MATARAM — Tingkat pendidikan memiliki korelasi kuat terhadap peluang ekonomi seseorang. Data terbaru menunjukkan bahwa penduduk dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih kecil terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Fenomena ini tercermin dalam laporan Data dan Informasi Kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Barat 2021–2025 Volume 9 yang dirilis tahun 2026.
Laporan tersebut memotret karakteristik pendidikan penduduk miskin usia 15 tahun ke atas di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selama lima tahun terakhir. Secara umum, potret makro menunjukkan adanya pergeseran struktur pendidikan, meski dominasi tingkat pendidikan rendah masih menjadi tantangan utama.
Dominasi Lulusan SD dan SMP
Selama periode 2021 hingga 2025, kantong kemiskinan pada kelompok usia produktif dan dewasa di NTB masih didominasi oleh penduduk dengan latar belakang pendidikan tamatan SD dan SMP.
Pada tahun 2021, kelompok tamatan SD/SMP ini mencatat persentase sebesar 48,19 persen. Angka tersebut terpantau mengalami tren peningkatan secara konsisten hingga menyentuh 51,42 persen pada akhir tahun 2025. Fakta ini menegaskan bahwa mayoritas penduduk miskin di NTB secara umum berada pada kategori berpendidikan rendah (SMP ke bawah).
Indikator Perbaikan Kualitas
Meski angka dominasi SD/SMP meningkat, laporan ini mencatat adanya sinyal positif pada aspek perbaikan kualitas pendidikan makro penduduk miskin. Indikator ini terlihat dari penurunan signifikan pada kelompok penduduk miskin yang tidak menamatkan sekolah dasar atau berpendidikan di bawah SD.
Pada tahun 2021, persentase penduduk miskin kelompok di bawah SD berada di angka 28,52 persen. Memasuki tahun 2025, angka tersebut berhasil ditekan turun menjadi 24,77 persen. Penurunan proporsi ini menandakan adanya peningkatan aksesibilitas atau capaian pendidikan dasar yang lebih baik di tingkat akar rumput selama lima tahun terakhir.
Sementara itu, untuk kelompok penduduk miskin berpendidikan menengah atas ke atas (SMA ke atas), pergerakan angkanya relatif stabil dengan kecenderungan naik tipis. Kelompok ini tercatat sebesar 23,29 persen pada tahun 2021 dan bergeser menjadi 23,81 persen pada tahun 2025.
Ketimpangan Antar-Wilayah: Kota Bima Tertinggi, Sumbawa Terendah
Jika dibedah menurut wilayah kabupaten dan kota pada tahun 2025, terlihat disparitas yang cukup mencolok mengenai proporsi pendidikan penduduk miskin berlatar belakang SMA ke atas.
-
Kota Bima mencatatkan persentase tertinggi, di mana 48,61 persen dari total penduduk miskin usia 15 tahun ke atas di wilayah tersebut telah mengenyam pendidikan minimal SMA ke atas.
-
Sebaliknya, Kabupaten Sumbawa menempati posisi terendah untuk indikator yang sama, dengan capaian hanya sebesar 17,33 persen.
Data ini memberikan gambaran bagi para pembuat kebijakan bahwa intervensi pengentasan kemiskinan di NTB memerlukan pendekatan yang spesifik berbasis wilayah, mengingat karakteristik dan profil edukasi masyarakat rentan di tiap kabupaten/kota memiliki dinamika yang berbeda.
Penulis : Muliatun Anisa
Editor : Redaksi Narasio
Sumber Berita: Data dan Informasi Kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Barat 2021–2025, Volume 9, 2026.






