laporan “Hilang”, Aparat Kebal Sanksi Meski Salah Tangkap
Menuju Regulasi Berkeadilan, Bedah Naskah Akademik Raperda Perlindungan Petani Tembakau NTB
Ketua Lab Hukum Unram Soroti “Fleksibilitas” KUHP Baru: Waspada Ruang Gelap di Tahap Penyelidikan

Lanjutan Narasi

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:30 WITA

Workshop Pelestarian Mangrove, Strategi Mitigasi Iklim dan Penguatan Ekonomi Pesisir NTB

Kamis, 26 Februari 2026 - 01:42 WITA

Perjanjian Dagang ART Indonesia – Amerika Serikat Ancaman Bagi Kedaulatan dan Kepentingan Nasional

Minggu, 22 Februari 2026 - 10:00 WITA

LPW NTB Desak Reformasi Total Polri: Buntut Penangkapan Kapolres Bima Kota Terkait Narkoba

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:34 WITA

Diskusi KUHAP Baru, Pakar Hukum Unram Soroti Perluasan Alat Bukti dan Potensi Kesewenang-wenangan

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:00 WITA

Aktivis Hukum Bongkar Bobrok Penegakan Hukum: Ribuan Laporan “Hilang”, Aparat Kebal Sanksi Meski Salah Tangkap

Lensa Hari Ini

Aksi Demonstrasi Jilid 2 oleh LPW NTB dan koalisi organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil (KOMPAK) Tahun 2022 di Mapolda NTB menuntut pengusutan kematian Muardin dan Reformasi Polri. Foto: Dokumen LPW NTB

Opini

Erosi Kepercayaan terhadap Kepolisian dan Pengadilan Publik

Selasa, 24 Feb 2026 - 10:00 WITA