Mataram, Narasio.com – Sebuah pernyataan resmi dari “Solidaritas untuk Kemanusiaan” mengemuka di publik pasca Konferensi Pers Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa, Sabtu (15/11/2025). Berbagai reaksi publik dan netizen khususnya masih nampak menghiasi dinding media sosial. Sehingga Solidaritas untuk Kemanusiaan, gabungan masyarakat dari berbagai latar belakang bertekad terus memfasilitasi komunikasi antar Deni dan masyarakat umum.
Pernyataan ini muncul sekaligus menyikapi isu viral yang beredar di tengah masyarakat. Pihak solidaritas mengakui sepenuhnya bahwa Lombok adalah wilayah yang menjunjung tinggi nilai agama, budaya, kehormatan keluarga, kehormatan diri, dan batas interaksi laki-laki dan perempuan.
Respon Tim Solidaritas Untuk Kemanusiaan
Rohani Inta Dewi salah satu perwakilan dari Tim Solidaritas Untuk Kemanusiaan dalam akun media sosial dan pernyataan yang dikirim ke media ini menyampaikan tanggapan terkait dengan isu yang beredar.
“Pertama-tama, kami menyampaikan bahwa peristiwa yang berkembang terkait seorang individu yang dikenal publik sebagai “Sister Hong Lombok” telah menimbulkan kegelisahan dan pertanyaan dari masyarakat. Hal ini sangat kami pahami, mengingat Lombok memiliki nilai-nilai agama, budaya, dan kehormatan keluarga yang kuat”, tulisnya
Ia meyoroti terkait dengan setiap warga negara berhak untuk mendapatkan perlakuan yang adil tanpa terkecuali.
“Di sisi lain, kami juga perlu memastikan bahwa setiap warga, tanpa terkecuali, tetap mendapatkan perlakuan yang adil, bermartabat, dan sesuai hukum yang berlaku”, jelasnya
Rohani selanjutnya menyampaikan bahwa masyarakat Lombok sangat menjujung tinggi nilai-nilai moral.
“Kami memahami bahwa masyarakat Lombok sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan diri, batas interaksi laki-laki dan perempuan, serta adat dan syariat yang menjadi pedoman kehidupan sosial”, lanjutnya.
Pesan Kepada Publik
Rohani kembali mengingatkan bahwa dalam menyikapi isu seperti ini harus disikapi dengan kepala dingin.
“Oleh karena itu, kegelisahan masyarakat adalah hal yang valid dan kami dengarkan dengan penuh hormat. Namun demikian, penyikapan peristiwa ini perlu dilakukan dengan kepala dingin, dengan menghindari tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh keadaan, seperti perundungan, penghinaan, atau tindakan main hakim sendiri”,ujarnya
Ia melanjutkan bahwa sipapun yang merasa sebagai korban untuk diberikan rasa aman terlebih dahulu.
“Dalam situasi seperti ini, sangat penting bahwa siapa pun yang merasa menjadi korban diberi ruang aman untuk menyampaikan pengalaman dan laporan; pihak yang dilaporkan tetap diperlakukan sesuai asas praduga tak bersalah; dan tidak ada penyebaran identitas pribadi, fitnah, atau tindakan yang membahayakan keselamatan seseorang”.
Wanita yang berprofesi sebagai Dosen ini juga mengingatkan bahwa siapapun jika memang ada laporan untuk bisa diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Jika ada laporan yang masuk, maka prosesnya akan berjalan sesuai ketentuan hukum, aparat akan menilai berdasarkan fakta dan bukti, bukan berdasarkan tekanan massa maupun opini di media sosial”.
Berita Tidak Benar
Berita tentang Deni Dea Lipa telah menjadi konsumsi publik, hal ini pun menjadi perhatian Solidaritas Kemanusiaan. Rohani menyanggah bahwa opini yang beredar dimedia sosial tidaklah benar.
“Kami juga mencermati berbagai komentar di media sosial yang mengaitkan peristiwa ini dengan istilah-istilah bernuansa stigma. Kami ingin menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar”.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan oleh berita beredar yang belum terverifikasi.
“Kami mengajak seluruh warga Lombok untuk tetap tenang, menahan diri, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menghindari komentar yang dapat mempermalukan seseorang di ruang publik. Kita dapat menegakkan nilai agama dan adat tanpa harus melukai martabat manusia”.
Diakhir ia menyampaikan komitmen tim Solidaritas Untuk Kemanusiaan dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan Deni Dea Lipa.
“Kami berkomitmen untuk terus memfasilitasi komunikasi antara masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan aparat hukum agar situasi tetap kondusif dan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencari sensasi. Hentikan Fitnah Keji dan Perundungan yang tak Berkesudahan. Setiap perubahan butuh proses, butuh waktu. Mari terus mendoakan semoga Deni menemukan jalannya, mendapatkan hidayah-NYA”, tutupnya.
Penulis : Hamzah Fansuri Hidayat,S.H.
Editor : Redaksi Narasio






