MATARAM — Diskusi mendalam mengenai darurat narkoba digelar dalam acara Konsolidasi dan Bedah Buku Gerakan Bongkar Bandar di Ruang Tumbuh Merdeka, Minggu (7/6/2026). Diskusi yang berlangsung pukul 13.00 hingga 16.00 Wita ini membedah karya berjudul “Badai di Tengah Kepungan Kartel Narkoba” . Acara ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat untuk merumuskan langkah nyata memerangi peredaran gelap narkoba di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hadir sebagai pemateri, Aktivis Perempuan Nurjanah, menyoroti realitas lapangan terkait advokasi tantangan dan keterlibatan berbagai pihak. Ia menekankan perlunya gerakan berbasis komunitas untuk mengungkap jaringan ini hingga ke akarnya.
Tantangan Aktivis Perempuan dan Keterlibatan Oknum Institusi
Dalam menyampaikannya, Nurjanah menggarisbawahi beratnya perjuangan kaum perempuan dalam menyuarakan kebenaran di ruang publik. Menurutnya, tantangan tidak hanya datang dari luar, melainkan juga dari konstruksi sosial yang ada.
“Perempuan yang bersuara sering menahan tantangan budaya dan dipandang sebelah mata,” ujar Nurjanah.
Lebih lanjut, ia tidak menampik adanya benteng kokoh yang melindungi peredaran barang haram tersebut, termasuk keterlibatan pihak-pihak yang seharusnya menjadi penegak hukum. Nurjanah secara terbuka menyatakan adanya keterlibatan oknum institusi dalam peredaran narkoba. Oleh karena itu, gerakan yang dilakukan Badai NTB perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat guna mengawal penegakan hukum yang bersih.
Masalah Narkoba dan Pentingnya Gerakan Ibu-Ibu di Kampung
Menurut Nurjanah, penanganan kasus narkoba tidak boleh hanya menyasar hilir, melainkan harus menyentuh akar permasalahan ekonomi dan sosial. Ia menilai bahwa persoalan narkoba tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan kemiskinan dan masalah sosial lainnya.
Solusi konkretnya, Nurjanah menekankan bahwa pencegahan narkoba harus dimulai dari lingkungan masyarakat paling bawah. Ia melihat potensi besar pada kelompok perempuan di tingkat akar rumput untuk menjadi garda terdepan dalam melakukan pengawasan lingkungan.
“Gerakan melawan narkoba seharusnya dibangun bersama ibu-ibu di tingkat kampung,” tambahnya. Nurjanah meyakini bahwa masyarakat yang kritis dan produktif dapat membantu meringankan beban negara dalam mengatasi krisis sosial ini.
Desakan kepada Pemerintah Daerah
Menutup pemaparannya, Nurjanah menyampaikan rekomendasi taktis melalui kolaborasi sipil yang tengah berjalan. Ia berharap gerakan ini dapat melahirkan sistem pengawasan yang aman dan diakses langsung oleh warga di tingkat desa atau kelurahan.
“Saya berharap melalui Koalisi BERANI dapat terbentuk ruang pengaduan masyarakat di tingkat kampung untuk melawan narkoba,” tegasnya.
Ia juga memberikan kritik tajam kepada jajaran pemerintah daerah di NTB yang terkesan lamban dan kurang progresif dalam merespons darurat narkotika di wilayahnya. Nurjanah meminta komitmen nyata dari para pemangku kebijakan agar tidak abai terhadap masa depan generasi muda.
“Pemerintahan Kabupaten/Kota bima, Dompu, dan NTB jangan menutup mata pada persoalan narkoba yang dihadapi kita sekarang ini,” tutupnya.
Penulis : Muliatun Anisa
Editor : Redaksi Narasio






