Tumpang Tindih Kewenangan dan Nuansa Yudisial RUU HAM, Dekan FHISIP Unram Ingatkan Potensi Kerancuan Hukum

- Redaksi

Kamis, 9 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Advokasi Penguatan Sistem Perlindungan HAM di Indonesia Melalui Uji Publik RUU HAM. Agenda tersebut berlangsung di Ruang Sidang Utama (Aula Prof. Zainal Asikin) FHISIP Unram, Rabu (30/6/2026). Foto: Keysha/Sorot Kamera

i

Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Advokasi Penguatan Sistem Perlindungan HAM di Indonesia Melalui Uji Publik RUU HAM. Agenda tersebut berlangsung di Ruang Sidang Utama (Aula Prof. Zainal Asikin) FHISIP Unram, Rabu (30/6/2026). Foto: Keysha/Sorot Kamera

MATARAM — Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (RUU HAM) kembali menuai catatan kritis dari meja akademisi. Kali ini, sorotan tajam diarahkan pada desain kelembagaan dan adanya pergeseran fungsi Komnas HAM yang berpotensi memicu kerancuan dengan proses peradilan pidana.

Hal tersebut ditegaskan oleh Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H., saat menjadi pembicara utama (Keynote Speaker) dalam kegiatan Advokasi Penguatan Sistem Perlindungan HAM di Indonesia Melalui Uji Publik RUU HAM. Agenda tersebut berlangsung di Ruang Sidang Utama (Aula Prof. Zainal Asikin) FHISIP Unram, Rabu (30/6/2026).

Dalam penyampaiannya, Dr. Lalu Wira mengungkapkan bahwa draf RUU HAM saat ini masih menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar yang krusial. Salah satu yang paling disoroti adalah perluasan kewenangan Komnas HAM yang dinilai mulai keluar dari khittah aslinya.

“Beberapa ketentuan dalam RUU ini memperlihatkan adanya pergeseran dari fungsi awal, yaitu pemajuan dan perlindungan HAM, menuju fungsi yang justru memiliki nuansa yudisial,” ujar Dr. Lalu Wira di hadapan peserta uji publik.

Ia memberikan contoh spesifik terkait kewenangan mediasi Komnas HAM yang dalam draf baru tersebut dirancang menghasilkan produk hukum bersifat final dan mengikat. Menurutnya, klausul ini menimbulkan tanda tanya besar dalam tatanan hukum nasional.

“Ini memicu pertanyaan mendasar mengenai batasan antara penyelesaian rumpun pelanggaran HAM dan proses pidana formal, terutama ketika dihadapkan pada kasus pelanggaran HAM yang memiliki dimensi kejahatan serius (serious crimes),” urainya kritis.

Potensi Tumpang Tindih Lembaga HAM Nasional

Selain masalah perluasan fungsi yudisial, Dr. Lalu Wira juga menyoroti kaburnya peta pembagian kerja (division of labor) antar-lembaga negara yang mengurusi hak asasi. Ia mendesak agar draf regulasi ini memperjelas relasi serta batas kewenangan antara Komnas HAM dengan lembaga HAM nasional sektoral lainnya.

“Harus ada kejelasan relasi kewenangan yang baku antara Komnas HAM dengan Komnas Perempuan, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dan Komisi Nasional Disabilitas,” tambahnya. Jika tidak dipertegas, hal ini dikhawatirkan akan memicu ego sektoral dan tumpang tindih penanganan kasus di lapangan.

Menutup pandangannya, akademisi hukum Unram ini mewanti-wanti agar pembentuk undang-undang tidak gegabah atau kejar tayang dalam mengesahkan aturan ini. Uji publik yang diinisiasi oleh SEPAHAM Indonesia, YAPPIKA, dan Sorot Kamera FHISIP Unram ini diharapkan menjadi alarm bagi Jakarta.

“Pembahasan RUU HAM wajib dilakukan secara hati-hati, sistematis, dan sama sekali tidak boleh terburu-buru. Tujuannya jelas, agar mampu menghasilkan konstruksi hukum yang selaras dengan prinsip negara hukum, perkembangan instrumen HAM internasional, serta kebutuhan riil perlindungan HAM di Indonesia,” pungkasnya.

Penulis : Alyssa Rizkia Haris

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan
Diskusi Sorot Kamera FHISIP Unram: WALHI Tegaskan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Harus Memenuhi Syarat Konstitutif dan Ekologis
Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan
Ekonomi NTB dan Rekor MotoGP Mandalika 2026, Pakar Ekonomi Unram Soroti Kepastian Investasi dan Ekosistem Sport Tourism
Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik
Kemenag NTB Dorong Satgas dan Regulasi Ketat: Mampukah Menghentikan Kekerasan Seksual di Pesantren?
Sorot Kamera Unram dan KOHATI HMI Mataram Kupas Kekerasan Seksual di Pesantren, Desak Pencegahan dan Sistem Perlindungan Korban
Pemecatan Musyafirin oleh PDIP NTB, Dekan FHISIP Unram Ungkap Konsekuensi Hukum Status Komisaris Bank NTB Syariah

Lanjutan Narasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:42 WITA

Pakar Hukum Unram Ungkap Fenomena Politik Hukum Pengakuan Adat: Lombok Utara Berani, Sumbawa dan Bima Masih Enggan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:56 WITA

Diskusi Sorot Kamera FHISIP Unram: WALHI Tegaskan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Harus Memenuhi Syarat Konstitutif dan Ekologis

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:30 WITA

Menyelisik Demistifikasi Subjek Hukum Agraria: Di Antara Janji Konstitusi dan Ancaman Fabrikasi Identitas Adat dalam Kawasan Hutan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:05 WITA

Ekonomi NTB dan Rekor MotoGP Mandalika 2026, Pakar Ekonomi Unram Soroti Kepastian Investasi dan Ekosistem Sport Tourism

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:00 WITA

Tingkatkan Keterampilan Mahasiswa Kenotariatan UII, IMMASTA Gelar Pelatihan Pembuatan Akta Autentik

Lensa Hari Ini