Dosen Komunikasi Unram Ingatkan Bahaya “Energi Politik” di Balik Pasal KUHP Nasional: Netizen Rentan Jadi Korban

- Redaksi

Minggu, 25 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Ilmu Komunikasi Aurelius Rofinus Lolong Teluma, S.S., M.A., memperingatkan adanya ketimpangan relasi kuasa yang berpotensi menjadikan pasal-pasal dalam KUHP sebagai alat pembungkam kritik, terutama bagi warganet (netizen), dalam diskusi Sorot Kamera Edisi ke-13 yang bertajuk

i

Dosen Ilmu Komunikasi Aurelius Rofinus Lolong Teluma, S.S., M.A., memperingatkan adanya ketimpangan relasi kuasa yang berpotensi menjadikan pasal-pasal dalam KUHP sebagai alat pembungkam kritik, terutama bagi warganet (netizen), dalam diskusi Sorot Kamera Edisi ke-13 yang bertajuk "KUHP Nasional: Antara Instrumen Perlindungan & Ancaman Kebebasan Berpendapat", di Ruang Video Conference FHISIP Unram, Kamis (22/1/2026).

MATARAM – Penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional terus menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mataram (Unram), Aurelius Rofinus Lolong Teluma, S.S., M.A., memperingatkan adanya ketimpangan relasi kuasa yang berpotensi menjadikan pasal-pasal dalam KUHP sebagai alat pembungkam kritik, terutama bagi warganet (netizen).

Peringatan tersebut disampaikan Aurelius dalam diskusi Sorot Kamera Edisi ke-13 yang bertajuk “KUHP Nasional: Antara Instrumen Perlindungan & Ancaman Kebebasan Berpendapat”, bertempat di Ruang Video Conference FHISIP Unram, Kamis (22/1/2026).

Menurut Aurelius, persoalan utama KUHP Nasional bukan sekadar pada teks hukumnya, melainkan pada konteks penerapannya di lapangan.

“Secara normatif, pasal-pasal tersebut mungkin terlihat tidak mengancam kebebasan berpendapat. Namun, secara faktual, terdapat perbedaan relasi kuasa yang sangat jelas. Inilah yang memicu resistensi dan kekhawatiran pegiat demokrasi,” tegas Aurelius di hadapan peserta diskusi.

Ketimpangan “Energi Politik”

Aurelius menyoroti konsep “energi politik” yang muncul dari pasal-pasal kontroversial tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak yang memiliki kekuasaan (power) lebih besar, secara otomatis memiliki energi yang lebih besar untuk memanfaatkan pasal-pasal itu guna menekan lawan bicaranya.

Sebaliknya, masyarakat sipil atau pihak yang lemah justru terbebani oleh ketakutan. Hal ini dinilai berbahaya karena kemerdekaan berpendapat merupakan syarat utama (prasyarat mutlak) bagi jalannya demokrasi.

“Jika dilihat secara politis, kemampuan setiap pihak memang berbeda. Wajar jika muncul ketakutan, karena pasal ini berpotensi memberikan energi politik berlebih kepada penguasa, sementara memperlemah posisi tawar masyarakat,” jelasnya.

Pergeseran Aktor Demokrasi: Dari Pers ke Netizen

Dalam paparannya, Aurelius juga memberikan pandangan edukatif mengenai pergeseran lanskap komunikasi di era digital. Ia menekankan bahwa aktor utama demokratisasi saat ini tidak lagi didominasi oleh institusi pers konvensional, melainkan telah beralih ke tangan individu, yakni netizen dan tokoh-tokoh media sosial.

Pergeseran ini membuat risiko hukum menjadi lebih personal. Netizen yang bergerak secara individu tidak memiliki perlindungan institusional layaknya wartawan, sehingga lebih rentan terjerat pidana.

“Kegamangan yang muncul saat ini bukan semata-mata karena ancaman pidana penjara, tetapi karena terciptanya ‘politik wacana’ yang membuat orang takut berbicara,” ungkap Aurelius.

Kondisi ini dikhawatirkan akan mematikan ruang diskusi publik. Padahal, misi demokratisasi seharusnya memfasilitasi kebebasan berdiskusi dan berpendapat, baik secara verbal maupun non-verbal.

Menutup pandangannya, Aurelius menegaskan bahwa meskipun secara normatif aturan ini diklaim aman, potensi penghambatan kebebasan berpendapat dalam praktik nyata sangat besar dan harus menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan.

Penulis : Yunita, S.H.

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Hoaks Serangan Keluarga Korban Main Hakim Sendiri di Lombok, Polisi Didesak Percepat Proses Penyidikan
Pertemuan Bilateral di Paris: Presiden Prabowo dan Macron Perkuat Kemitraan Strategis RI-Prancis
Mengenal Sejarah di Museum Asi Mbojo, KPAD ajak Anak Didik dan Orang Tua
Momen Qurban, Rukun Keluarga Bima Lombok tekankan Keharmonisan Antargenerasi
Konsumsi Rokok di NTB Geser Anggaran Protein, Berada di Posisi Tiga Besar Pengeluaran Warga
Pesta Babi, Konflik, dan Mimpi Reformasi Agraria
Pola Konsumsi Bergeser akibat Inflasi, Ketahanan Pangan Perdesaan NTB di Bawah Perkotaan
Dikpora NTB Ungkap Strategi Kurikulum Kerja Hingga Mitigasi Kekerasan Sekolah

Lanjutan Narasi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 19:15 WITA

Hoaks Serangan Keluarga Korban Main Hakim Sendiri di Lombok, Polisi Didesak Percepat Proses Penyidikan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:44 WITA

Pertemuan Bilateral di Paris: Presiden Prabowo dan Macron Perkuat Kemitraan Strategis RI-Prancis

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:48 WITA

Mengenal Sejarah di Museum Asi Mbojo, KPAD ajak Anak Didik dan Orang Tua

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:00 WITA

Momen Qurban, Rukun Keluarga Bima Lombok tekankan Keharmonisan Antargenerasi

Senin, 25 Mei 2026 - 07:01 WITA

Konsumsi Rokok di NTB Geser Anggaran Protein, Berada di Posisi Tiga Besar Pengeluaran Warga

Lensa Hari Ini