Apakah kebebasan selalu berarti keadilan?
Pertanyaan itu menjadi jantung dari buku Freedom’s Dominion: A Saga of White Resistance to Federal Power (Basic Books, 2022) karya sejarawan Jefferson Cowie, pemenang Pulitzer Prize for History 2023.
Lewat riset mendalam dan penulisan yang memikat, Cowie menelusuri sejarah panjang Barbour County, Alabama, sebagai miniatur pertarungan ideologis Amerika: antara kebebasan dan kekuasaan negara, antara hak individu dan keadilan sosial, antara kebanggaan kulit putih dan perjuangan hak sipil.
Kebebasan yang Dipelintir
Cowie membuka bukunya dengan kisah yang tampak sederhana namun sarat ironi.
Di Barbour County — sebuah wilayah pedesaan di Alabama yang penuh sejarah — kata “freedom” (kebebasan) selalu diagungkan. Namun, “kebebasan” di sana bukan berarti kebebasan bagi semua, melainkan hak istimewa bagi segelintir orang.
Sejak abad ke-19, para pemilik tanah kulit putih menggunakan istilah “freedom” untuk menolak intervensi pemerintah federal — baik dalam urusan pajak, regulasi, maupun terutama, upaya negara untuk menjamin hak-hak warga kulit hitam.
Bagi mereka, kebebasan berarti bebas dari campur tangan Washington, bebas dari hukum yang menghapus perbudakan, dan bebas dari tuntutan kesetaraan.
Cowie menulis dengan tajam:
“Freedom, in Barbour County, meant freedom to dominate.”
Kebebasan menjadi senjata ideologis untuk mempertahankan hierarki rasial — sebuah ironi pahit yang bergaung hingga era modern.
Dari Perang Saudara ke Perang Ideologi
Freedom’s Dominion bukan sekadar kronik lokal, melainkan potret mikroskopis tentang DNA politik Amerika.
Cowie menelusuri perjalanan Barbour County dari masa Perang Saudara (Civil War), Rekonstruksi, hingga era hak sipil abad ke-20.
Setelah perbudakan dihapuskan, warga kulit putih di Alabama berupaya mempertahankan dominasi ekonomi dan sosial melalui cara-cara baru — mulai dari undang-undang Jim Crow, intimidasi politik, hingga kekerasan terhadap aktivis kulit hitam.
Pada abad ke-20, ketika pemerintah federal mulai memperluas program sosial (seperti New Deal atau Civil Rights Act), sentimen anti-pemerintah tumbuh subur.
Para politisi lokal menyebut kebijakan federal sebagai “ancaman terhadap kebebasan warga.”
Dalam konteks ini, “kebebasan” berubah menjadi retorika politik untuk menolak perubahan sosial.
Cowie menunjukkan bahwa narasi anti-pemerintah yang kini populer dalam politik konservatif Amerika memiliki akar historis dalam pembelaan terhadap supremasi kulit putih.
George Wallace dan Politik “Kebebasan”
Salah satu tokoh sentral dalam buku ini adalah George Wallace, gubernur Alabama yang terkenal dengan slogan “Segregation now, segregation tomorrow, segregation forever.”
Cowie menggambarkan bagaimana Wallace dengan lihai memanfaatkan kata “freedom” untuk membingkai perjuangan rasisnya sebagai pembelaan atas hak rakyat kecil dari “tirani federal.”
Bagi banyak warga kulit putih di Selatan, pemerintah federal identik dengan kekuasaan yang memaksa mereka menerima kesetaraan rasial.
Dalam logika terbalik itu, menolak integrasi sekolah atau hak pilih kulit hitam dianggap sebagai bentuk kebebasan.
Cowie menulis dengan nada getir namun faktual:
“Freedom became the mask of domination — a sacred word used to preserve inequality.”
Narasi Mikro, Gema Makro
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah pendekatannya yang mikrohistoris.
Cowie tidak hanya menulis sejarah nasional Amerika, tapi menelusurinya lewat satu kabupaten kecil di Alabama.
Dari arsip lokal, pidato politik, hingga surat kabar daerah, ia menunjukkan bagaimana gagasan besar seperti “kebebasan” berakar dalam kehidupan sehari-hari — dalam keputusan pemilu, relasi ekonomi, bahkan pergaulan sosial.
Dari sinilah, pembaca dapat melihat bagaimana ideologi bisa hidup dan diwariskan secara turun-temurun.
Generasi demi generasi warga Barbour County membesarkan anak-anak mereka dalam keyakinan bahwa pemerintah adalah musuh, dan bahwa kebebasan sejati adalah kebebasan untuk menolak campur tangan luar — meski itu berarti mempertahankan ketidakadilan.
Kritik Sosial dan Relevansi Modern
Cowie tidak berhenti di masa lalu. Ia mengaitkan sejarah Barbour County dengan politik Amerika kontemporer, terutama munculnya gerakan populis kanan, retorika anti-pajak, dan kecurigaan terhadap “big government”.
Kita bisa melihat gema ide yang sama dalam politik era modern — dari kampanye Donald Trump hingga slogan “Don’t Tread on Me.”
Kata “freedom” terus diulang, tapi maknanya semakin menyempit: kebebasan dari pajak, kebebasan untuk menolak vaksin, kebebasan untuk menentang kebijakan kesetaraan.
Dalam konteks global, Freedom’s Dominion menjadi cermin bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Kita juga sering melihat kata “kebebasan” dipakai secara selektif — dibela ketika menguntungkan kelompok tertentu, tapi diabaikan ketika menyangkut hak minoritas atau keadilan sosial.
Gaya Penulisan: Padat, Tajam, dan Reflektif
Sebagai sejarawan dan profesor di Cornell University, Jefferson Cowie dikenal karena kemampuannya menggabungkan analisis akademik dengan narasi populer.
Ia menulis dengan detail arsip yang kaya, tapi tetap enak dibaca.
Setiap bab terasa seperti potongan cerita yang utuh — ada tokoh, konflik, dan perubahan ide.
Buku ini tebal (sekitar 600 halaman), namun tidak terasa kering. Cowie menulis dengan ketajaman moral yang mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya soal masa lalu, tapi tentang bagaimana kita memahami kebebasan hari ini.
Mengapa Buku Ini Penting Dibaca?
Pertama, karena Freedom’s Dominion menantang kita untuk berpikir ulang tentang makna kebebasan.
Apakah kebebasan hanya berarti bebas dari aturan? Atau kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang memungkinkan semua orang hidup bermartabat?
Kedua, buku ini mengingatkan bahwa ideologi bisa menjadi senjata kekuasaan.
Ketika istilah seperti “kemerdekaan” atau “hak asasi” dipakai tanpa keadilan sosial, maka kebebasan itu hanya topeng.
Dan ketiga, Cowie mengajak pembaca memahami bahwa sejarah lokal — sekecil Barbour County — bisa menjelaskan arah politik nasional dan bahkan dunia.
Kesimpulan: Kebebasan Siapa, untuk Apa
Freedom’s Dominion adalah karya sejarah yang kuat sekaligus refleksi moral.
Jefferson Cowie menunjukkan bahwa kebebasan bukanlah konsep netral — ia selalu punya konteks, selalu punya arah, dan sering kali digunakan untuk mempertahankan ketimpangan.
Lewat kisah tentang satu wilayah di Alabama, Cowie mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk kebebasan sejati belum selesai.
Selama kebebasan masih dimonopoli oleh yang berkuasa, maka ia tetap menjadi dominion — wilayah kekuasaan yang menindas atas nama “freedom.”
Penulis : Taufan, S.H., M.H
Editor : Redaksi Narasio






