Menolak Konstitusi dalam Kotak Kaca: Belajar dari “We the People” Karya Jill Lepore

- Redaksi

Selasa, 18 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku We the People: A History of the U.S. Constitution, by Jill Lepore (Liveright). Ilustrasi: Gemini AI

i

Buku We the People: A History of the U.S. Constitution, by Jill Lepore (Liveright). Ilustrasi: Gemini AI

Ada sebuah kecenderungan berbahaya ketika kita membicarakan sebuah konstitusi: memperlakukannya seperti benda keramat di dalam kotak kaca. Ia dipuja, dikutip dalam setiap perdebatan, tetapi diharamkan untuk disentuh atau diubah. Di Amerika Serikat, kecenderungan ini mengkristal dalam doktrin Originalism—sebuah paham hukum yang bersukukuh bahwa konstitusi harus ditafsirkan persis seperti maksud asli para founding fathers pada abad ke-18.

Namun, lewat karya monumentalnya yang meraih Pulitzer Prize, We the People: A History of the U.S. Constitution, sejarawan Harvard Jill Lepore menghantam keras ilusi tersebut. Lepore menyodorkan tesis yang provokatif sekaligus menyegarkan: Konstitusi bukanlah prasasti mati, melainkan sebuah mesin yang sejak awal dirancang untuk terus “diutak-atik” (tinkering) oleh setiap generasi.

Buku setebal 720 halaman ini menjadi cermin retak bagi negara mana pun yang sedang bergulat dengan hukum tata negara. Lepore mengingatkan kita bahwa ketika sebuah bangsa menutup pintu bagi pembaruan formal konstitusi, mereka sedang mengundang kelumpuhan demokrasi.

Jebakan “Originalism” dan Cacat Bawaan yang Diabaikan

Bagi Lepore, mengurung tafsir hukum pada abad ke-18 adalah bentuk kenaifan sejarah. Konstitusi AS pada masa pembentukannya memuat cacat bawaan yang nyata—mulai dari legalisasi perbudakan hingga pengabaian hak-hak perempuan. Jika bangsa Amerika hanya terpaku pada “maksud asli” para pendirinya, maka keadilan bagi kelompok terpinggirkan tidak akan pernah terwujud.

Melalui The Amendments Project di Harvard, Lepore melacak ribuan proposal amandemen yang pernah diajukan sepanjang sejarah. Narasi yang ia bangun memperlihatkan bahwa sejarah konstitusi bukanlah cerita tentang kejeniusan para hakim agung di ruang sidang, melainkan tentang keringat dan darah gerakan rakyat di jalanan yang menuntut hak sipil, kesetaraan gender, hingga perlindungan lingkungan. Amandemen adalah katup penyelamat demokrasi yang memungkinkan perubahan mendasar terjadi tanpa perlu meruntuhkan negara melalui revolusi fisik.

Ketika Jalur Amandemen Mati, Politisasi Peradilan Lahir

Bagian paling krusial—dan paling relevan bagi lanskap hukum modern saat ini—adalah apa yang disebut Lepore sebagai The Troubling Halt (Kebuntuan yang Merisaukan). Di era modern, polarisasi politik yang ekstrem telah mematikan fungsi amandemen formal. Konstitusi AS menjadi terlalu kaku dan hampir mustahil untuk diubah demi merespons tantangan zaman seperti kontrol senjata, imigrasi, atau hak atas privasi digital.

Dampaknya sangat fatal. Ketika jalur amandemen formal mati, pertempuran politik bergeser secara brutal ke institusi peradilan. Kekuasaan untuk mengubah arah hukum bangsa tidak lagi berada di tangan rakyat melalui wakil-wakilnya, melainkan dimonopoli oleh Mahkamah Agung (Supreme Court).

Siapa pun yang menguasai proses pengangkatan hakim agung, merekalah yang memonopoli tafsir konstitusi. Akibatnya, lembaga peradilan yang seharusnya menjadi wasit yang netral terseret menjadi arena gladiator politik. Putusan hukum tidak lagi dibaca sebagai keadilan objektif, melainkan sebagai kemenangan politik faksi tertentu.

Catatan untuk Kita: Konstitusi yang Hidup

Membaca We the People adalah sebuah refleksi mendalam mengenai constitutional design. Pesan moral dari buku Lepore sangat klop untuk kita renungkan: sebuah konstitusi yang terlalu kaku dan sakral secara berlebihan justru menyimpan bom waktu. Ketika mekanisme formal untuk memperbaiki cacat hukum tersumbat oleh ego politik, maka stabilitas makro sebuah negara dipertaruhkan.

Konstitusi harus diletakkan pada khitahnya sebagai dokumen yang hidup (living constitution). Ia harus menjadi ruang deliberatif yang inklusif, tempat di mana generasi hari ini—bukan generasi abad lampau—menentukan nasib hukumnya sendiri. Menjaga konstitusi bukan berarti melarangnya untuk diubah, melainkan memastikan bahwa ia tetap relevan untuk melindungi hak-hak seluruh rakyat, We the People, hari ini dan di masa depan.

Penulis : Taufan, S.H., M.H

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Sanksi Denda dan Pemulihan Lingkungan di Indonesia Hanya Jadi Macan Kertas
Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan
Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan
Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik
Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?
Sorot Kamera Unram dan KOHATI HMI Mataram Kupas Kekerasan Seksual di Pesantren, Desak Pencegahan dan Sistem Perlindungan Korban
Mengurai Relasi Kuasa dan Manipulasi Agama: Mengapa Kekerasan Seksual di Pesantren Sulit Terungkap?
Covered with Night, Kolonialisme dan Pelajaran Keadilan Adat bagi Indonesia

Lanjutan Narasi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:05 WITA

Sanksi Denda dan Pemulihan Lingkungan di Indonesia Hanya Jadi Macan Kertas

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:42 WITA

Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:30 WITA

Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:00 WITA

Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:30 WITA

Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?

Lensa Hari Ini