IPM NTB Meningkat namun Literasi dan Pendidikan Menurun

- Redaksi

Kamis, 23 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Analisis Kesenjangan Pendidikan NTB

i

Analisis Kesenjangan Pendidikan NTB

Analisis Kesenjangan Pendidikan: IPM NTB Meningkat, Namun Angka Literasi dan Buta Huruf NTB Jauh Tertinggal

I. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB: Kenaikan Kategori dan Perlambatan Laju

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator komprehensif yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan manusia di suatu wilayah. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara konsisten menunjukkan tren peningkatan IPM yang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.

Secara historis, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IPM NTB berada dalam kategori “Sedang” dari tahun 2014 (64,31) hingga 2021 (68,65). IPM NTB berhasil mencapai kategori “Tinggi” pada tahun 2022 dengan capaian 71,65 poin.

Pada laporan terkini tahun 2024, IPM Provinsi NTB mencapai 73,10 poin, mengalami peningkatan 0,73 poin dari tahun 2023. Meskipun demikian, laju peningkatan ini melambat jika dibandingkan dengan kenaikan tahun 2021 ke 2022 (1,18 poin) dan 2022 ke 2023 (1,00 poin).

II. Kesenjangan Pendidikan: Tantangan Struktural di Bawah Rata-Rata Nasional

Walaupun IPM NTB terus meningkat, posisinya tetap berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini menegaskan adanya tantangan struktural dalam pembangunan manusia, terutama di sektor pendidikan, yang perlu intervensi serius.

Secara spesifik, kesenjangan di sektor pendidikan terlihat jelas pada indikator kunci berikut:

A. Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk dewasa (usia ≥ 15 tahun) di NTB tercatat 7,74 tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 8,77 tahun. Artinya, tingkat pendidikan formal yang ditamatkan oleh penduduk dewasa di NTB secara umum hanya setara dengan kelas 1 atau 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

B. Tantangan Kritis Literasi Dasar dan Minat Baca

Data statistik mengungkapkan bahwa NTB menghadapi dua tantangan literasi utama:

  1. Buta Huruf (Literasi Dasar): Persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf di NTB mencapai 9,17%. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dari rata-rata nasional (3,05%). Angka buta huruf NTB yang mendekati 10% ini mengindikasikan bahwa literasi dasar belum merata. Selain itu, disparitas gender menunjukkan bahwa kelompok perempuan memiliki tingkat buta huruf yang lebih tinggi daripada laki-laki.
  2. Literasi Umum (Minat Baca): Tingkat literasi umum masyarakat NTB (diukur berdasarkan minat baca atau kebiasaan mengunjungi fasilitas) hanya mencapai sekitar 46% pada tahun 2022, masih di bawah rata-rata nasional (>50%). Beberapa faktor utama menjadi penghambat, seperti koleksi buku perpustakaan yang “jadul,” kurangnya fasilitas modern, dan rendahnya tingkat kunjungan dari masyarakat umum.

C. Penurunan Kemampuan Literasi Siswa

Data Asesmen Nasional (AN) memperlihatkan tren negatif pada kemampuan literasi siswa di jenjang menengah (SMA/SMK dan sederajat). Rata-rata kemampuan literasi siswa di NTB pada tahun 2023 menurun menjadi 34,23 poin dari 34,88 poin di tahun 2022. Penurunan ini menggarisbawahi perlunya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

III. Kesimpulan dan Rekomendasi Intervensi

Sebagai kesimpulan, data IPM dan statistik pendidikan NTB menciptakan paradoks: peningkatan IPM ke kategori Tinggi berbanding terbalik dengan indikator pendidikan spesifik yang tertinggal dari capaian nasional.

Oleh karena itu, intervensi pembangunan manusia di NTB harus memfokuskan pada dua area utama:

  1. Pemerataan Literasi Dasar: Program pemberantasan buta huruf perlu menargetkan populasi usia ≥10 tahun secara intensif, memberi prioritas pada kelompok perempuan dan masyarakat di daerah terpencil.
  2. Peningkatan Budaya Literasi: Pemerintah wajib merevitalisasi infrastruktur literasi (perpustakaan daerah dan sekolah) melalui pembaruan koleksi, digitalisasi, dan mengintensifkan promosi program literasi untuk mendongkrak minat baca dan kunjungan masyarakat.

Laporan: Zaki Akbar

Penulis : Zaki Akbar

Lanjutan Narasi

Bahas UU Anti Oligarki, Sorot Kamera Unram Hadirkan Guru Besar UB
Refleksi Hardiknas: Menggugat Kegagalan Sistemik Pendidikan Kita
Tingkat Pengangguran di NTB Naik, Kualitas SDM Masih Didominasi Lulusan SMP ke Bawah
Direktur LPW NTB Sebut Pendidikan dan Kualitas SDM Menjadi Kunci Pemerataan Pembangunan
Tok! Hakim PN Mataram Vonis 6 Aktivis Bersalah, Masa Hukuman Selesai
Permohonan Praperadilan Badai NTB Ditolak, Koalisi Aktivis Sebut Hakim Abaikan Kepastian Hukum
Gerakan Koalisi Rakyat Anti Narkoba, Pemuda Ambalawi Deklarasi dan Tanda Tangan Komitmen Bersama
Menembus Batas Kaku Hukum: Ikhtiar Kolektif Ambalawi Melawan “Gurita” Narkoba

Lanjutan Narasi

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:59 WITA

Bahas UU Anti Oligarki, Sorot Kamera Unram Hadirkan Guru Besar UB

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:30 WITA

Refleksi Hardiknas: Menggugat Kegagalan Sistemik Pendidikan Kita

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:56 WITA

Tingkat Pengangguran di NTB Naik, Kualitas SDM Masih Didominasi Lulusan SMP ke Bawah

Jumat, 1 Mei 2026 - 21:58 WITA

Direktur LPW NTB Sebut Pendidikan dan Kualitas SDM Menjadi Kunci Pemerataan Pembangunan

Kamis, 23 April 2026 - 18:32 WITA

Tok! Hakim PN Mataram Vonis 6 Aktivis Bersalah, Masa Hukuman Selesai

Lensa Hari Ini