Kajian Akademisi Teknik Unram: Pipa Bawah Laut Solusi Paling Aman dan Tepat untuk Krisis Air Gili Tramena

- Redaksi

Jumat, 2 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Fakultas Teknik Unram, Eko Pradjoko, Ph.D., pada Diskusi Akademik Sorot Kamera Seri Ke-21 bertajuk “Krisis Air di Gili Trawangan Antara Penegakan Hukum dan Prioritas Pariwisata” yang diselenggarakan oleh FHISIP Unram di Ruang Sidang Utama Gedung A Unram, Rabu (30/9/2026). Foto: Keysha/Sorot Kamera

i

Dosen Fakultas Teknik Unram, Eko Pradjoko, Ph.D., pada Diskusi Akademik Sorot Kamera Seri Ke-21 bertajuk “Krisis Air di Gili Trawangan Antara Penegakan Hukum dan Prioritas Pariwisata” yang diselenggarakan oleh FHISIP Unram di Ruang Sidang Utama Gedung A Unram, Rabu (30/9/2026). Foto: Keysha/Sorot Kamera

MATARAM — Di tengah sengkarut sengketa hukum dan ancaman kelumpuhan sektor pariwisata di Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena), Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) menyodorkan jalan keluar berbasis kalkulasi ilmiah. Berdasarkan rangkaian riset dan kajian keteknikan yang telah dilakukan, penyaluran air bersih melalui jaringan pipa bawah laut dari daratan Lombok dinilai sebagai satu-satunya solusi permanen yang paling aman, tepat, dan ramah lingkungan.

Pandangan tegas tersebut mengemuka dalam Diskusi Akademik Sorot Kamera Seri Ke-21 bertajuk “Krisis Air di Gili Trawangan Antara Penegakan Hukum dan Prioritas Pariwisata” yang diselenggarakan oleh FHISIP Unram di Ruang Sidang Utama Gedung A Unram, Rabu (30/9/2026).

Bebas Risiko Ekologis dan Aman Secara Geohidrologi

Dosen Fakultas Teknik Unram, Eko Pradjoko, Ph.D., menguraikan bahwa secara keteknikan dan geohidrologi, ketergantungan pada pengeboran darat di pulau-pulau kecil sangat berbahaya. Hasil studi menunjukkan bahwa lapisan air tanah tawar alami secara alami hanya tersedia di Gili Air, sementara struktur geologi Gili Trawangan dan Gili Meno sangat rentan (tricky).

“Pembuatan sumur bor darat di Gili Trawangan dan Meno berisiko tinggi memicu intrusi air laut yang dapat merusak cadangan air tanah secara permanen. Sebaliknya, penyaluran air bersih melalui instalasi pipa bawah laut dari daratan Lombok merupakan opsi yang paling layak dan aman dari sisi teknis maupun daya dukung lingkungan,” tegas Eko Pradjoko.

Isu lingkungan yang selama ini membelit operasional desalinasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) milik swasta—terutama akibat dampak pembuangan limbah konsentrat dan pengeboran pantai ilegal—dapat dieliminasi sepenuhnya jika pemerintah beralih ke teknologi pipa bawah laut.

Rancang Bangun Teknis Sudah Siap, Terbentur Aturan Hukum

Pakar teknik Unram lainnya, Ir. Agustono Setiawan, M.T., mengungkapkan bahwa dari kacamata rekayasa teknik, rancang bangun jaringan pipa bawah laut menuju kawasan 3 Gili sejatinya bukan hal baru dan sudah berada pada tahap siap eksekusi.

“Secara fisik dan rancang bangun teknis, jaringan instalasi sebenarnya telah siap. Namun, implementasinya selama ini terbentur oleh klausul perjanjian kerja sama hukum-administratif dengan pihak swasta yang masih mengikat,” ungkap Agustono.

Ia menambahkan, keterlambatan eksekusi infrastruktur vital ini murni akibat hambatan regulasi dan ikatan kontrak masa lalu, bukan karena ketidakmampuan teknologi. Jika hambatan administratif tersebut diurai, penyaluran air baku dari Lombok menuju 3 Gili dapat segera direalisasikan.

Efisiensi Energi via Gravitasi Bendungan Meninting

Keunggulan pipa bawah laut dari daratan Lombok juga dikuatkan oleh kalkulasi efisiensi jangka panjang. Selain mengandalkan sumber air baku di wilayah Sire (Lombok Utara), potensi pemanfaatan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat yang memiliki kapasitas hingga 9 juta m³ menjadi opsi strategis.

Dengan memanfaatkan sistem aliran gravitasi dari daratan Lombok yang berketinggian lebih tinggi, distribusi air ke pulau-pulau kecil berjarak ±23 km tersebut akan jauh lebih hemat energi dibandingkan teknologi pengolahan air laut (SWRO) yang sangat bergantung pada konsumsi daya listrik tinggi.

Desakan Kepada Pemerintah Pusat

Mengingat urgensi pemenuhan hak dasar warga dan perlindungan kawasan pariwisata berkelas dunia, tim ahli Fakultas Teknik Unram mendesak agar pemerintah tidak lagi menjadikan diskresi darurat sebagai pola penanganan permanen.

Para akademisi menyimpulkan beberapa langkah taktis yang harus segera diambil pemerintah:

  1. Pengambilalihan Proyek Skala Nasional: Pemerintah Pusat melalui kementerian terkait didesak mengintervensi pembiayaan dan pembangunan jaringan pipa bawah laut sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
  2. Peningkatan Kapasitas Pipa Induk: Melakukan upgrade pada diameter pipa induk penghubung di daratan Lombok guna meningkatkan debit pasokan air.
  3. Legalisasi Koridor Utilitas: Mengintegrasikan jalur penataan pipa bawah laut ke dalam Peraturan Daerah RZWP-3-K NTB agar jalur instalasi memiliki kepastian hukum dan perlindungan ekosistem laut.

Kesimpulan

Kajian akademisi Fakultas Teknik Unram memberikan arah yang terang di tengah polemik krisis air Gili Tramena. Penyediaan air minum melalui pipa bawah laut dari daratan Lombok terbukti secara ilmiah sebagai jawaban yang paling tepat secara teknis, aman bagi kelestarian lingkungan, dan menjamin kedaulatan pasokan air bersih tanpa perlu lagi disandera oleh sengketa korporasi swasta.

Penulis : Yunita, S.H.

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik
Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?
Sorot Kamera Unram dan KOHATI HMI Mataram Kupas Kekerasan Seksual di Pesantren, Desak Pencegahan dan Sistem Perlindungan Korban
Pemecatan Musyafirin oleh PDIP NTB, Dekan FHISIP Unram Ungkap Konsekuensi Hukum Status Komisaris Bank NTB Syariah
Mengurai Relasi Kuasa dan Manipulasi Agama: Mengapa Kekerasan Seksual di Pesantren Sulit Terungkap?
Penguatan Kapasitas Keamanan Digital di NTB, Melindungi Perempuan dan Kelompok Rentan dari Ancaman KBGO
LPSK Prioritaskan Pembentukan Kantor Perwakilan di NTB demi Potong Hambatan Geografis dan Lonjakan Kasus
Yuni Bourhany Tersangka Sebar Kontak Gubernur, Akademisi Imbau Cermati Unsur Melawan Hukum dan Objek Data

Lanjutan Narasi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:00 WITA

Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:30 WITA

Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:04 WITA

Sorot Kamera Unram dan KOHATI HMI Mataram Kupas Kekerasan Seksual di Pesantren, Desak Pencegahan dan Sistem Perlindungan Korban

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:15 WITA

Mengurai Relasi Kuasa dan Manipulasi Agama: Mengapa Kekerasan Seksual di Pesantren Sulit Terungkap?

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:22 WITA

Penguatan Kapasitas Keamanan Digital di NTB, Melindungi Perempuan dan Kelompok Rentan dari Ancaman KBGO

Lensa Hari Ini