Mataram, Narasio.com – Deni Apriadi Rahman, laki-laki (23) asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal dengan nama Dea Lipa, viral di jagad maya usai fotonya disebar dan terus dibagikan oleh netizen. Penampilannya menawan yang terlihat sebagai perempuan, sontak mendapat hujatan di berbagai platform media sosial. Facebook, Instagram hingga TikTok.
Kondisi itu, membuat Deni tertekan dan sampai ingin bunuh diri. Keluarganya terus mendampingi, di tengah arus publik yang terus menyudutkan dan menghakiminya.
Kisah Deni Kecil
Rahmayati, yang ditemui media ini menceritakan sosok Deni. Di akhir, ia matanya berkaca, meneteskan air mata dikala mengungkap sosok Deni yang hidup tanpa pengasuhan orang tua, dan kini kehilangan pekerjaan.
“hidup tanpa pengasuhan kedua orang tuanya yang berpisah sejak ia balita,” ujarnya.
Deni, juga mengalami gangguan pendengaran. Ia menggunakan alat bantu dengar.
“Dia penyintas disabilitas kekurangan fungsi pendengaran”, ceritanya.
Deni mengeyam pendidikan sampai dengan tamat Sekolah Dasar (SD). Bukannya tidak mau melanjutkan ke bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, karena kerap mendapatkan perundungan ia memutuskan keluar.
“Tidak melanjutkan ke bangku SMP karena Deni pernah merasa trauma dengan perundungan”.
Menurutnya sekarang Deni dalam kondisi depresi karena komentar dan hujatan ditambah ia harus kehilangan pekerjaan.
“Dia membatalkan jadwal rias dengan kliennya. Bukan hanya dia yang kasian tapi orang yang ikut dan bersama dia,” tutupnya.
Keterampilan Rias
Saat ditemui Senin (10/11/2025), Deni enggan memberikan tanggapan semua secara langsung, karena kondisinya yang tertekan, beberapa jawaban ia berikan tertuliis dalam catatan.
“Saat ini saya bekerja sebagai MUA (Make Up Artist). Tata rias wajah pengantin,” katanya.
Ia ungkapkan, keterampilan tata rias dipelajari secara otodidak.
“Dulu saya sempat menjadi asisten MUA yang lebih senior, sampai akhirnya memutuskan untuk mandiri,” ceritanya.
Kini ia memutuskan untuk menadiri. Ia juga merekrut beberapa asisten tetap dan mitra seperti jasa fotografer dan event organizer dekorasi.
Pekerjaan Hilang
Rahmayati, ikut berkomentar atas kasusnya yang viral sehingga berpengaruh terhadap pekerjaannya.
“yang ikut dia kerja jadinya tidak dapat penghasilan, karena dia harus membatalkan,” sesalnya.
Deni, mengakui jadwal janji pekerjaan untuk merias pengantian dibatalkan karena kejadian viral ini menimpanya.
“Saya merasa shock dan terpukul. Pembatalan oleh saya bukan oleh klien, karena mereka cukup paham kondisi sekarang. Mohon maaf dan terima kasih untuk pengertian klien saya,” ungkapnya.
Ia menyesali atas pembatalan yang membuatnya mengalami kerugian material, begitu juga dengan asisten rias, asisten hena tangan dan fotografer yang bekerja satu tim dengannya,
“pekerjaan dan penghasilan kami tidak ada”, sambungnya.
Fitnah hingga Caci Maki
Deni mengatakan hal terberatnya menerima dampak dari fitnah, caci maki dan perundungan yang kembali ia terima.
“perundungan yang menyebabkan saya benar-benar depresi,” ungkapnya.
Ia menceritakan postingan berawal dari salah satu akun Facebook yang kemudian disebar. Tak berhenti disitu, foto maupun kalimat menghakimi terus disebar kesekian kali.
“saya tidak kenal dengan orangnya dan tidak punya masalah. Tapi foto dan kalimat tersebar yang memicu komentar netizen”, ungkapnya.
Baca: Viral Laki-Laki Berhijab Glowing, Deni Alias Dea Lipa beri Klarifikasi
Bahkan ada kalimat menyerukan boikot dan mengambil narasi seolah main hakim sendiri.
“Ada di postingannya ajakan boikot. Ini tambah buat saya semakin tertekan, disebar dan ramai di kolom komentar”, bebernya.
Ia menuturkan bahwa harapan orang-orang agar ia berubah menjadi lebih baik, justru merasa terancam dan dirugikan dari peristiwa ini.
“banyak cerita yang berkembang menjadi fitnah, saya tidak melakukan, tapi komentar terhadap diri saya seoalah semuanya benar,” sesalnya.
Ia sangat menyesalkan berbagai tuduhan seperti ia pernah bertunangan sampai pada tuduhan mengidap penyakit HIV.
Harap Setitik Cahaya
“Saya sebenarnya merasa tidak perlu melakukan pembuktian apapun pada mereka yang menghakimi saya. Tapi demi menghargai keluarga dan menghentikan tuduhan dan perundungan, saya berharap ada keadilan melihat saya sebagai manusia,” urainya.
Deni juga menyayangkan berbagai cerita yang berkembang dipenuhi bumbu-bumbu, seolah menyudutkan dirinya tanpa diberi kesempatan untuk menjawab.
“Sedih membaca banyak komentar yang tidak tahu apa-apa terhadap perjuangan hidup saya”, lanjutnya.
Ia pun menyarankan kepada pihak yang dirugikan untuk menggunakan saluran hukum agar tidak ada fitnah dan ada fakta yang berimbang.
“lebih baik laporkan saya kalau langsung dituduh dan terus berkembang, menggelinding menjadi sebuah fitnah tidak berdasar.”
Deni mengungkapkan harapannya, bahwa ada setitik cahaya agar ia dan orang-orang yang bernasib sama diperlakukan sebagai manusia.
“Ada cara yang lebij bijak, lebih baik untuk merangkul kami. Sebab kita sama-sama manusia yang lahir dari rahim seorang ibu,” tutupnya.
Penulis : Hamzah Fansuri Hidayat, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






