Laporan terbaru dari Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Volume 8 tahun 2025 menyajikan gambaran komprehensif mengenai situasi kesehatan penduduk NTB pada tahun 2024. Data ini, yang bersumber dari survei, menjadi cerminan awal efektivitas kebijakan kesehatan daerah dan memicu perhatian terhadap kelompok populasi tertentu.
Publikasi ini berfokus pada dua indikator kunci: persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dan angka morbiditas (kesakitan) yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
38,88% Penduduk NTB Alami Keluhan Kesehatan
Persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir adalah indikator umum untuk mengukur situasi kesehatan populasi. Angka ini memberikan petunjuk tentang beban penyakit ringan atau kondisi kesehatan yang dialami masyarakat.
Berdasarkan data Susenas Maret 2024, 38,88% penduduk NTB melaporkan mengalami keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir.
Analisis lebih lanjut mengungkap beberapa disparitas:
-
Jenis Kelamin: Persentase penduduk perempuan yang mengalami keluhan kesehatan (40,79%) lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk laki-laki (36,94%).
-
Area Tinggal: Penduduk yang tinggal di perdesaan (39,18%) memiliki persentase keluhan kesehatan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perkotaan (38,62%).
Tingginya angka ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan pemantauan kesehatan rutin dan program pencegahan yang lebih gencar. Perubahan angka ini dari tahun ke tahun dapat menjadi tolok ukur efektivitas program kesehatan yang telah berjalan.
Angka Morbiditas: 19,34% Penduduk NTB Terganggu Aktivitasnya
Ukuran yang lebih spesifik dan sering digunakan untuk menggambarkan situasi kesehatan masyarakat adalah tingkat morbiditas atau angka kesakitan. Dalam konteks laporan ini, angka kesakitan didefinisikan sebagai persentase penduduk yang tidak hanya memiliki keluhan kesehatan, tetapi keluhan tersebut juga mengakibatkan terganggunya kegiatan sehari-hari (morbid).
Hasil Susenas Maret 2024 mencatat bahwa 19,34% penduduk NTB mengalami keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari mereka. Ini berarti hampir seperlima dari populasi NTB mengalami hambatan dalam menjalankan rutinitas mereka akibat masalah kesehatan.
Temuan penting dari data morbiditas adalah:
| Indikator Morbiditas | Perempuan | Laki-laki | Perdesaan | Perkotaan |
| Angka Morbiditas | 19,81% | 18,87% | 20,70% | 18,09% |
Sama halnya dengan keluhan kesehatan umum, angka morbiditas penduduk perempuan (19,81%) lebih tinggi daripada laki-laki (18,87%).
Namun, perbedaan paling signifikan terlihat pada klasifikasi area tempat tinggal. Penduduk perdesaan memiliki angka morbiditas jauh lebih tinggi (20,70%) dibandingkan penduduk perkotaan (18,09%). Kesenjangan ini harus menjadi perhatian utama bagi pembuat kebijakan daerah.
Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Daerah
Data menunjukkan pola yang jelas: perempuan dan penduduk perdesaan merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan yang signifikan. Pemerintah Daerah NTB perlu mengambil langkah kebijakan yang terarah dan berbasis bukti untuk mengatasi disparitas ini.
Berikut adalah beberapa rekomendasi kebijakan yang perlu diambil:
1. Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Perdesaan
Disparitas antara desa dan kota dalam angka morbiditas (20,70% vs 18,09%) mengindikasikan bahwa akses atau kualitas layanan kesehatan di daerah terpencil masih perlu ditingkatkan.
-
Peningkatan Kapasitas Puskesmas: Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran untuk peningkatan fasilitas, penambahan tenaga kesehatan spesialis (misalnya bidan dan perawat), dan memastikan ketersediaan obat-obatan dasar di Puskesmas dan Pustu (Puskesmas Pembantu).
-
Program Kesehatan Berbasis Desa: Melibatkan perangkat desa dan kader kesehatan dalam program promosi kesehatan aktif, termasuk pemeriksaan kesehatan rutin gratis dan edukasi pencegahan penyakit menular/tidak menular.
2. Program Kesehatan Khusus Perempuan
Angka keluhan dan morbiditas perempuan yang lebih tinggi memerlukan intervensi yang menargetkan kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan penyakit kronis yang sering dialami perempuan.
-
Skrining Kesehatan Rutin: Mendorong program skrining kanker serviks dan kanker payudara.
-
Edukasi Gizi dan Stunting: Mengingat peran perempuan dalam kesehatan keluarga, edukasi tentang gizi seimbang dan pencegahan stunting harus diperkuat.
-
Kesehatan Mental: Mengintegrasikan layanan konseling dan kesehatan mental dalam layanan kesehatan primer.
3. Peningkatan Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat (Preventif)
Data kesehatan ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemantauan dan perawatan kesehatan secara proaktif.
-
Kampanye Digital dan Konvensional: Meluncurkan kampanye yang mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat luas mengenai pentingnya check-up berkala dan gaya hidup sehat.
-
Integrasi Data: Memanfaatkan data keluhan dan morbiditas ini untuk memetakan jenis penyakit paling umum di tiap kecamatan, sehingga alokasi sumber daya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efisien dan tepat sasaran.
Dengan mengambil kebijakan yang fokus pada kelompok rentan dan memperkuat sistem kesehatan di tingkat primer, Pemerintah NTB dapat secara efektif menurunkan angka keluhan dan morbiditas, serta mencapai derajat kesehatan yang lebih baik bagi seluruh penduduknya.
Penulis : Lalu Moh. Nzar Fajri, S.E., M.PA
Editor : Redaksi Narasio
Sumber Berita: Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024






