How Democracies Die, Mengapa Demokrasi Mati?

- Redaksi

Sabtu, 1 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku How Democracies. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mengupas bagaimana demokrasi mati, ciri dan menyelematkannya.

i

Buku How Democracies. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mengupas bagaimana demokrasi mati, ciri dan menyelematkannya.

Buku How Democracies Die karya dua profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, menjadi salah satu bacaan penting untuk memahami bagaimana sistem demokrasi bisa melemah dan perlahan mati dari dalam.

Melalui riset mendalam terhadap berbagai negara—dari Eropa, Amerika Latin, hingga Amerika Serikat—mereka menjelaskan bahwa kematian demokrasi tidak selalu terjadi melalui kudeta militer, melainkan melalui proses perlahan oleh para pemimpin yang terpilih secara sah namun bertindak otoriter.

Fenomena kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat (2016) menjadi titik berangkat buku ini, di mana Levitsky dan Ziblatt melihat tanda-tanda kemerosotan demokrasi yang serupa dengan negara-negara lain di masa lalu.

Bagaimana Demokrasi Bisa Mati?

Kematian demokrasi tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut Levitsky dan Ziblatt, proses ini berjalan perlahan ketika para pemimpin yang terpilih secara demokratis mulai menyalahgunakan kekuasaan mereka.

Beberapa contoh sejarah yang dikupas antara lain:

  • Hugo Chávez di Venezuela, yang awalnya populer namun kemudian membungkam oposisi.
  • Adolf Hitler di Jerman dan Benito Mussolini di Italia, yang naik lewat jalur demokratis lalu mengubah sistem menjadi otoriter.
  • Abdel Fattah El-Sisi di Mesir dan Augusto Pinochet di Chile, yang menunjukkan bagaimana demokrasi bisa diruntuhkan dari dalam pemerintahan.

Empat Indikator Perilaku Otoriter

Levitsky dan Ziblatt mengidentifikasi empat tanda utama munculnya perilaku otoriter pada pemimpin yang berpotensi membunuh demokrasi:

  1. Menolak Aturan Main Demokrasi
    Pemimpin mulai melanggar atau mengubah aturan agar menguntungkan diri sendiri.
  2. Menolak Legitimasi Lawan Politik
    Lawan politik dianggap musuh, bukan mitra dalam sistem demokrasi.
  3. Mendorong Kekerasan Politik
    Pemimpin membiarkan atau bahkan mendukung kekerasan terhadap oposisi.
  4. Membatasi Kebebasan Sipil dan Media
    Media dikontrol atau dibungkam, sementara kebebasan berekspresi ditekan.

Nilai-Nilai Demokrasi yang Hilang

Selain indikator di atas, Levitsky dan Ziblatt menyoroti dua nilai penting yang harus dijaga agar demokrasi tetap hidup:

  1. Toleransi Timbal Balik
    Sikap saling menghormati antarpolitisi, meskipun berbeda pandangan.
  2. Kesabaran Institusional
    Penguasa harus menahan diri untuk tidak menggunakan seluruh kekuasaannya demi kepentingan pribadi atau partai.

Ketika kedua nilai ini hilang, maka sistem politik akan menjadi medan pertempuran, bukan lagi ruang kerja sama.

Faktor Penyebab Munculnya Pemimpin Otoriter

Para penulis menegaskan bahwa demokrasi sering melemah karena kelemahan internal sistem politik itu sendiri.
Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Sistem kaderisasi partai yang lemah, sehingga tokoh populis dari luar bisa dengan mudah naik ke tampuk kekuasaan.
  • Efek media sosial, yang memperkuat populisme dan polarisasi masyarakat.
  • Meningkatnya konflik sosial dan politik, membuat masyarakat mudah terbelah dan mendukung figur “penyelamat”.

Cara Para Pemimpin Mematikan Demokrasi

Levitsky dan Ziblatt menjelaskan empat tahapan umum yang dilakukan para pemimpin otoriter:

  1. Menangkap “Wasit”
    Mengendalikan lembaga pengawas seperti pengadilan, kejaksaan, atau parlemen.
  2. Menyingkirkan Lawan Politik
    Menggunakan kekuasaan untuk melemahkan oposisi dengan tekanan hukum atau propaganda.
  3. Mengubah Aturan
    Menyusun ulang konstitusi atau sistem pemilu agar menguntungkan diri sendiri.
  4. Mengubah Rezim
    Menggeser sistem demokrasi menjadi pemerintahan yang eksklusif dan antikritik.

Menyelamatkan Demokrasi (Save Democracy)

Bagaimana cara menjaga agar demokrasi tetap hidup?
Levitsky dan Ziblatt menawarkan empat langkah penting:

  1. Konsolidasi Partai Pro-Demokrasi
    Partai harus memperkuat sistem kaderisasi dan tidak mudah mendukung tokoh populis tanpa komitmen demokratis.
  2. Membangun Check and Balance
    Lembaga negara harus berfungsi sebagai pengawas, bukan pendukung buta pemerintah.
  3. Menghormati Aturan Tak Tertulis Demokrasi
    Etika politik seperti menghindari nepotisme harus dijaga.
  4. Mengakui Keberagaman dan Demokrasi Multi-Etnis
    Demokrasi hanya dapat bertahan bila menghargai perbedaan ras, agama, dan ideologi.

Kesimpulan

Buku How Democracies Die memberi peringatan bahwa demokrasi bisa mati bukan karena perang atau kudeta, melainkan karena diabaikan dan dikhianati oleh para pemimpinnya sendiri. Pelajaran penting dari buku ini adalah pentingnya kewaspadaan, kesadaran politik, dan partisipasi masyarakat untuk menjaga agar demokrasi tetap hidup.

Penulis : Yunita, S.H

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Ironi Kemakmuran: Membedah Krisis “Working Homeless” dalam Buku Brian Goldstone
Krisis Ketenagakerjaan Pulau Sumbawa: Dompu Catat Pengangguran Tertinggi, Bima Terjebak Kemiskinan Pertanian
Menolak Konstitusi dalam Kotak Kaca: Belajar dari “We the People” Karya Jill Lepore
Fenomena Perkawinan Anak di NTB, Tren Menurun tapi Masih di Tiga Besar Nasional
Belajar Radikal dalam Mentaati Hukum dari Para Pembangkang Soviet
Karakteristik Ketenagakerjaan Penduduk Miskin di NTB
Menggugat Narasi “Hadiah” Pembebasan: Membaca Ulang Sejarah Militer Lewat Buku “Combee”
Lemahnya Ketahanan Keluarga dan Maraknya Peredaran Narkoba

Lanjutan Narasi

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:38 WITA

Ironi Kemakmuran: Membedah Krisis “Working Homeless” dalam Buku Brian Goldstone

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:05 WITA

Krisis Ketenagakerjaan Pulau Sumbawa: Dompu Catat Pengangguran Tertinggi, Bima Terjebak Kemiskinan Pertanian

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:15 WITA

Menolak Konstitusi dalam Kotak Kaca: Belajar dari “We the People” Karya Jill Lepore

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:46 WITA

Fenomena Perkawinan Anak di NTB, Tren Menurun tapi Masih di Tiga Besar Nasional

Minggu, 12 Juli 2026 - 10:39 WITA

Belajar Radikal dalam Mentaati Hukum dari Para Pembangkang Soviet

Lensa Hari Ini

mantan Bupati Lalu Ahmad Zaini ditangkap KPK. Foto : Dok. Detik.com

Berita

OTT Bupati Lombok Barat, Ironi Alumni Retret Magelang

Rabu, 22 Jul 2026 - 19:11 WITA