MATARAM — Di tengah sengkarut sengketa hukum dan ancaman kelumpuhan sektor pariwisata di Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena), Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) menyodorkan jalan keluar berbasis kalkulasi ilmiah. Berdasarkan rangkaian riset dan kajian keteknikan yang telah dilakukan, penyaluran air bersih melalui jaringan pipa bawah laut dari daratan Lombok dinilai sebagai satu-satunya solusi permanen yang paling aman, tepat, dan ramah lingkungan.
Pandangan tegas tersebut mengemuka dalam Diskusi Akademik Sorot Kamera Seri Ke-21 bertajuk “Krisis Air di Gili Trawangan Antara Penegakan Hukum dan Prioritas Pariwisata” yang diselenggarakan oleh FHISIP Unram di Ruang Sidang Utama Gedung A Unram, Rabu (30/9/2026).
Bebas Risiko Ekologis dan Aman Secara Geohidrologi
Dosen Fakultas Teknik Unram, Eko Pradjoko, Ph.D., menguraikan bahwa secara keteknikan dan geohidrologi, ketergantungan pada pengeboran darat di pulau-pulau kecil sangat berbahaya. Hasil studi menunjukkan bahwa lapisan air tanah tawar alami secara alami hanya tersedia di Gili Air, sementara struktur geologi Gili Trawangan dan Gili Meno sangat rentan (tricky).
“Pembuatan sumur bor darat di Gili Trawangan dan Meno berisiko tinggi memicu intrusi air laut yang dapat merusak cadangan air tanah secara permanen. Sebaliknya, penyaluran air bersih melalui instalasi pipa bawah laut dari daratan Lombok merupakan opsi yang paling layak dan aman dari sisi teknis maupun daya dukung lingkungan,” tegas Eko Pradjoko.
Isu lingkungan yang selama ini membelit operasional desalinasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) milik swasta—terutama akibat dampak pembuangan limbah konsentrat dan pengeboran pantai ilegal—dapat dieliminasi sepenuhnya jika pemerintah beralih ke teknologi pipa bawah laut.
Rancang Bangun Teknis Sudah Siap, Terbentur Aturan Hukum
Pakar teknik Unram lainnya, Ir. Agustono Setiawan, M.T., mengungkapkan bahwa dari kacamata rekayasa teknik, rancang bangun jaringan pipa bawah laut menuju kawasan 3 Gili sejatinya bukan hal baru dan sudah berada pada tahap siap eksekusi.
“Secara fisik dan rancang bangun teknis, jaringan instalasi sebenarnya telah siap. Namun, implementasinya selama ini terbentur oleh klausul perjanjian kerja sama hukum-administratif dengan pihak swasta yang masih mengikat,” ungkap Agustono.
Ia menambahkan, keterlambatan eksekusi infrastruktur vital ini murni akibat hambatan regulasi dan ikatan kontrak masa lalu, bukan karena ketidakmampuan teknologi. Jika hambatan administratif tersebut diurai, penyaluran air baku dari Lombok menuju 3 Gili dapat segera direalisasikan.
Efisiensi Energi via Gravitasi Bendungan Meninting
Keunggulan pipa bawah laut dari daratan Lombok juga dikuatkan oleh kalkulasi efisiensi jangka panjang. Selain mengandalkan sumber air baku di wilayah Sire (Lombok Utara), potensi pemanfaatan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat yang memiliki kapasitas hingga 9 juta m³ menjadi opsi strategis.
Dengan memanfaatkan sistem aliran gravitasi dari daratan Lombok yang berketinggian lebih tinggi, distribusi air ke pulau-pulau kecil berjarak ±23 km tersebut akan jauh lebih hemat energi dibandingkan teknologi pengolahan air laut (SWRO) yang sangat bergantung pada konsumsi daya listrik tinggi.
Desakan Kepada Pemerintah Pusat
Mengingat urgensi pemenuhan hak dasar warga dan perlindungan kawasan pariwisata berkelas dunia, tim ahli Fakultas Teknik Unram mendesak agar pemerintah tidak lagi menjadikan diskresi darurat sebagai pola penanganan permanen.
Para akademisi menyimpulkan beberapa langkah taktis yang harus segera diambil pemerintah:
- Pengambilalihan Proyek Skala Nasional: Pemerintah Pusat melalui kementerian terkait didesak mengintervensi pembiayaan dan pembangunan jaringan pipa bawah laut sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
- Peningkatan Kapasitas Pipa Induk: Melakukan upgrade pada diameter pipa induk penghubung di daratan Lombok guna meningkatkan debit pasokan air.
- Legalisasi Koridor Utilitas: Mengintegrasikan jalur penataan pipa bawah laut ke dalam Peraturan Daerah RZWP-3-K NTB agar jalur instalasi memiliki kepastian hukum dan perlindungan ekosistem laut.
Kesimpulan
Kajian akademisi Fakultas Teknik Unram memberikan arah yang terang di tengah polemik krisis air Gili Tramena. Penyediaan air minum melalui pipa bawah laut dari daratan Lombok terbukti secara ilmiah sebagai jawaban yang paling tepat secara teknis, aman bagi kelestarian lingkungan, dan menjamin kedaulatan pasokan air bersih tanpa perlu lagi disandera oleh sengketa korporasi swasta.
Penulis : Yunita, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






