AMBALAWI – Gerakan Koalisi Rakyat Anti Narkoba menyelenggarakan agenda Literasi Hukum dan Deklarasi Pemuda Anti Narkoba Wilayah Ambalawi di Gedung Serba Guna Teraluba Desa Tolowata pada Jumat (27/3). Agenda ini merupakan gerakan akar rumput yang ambisius, bukan hanya seremoni, kegiatan bertajuk “Meneguhkan Peran Pemuda Melawan Narkoba” menggunakan pendekatan literasi hukum, deklarasi dan penandatanganan komitmen bersama.
Kegiatan ini dibuka oleh semarak tarian budaya oleh Komunitas Peduli Anak Desa Rite (KPAD) sebagai bagian dari anggota koalisi, merupakan komunitas penghubung gerakan yang selama enam tahun terakhir eksis dalam berbagai upaya melalui kegiatan literasi tingkat desa.
Sesi Literasi Hukum diisi oleh narasumber Mukhlis, S.H., M.H. selaku Kabag Hukum Pemda Kabupaten Bima, Taufan, S.H.,M.H, Dosen FH UNRAM, Kabid Hukum RKBPL, Uswatun Khasanah atau akrab dikenal Badai NTB selaku Aktivis Anti Narkoba dan Supriadin, M.Pd, Ketua Program Ruang Literasi LPW NTB.
Peserta yang hadir yaitu ibu rumah tangga, pemuda, kepala sekolah, guru, tokoh agama dan masyarakat hingga perwakilan organisasi/komunitas pemuda dan masyarakat.

Koalisi Rakyat Anti Narkoba terdiri dari berbagai pegiat dan lembaga atau organisasi masyarakat sipil yaitu Rukun Keluarga Bima Pulau Lombok (RKBPL), Lab.Hukum Unram, Badai NTB, LPW NTB, PBH Mangandar, LPA NTB, Relawan Sahabat Anak, PKBI NTB, LAKPESDAM NU NTB, SPN, Alamtara Institute, La Rimpu, SEMMI NTB, IMBI Mataram, FM LOBAR, IKMAL Mataram, FKMHB, KPAD, HIMAKO, Kicknews, NTBSatu, Narasio, serta pemuda wilayah Ambalawi sebagai inisiator atau panitia lokal.
Iwan, selaku Koordinator Penghubung Pemuda Ambalawi menyatakan agenda ini merupakan jawaban dari berbagai kondisi yang ada di Ambalawi.
“Pemilihan lokasi telah dikoordinasikan dengan kalangan pemuda maupun perwakilan perangkat desa, dipilih karena mempertimbangkan kondisi penyalahgunaan yang kian marak di wilayah, serta pertimbangan kemudahan akses dan keterlibatan berbagai pihak”, ungkapnya.
Koordinator Umum kegiatan, Taufan, menyampaikan dalam sambutannya bahwa Koalisi terbentuk berpijak pada kondisi peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika kian mengkhawatirkan, secara statistik kriminal, Kabupaten Bima merupakan wilayah yang tertinggi seluruh NTB.
“Secara empiris, kita melihat data kasus yang terus mengancam, data statistik menempatkan Bima dalam urutan teratas kasus narkoba, penting untuk kita bergerak bersama, terutama pemuda”, tuturnya.
Taufan menekankan pentingnya terus merawat dan menjaga semangat masyarakat melalui berbagai pendekatan kegiatan.
“Bahwa kegiatan ini sebagai titik penting menjaga kebersamaan, dan mengirimkan pesan kepada semua, bahwa kita ada, bahwa kita melawan berbagai bentuk kejahatan narkoba”, bebernya.
Ini bukan sekadar seremonial. Di bawah naungan Koalisi Rakyat Anti Narkoba—yang menyatukan puluhan lembaga mulai dari Lab Hukum Unram, LPW NTB, hingga aktivis Badai NTB—masyarakat Ambalawi sedang menyusun garis pertahanan terakhir. Bertajuk “Meneguhkan Peran Pemuda Melawan Narkoba”, kegiatan ini menjadi titik balik perlawanan terhadap apa yang disebut sebagai penjajahan gaya baru.
Mendobrak Jalur Hukum yang Kaku
Dosen FH Unram, Taufan, S.H., M.H., membedah realitas pahit di balik UU No. 35 Tahun 2009. Baginya, hukum sering kali menjadi instrumen yang kaku jika tidak melibatkan masyarakat. Ia menyoroti fenomena “informasi bocor” dan intimidasi yang sering dialami pelapor.
“Gerakan ‘Bongkar Bandar’ adalah respon moral atas kebuntuan hukum. Saat laporan resmi berujung arogansi aparat, masyarakat harus hadir mengambil peran. Narkoba adalah kejahatan induk yang memicu kekerasan seksual, pencurian, hingga pembunuhan,” tegas Taufan.
Senada dengan itu, Kabag Hukum Pemda Bima, Mukhlis, S.H., M.H., menekankan pentingnya respons pemerintah desa. “Kita sudah punya Perda. Kini saatnya desa memperkuat diri dengan kebijakan lokal untuk pencegahan dan rehabilitasi,” ujarnya.
Gerakan Moral “Bongkar Bandar”
Suara lantang Uswatun Khasanah, atau akrab disapa Badai NTB, mengungkapkan bahwa tes urin hanyalah instrumen teknis yang tidak akan menyentuh akar dari industri gelap narkoba.
“Bandar tidak bisa diukur hanya dari positif atau negatif tes urin. Mereka menggunakan sarana dan fasilitas untuk merusak bangsa. Diamnya kita adalah ruang bagi kejahatan untuk merajalela,” tegasnya.

Transformasi: Dari “Pecundang” Menjadi Pemenang
Sisi paling menyentuh datang dari Supriadin, M.Pd., Ketua Program Ruang Literasi LPW NTB. Ia membawa kisah nyata tentang anak-anak yang sempat “tumbang” karena narkoba namun kini bangkit melalui pendidikan.
“Dulu mereka tidak bisa baca tulis dan dicap nakal. Hari ini, mereka fasih mengaji dan belajar bahasa asing. Ini bukti bahwa ekosistem yang peduli jauh lebih efektif daripada sekadar hukuman,” ungkap Supriadin.
Manifesto Perlawanan: “Kalian Tidak Bisa Membeli Masa Depan Kami!”
Puncak acara ditandai dengan pembacaan Deklarasi Pemuda yang penuh emosi. Narasi deklarasi tersebut menggugat nurani generasi muda: “Apakah kita akan membiarkan sejarah mencatat generasi kita kalah oleh racun yang dijual para pecundang?”
Ada tiga prinsip perlawanan yang dideklarasikan:
-
Lawan dengan Keberanian: Berani berkata tidak meskipun dianggap “tidak keren”.
-
Lawan dengan Prestasi: Membuktikan kreativitas tanpa zat terlarang.
-
Lawan dengan Kepedulian: Saling merangkul agar tidak ada kawan yang jatuh.
Komitmen Bersama: Benteng Pertahanan Desa
Kegiatan ini ditutup dengan penandatanganan Komitmen Bersama. Poin-poin strategis disepakati, mulai dari penguatan kolaborasi rehabilitasi, optimalisasi fungsi kontrol sosial, hingga pembentukan unit atau satgas edukasi di tingkat siswa dan masyarakat.
Camat Ambalawi, A. Muis, S.Sos., bahkan langsung merencanakan langkah taktis berupa pengetatan pengawasan kendaraan besar di pintu masuk wilayahnya. “Ini pertama kalinya Ambalawi bergerak dalam skala seluas ini. Kami tidak ingin lagi ada celah bagi peredaran gelap,” urainya.
Ia pun menyambut baik dan turut mendorong pembentukan satgas dan melakukan berbagai upaya pencegahan.
“Perlu dibentuk satgas anti narkoba yang terdiri dari elemen setiap desa, dan kita perlu mendukung upaya pencegahan yang dilakukan setiap desa” katanya.
Hari itu, di Tolowata, Ambalawi telah memilih jalannya sendiri: Jalan sulit yang terhormat, jalan keringat daripada khayalan, dan jalan merdeka dari belenggu narkoba.
Penulis : David Putra Pratama, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






