Mataram, Narasio.com – Heboh Deni Apriadi Rahman (23) alias Dea Lipa, yang belakangan diketahui sebagai seorang transgender (transpuan) terus menjadi sorotan publik hingga memicu gelombang komentar.
Terakhir, diberitakan oleh media ini, Deni mengalami depresi. Ia dan keluarga menceritakan kondisi. Masa lalu dan kepribadian disorot. Di balik komentar yang tersaji di media sosial, tersimpan kisah pilu seorang Deni kecil tanpa pengasuhan orang tua yang memilih pisah. Ia juga kerap mendapatkan perundungan hingga ia memutuskan sekolah hanya sampai dengan jenjang pendidikan dasar.
Psikolog Klinis, Rias Pratiwi Safitri, S.Psi., M.Psi., Selasa (11/11/2025) dihubungi media ini, menanggapi kondisi Deni. Ia memberikan pandangan mendalam mengenai respon publik, perlunya kejujuran, kesadaran diri, serta peran penting ketahanan keluarga dan pencegahan bullying sejak dini.
Menurutnya situasi yang terjadi terhadap kehebohan Deni bisa dianggap benar dan juga salah.
“Secara budaya dan agama jelas salah sudah melanggar kodrat dan tatanan budaya kita karna sudah berbohong,” tanggapnya.
Di sisi lain, menurut Rias, kondisi yang dialami Deni juga bisa dibenarkan dari perspektif kemanusiaan.
“Tapi bisa dianggap benar bila di lihat dari sisi kemanusiaan dan hak asasi dia, jadi seperti sekarang karena banyak trauma,” lanjutnya,
Rias melihat kelainan seksual dialami bisa terjadi karena dia memang berasal dari keluarga yang tidak utuh, perundungan dan mungkin kekerasan seksual yang pernah dialami.
Reaksi Publik
Dosen Keperawatan Jiwa di STIKES Yarsi Mataram ini juga menanggapi pemberitaan yang menyorot respon kemarahan publik, menurutnya hal itu dapat dilihat dari reaksi atas ketidakjujuran Deni.
Ia dianggap tidak transparan mengenai identitas gendernya sebagai seorang transgender, yang kemudian menimbulkan kesan penipuan sosial, khususnya pada customer atau pengikutnya yang kebanyakan berhijab dan tidak menyadari identitas aslinya.
“Sebenarnya yang menimbulkan kemarahan publik karena ketidakjujuran Dea (Deni) dari awal sehingga terkesan dia melakukan penipuan secara sosial. Hal yang wajar dia mendapatkan sanksi sosial,” ungkapnya.
Memperhatikan situasi saat ini, Rias juga memberikan tanggapan menyikapi masalah Deni yang perlu dilihat penyebabnya sehingga dapat dipahami persoalan mendasar.
“Cara menyikapi orang seperti Dea sebaiknya memang diawal kita harus mengetahui dulu penyebab kenapa dia menutupi identitasnya yang asli”, tegasnya.
Menurutnya masyarakat Indonesia dapat menerima keadaan apabila disampaikan dengan jujur.
“Masyarakat kita sudah bisa memahami terkait kelainan orientasi seksual yang dialami orang-orang seperti Dea”, katanya.
Kesadaran Diri
Pengelola Harmony Kids & Psikologi Center ini pun memberikan contoh beberapa artis transgender tapi bisa diterima karena jujur. Sehingga sikap Dea merasa tertekan dengan berita yang viral perlu direspon dengan refleksi diri.
“Membuat permintaan maaf terutama pada customernya yang notabene banyak yang berhijab dan tidak tahu dia laki-laki dan mengelabui banyak orang,” pesannya.
Meskipun demikian, dengan usia yang sudah dewasa, penting bagi individu yang bersangkutan untuk mengambil inisiatif.
“Dengan usia yang sudah sangat dewasa, butuh kesadaran dari dalam dirinya untuk datang berobat dan terapi untuk mengatasi trauma dan menjadikan hidupnya lebih bermakna,” tegasnya
Ia melanjutkan, terapi dapat membantu individu tersebut untuk lebih memahami bagaimana mengambil peran yang sehat dan bertanggung jawab dalam sistem sosial, serta menarik simpati dari masyarakat melalui tindakan positif, bukan justru mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukannya hanya akan memperparah ketertekanan.
Dari itu, maka Deni seperti cerminan kompleksitas masalah identitas dan penerimaan sosial. Sementara publik menuntut akuntabilitas dan kejujuran. Individu yang bersangkutan membutuhkan dukungan profesional untuk menyembuhkan trauma masa lalu. sehingga ia bisa mengambil peran yang lebih bermakna dalam masyarakat, lepas dari jebakan mencari pembenaran yang justru makin membuatnya tertekan.
Pesan
Kasus Deni menjadi momentum penting untuk meninjau kembali bagaimana lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah maupun masyarakat, bekerja dalam pencegahan bullying yang dapat memengaruhi psikologi anak-anak atau remaja yang memiliki kecenderungan berbeda.
Rias menyampaikan pesan kuat kepada sekolah, orang tua/wali, dan pihak terkait untuk membangun ketahanan keluarga dan komunikasi yang efektif.
“Orang dewasa di sekitar anak kadang tidak peka terhadap gejala-gejala perilaku yang ditunjukkan anak, terutama saat anak mengalami masalah dan merasa membutuhkan bantuan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, bahwa seringkali literasi mengenai pengasuhan yang baik dan pemahaman akan kebutuhan psikologis anak masih minim, sehingga hak-hak anak sering terabaikan. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu ragu untuk berkonsultasi ke psikolog.
Untuk sekolah, Ia memberikan pesan untuk memperbaiki sistem pembalajaran yang lebih ramah anak dan menyisipkan Pendidikan karakter pada setiap pmbelajaran untuk meningkatkan empati dan kemampuan bersosial.
Rias megungkapkan, di tengah gempuran teknologi dan kemudahan akses di jaman sekarang membuat anak-anak kita mudah untuk terpengaruh serta sulit untuk di arahkan.
“Peran penting sekolah maupun penguatan keluarga terutama peran ayah dalam pengasuhan sangat penting membangun mental anak yang lebih bertanggung jawab, kuat dan terhindar dari penyakit mental seperti disorientasi seksual dan sejenisnya,” pungkasnya
Penulis : Yunita, S.H
Editor : Redaksi Narasio






