MATARAM — Kegiatan Konsolidasi dan Bedah Buku “Gerakan Bongkar Bandar” dalam jerat hukum bertajuk “Bedah Buku Badai di Tengah Kepungan Kartel Narkoba” sukses digelar pada Minggu (07/06/2026). Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 16.00 Wita ini bertempat di Ruang Tumbuh Merdeka.
Hadir sebagai salah satu pemateri utama, Yuli S. Komalasari selaku Founder Bale Para. Dalam pemaparannya, ia memotret realitas mengenai penetrasi narkoba yang kian masif hingga ke tingkat desa, sekaligus menyoroti rapuhnya benteng perlindungan keluarga saat ini.
Kerentanan Remaja Desa Terhadap Jerat Narkoba
Dalam pengalamannya, Yuli memaparkan fakta miris mengenai bagaimana narkoba kini begitu mudah diakses oleh generasi muda di wilayahnya. Keberadaan barang terlarang tersebut bahkan telah bergeser menjadi komoditas yang dinilai biasa oleh sebagian kalangan remaja.
“Rilis dari BNN provinsi, desa saya tertinggi kasus narkobanya. Beberapa anak yang terindikasi narkoba suka menawarkan barang-barang berharga dengan harga murah ke kami. Motor, HP, nah di HP nya masih ada percakapan transaksi jual beli dengan kode-kode. Ada foto anak-anak perempuan bugil juga,” ungkap Yuli.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan dampak sosial yang sangat memprihatinkan akibat ketergantungan zat adiktif ini, yang turut memicu degradasi dan degradasi moral di kalangan remaja perempuan.
“Ada kasus anak-anak yang menjual teman perempuannya demi membeli narkoba dan mereka meyakini kalau pakai narkoba mereka tidak akan hamil,” tambahnya.
Faktor Kemiskinan dan Melemahnya Ikatan Keluarga
Selain memaparkan fakta di lapangan, Yuli juga menganalisis penyebab mengapa beredarnya narkoba begitu mudah memapar masyarakat. Menurutnya, ada korelasi kuat antara tekanan ekonomi sistemik dengan kelonggaran pengawasan di dalam institusi keluarga.
“Kondisi sekarang ikatan dalam keluarga tu memang lemah, kita ini sengaja dimiskinkan oleh negara hingga sibuk mencari nafkah dan lupa mendidik anak-anak, lupa menjaga ikatan dalam keluarga,” jelas Yuli.
Kendati demikian, Yuli memberikan catatan optimis bahwa intervensi lingkungan dan penyediaan aktivitas positif mampu menjadi tindakan yang efektif bagi kelompok rentan.
“Tempat saya jadi tempat berkumpulnya anak-anak remaja. Beberapa anak sudah lepas dari keluarganya, mereka aman, aktif ikut kegiatan, sampai kami carikan pekerjaan,” pungkasnya.
Harapan pada Advokasi “Badai NTB”
Sesi bedah buku ini juga menjadi momentum konsolidasi gerakan sipil untuk memperkuat menyuarakan isu pemberantasan narkoba secara konsisten. Yuli menilai kehadiran figur gerakan seperti Badai NTB merepresentasikan keresahan sekaligus tumpuan harapan masyarakat luas.
“Ketika muncul Badai NTB, apa yang menjadi keresahan kami sejak lama seperti menemukan harapan baru,” kata Yuli.
Di akhir pemaparannya, ia mengajak seluruh elemen yang hadir dalam konsolidasi tersebut untuk menyusun langkah-langkah strategi bersama agar isu krusial ini terus menjadi agenda utama dan tidak dikesampingkan oleh publik maupun pemangku kebijakan.
“Akhirnya issue nya berhasil mereka geser dari narkoba menjadi persoalannya Badai sebagai person. Sekarang PR kita adalah bagaimana caranya kita sepakati supaya isu narkoba ini tidak lagi dikerdilkan,” tegas Yuli menutup pernyataannya.
Penulis : Muliatun Anisa
Editor : Redaksi Narasio






