Mataram, Narasio.com –Foto seorang penata rias pengantin (Make Up Artist-MUA) asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Deni Apriadi Rahman (23) alias Dea Lipa, terus menyebar dan menjadi perbincangan. Ia dinggap menyamar sebagai perempuan seperti kisah Sister Hong di China yang viral Juli 2025.
Dibalik berbagai anggapan, spekulasi maupun perkembangan cerita tentang dirinya, Deni membantah. Berdasarkan fakta yang dikumpulkan media ini, dari Deni serta keluarga, ada 5 (lima) fakta tentang Deni alis Dea Lipa, termasuk salah kaprah disandingkan dengan kisah ”Sister Hong”. Berikut ulasannya.
1. Latar Belakang, Disforia, Disabilitas, dan MUA Otodidak
Deni Apriadi Rahman berasal dari Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah. Ia lahir berjenis kelamin laki-laki, namun mengakui bahwa seiring waktu, ia merasa nyaman dengan sisi dirinya yang perempuan suatu kondisi yang dikenal sebagai Disforia Gender. Deni menyatakan dirinya beragama Islam.
“Saya Deni Apriadi Rahman (usia 23 tahun) beralamat di desa Mujur kecamatan Praya Timur Lombok Tengah. Saya lahir berjenis kelamin laki-laki, namun seiring waktu saya merasa nyaman sebagai sisi diri saya perempuan (Disforia Gender). Saya beragama Islam. Saya juga penyintas disabilitas kekurangan fungsi pendengaran.” ungkap deni
Selain memiliki, ia juga merupakan penyintas disabilitas yakni kekurangan fungsi pendengaran. Ia mengaku menamatkan pendidikan terakhir di bangku SD dan memutuskan tidak melanjutkan ke jenjang SMP karena mengalami trauma perundungan. Masa kecil Deni dihabiskan tanpa pengasuhan kedua orang tua yang berpisah sejak ia berusia balita.
“Pendidikan terakhir saya saya tamat bangku SD, tidak melanjutkan ke bangku SMP karena saya pernah merasa trauma karena perundungan, selain saya hidup tanpa pengasuhan kedua orang tua saya yang berpisah sejak saya berusia Balita,” kata Deni.
Pria yang berusia 23 tahun ini mendapatkan keterampilan tata rias wajah yang dipelajarinya secara otodidak melalui YouTube dan media sosial. Setelah sempat menjadi asisten MUA senior, ia memutuskan untuk mandiri, bahkan kini berhasil merekrut beberapa asisten tetap dan mitra kerja tidak tetap, seperti fotografer dan event organizer dekorasi. Deni membangun pekerjaannya sebagai jasa MUA (Tata rias wajah dan pengantin).
“Saat ini saya bekerja sebagai jasa MUA (Tata rias wajah dan pengantin) keterampilan tatarias ini saya pelajari secara otodidak melalui Youtube dan media sosial, dulu saya sempat menjadi asisten MUA yang lebih senior, sampai saya memutuskan untuk mandiri dan kini merekrut juga beberapa asisten tetap dan mitra kerja tidak tetap seperti jasa Potografer dan EO dekorasi,” jelas Deni
2. Kronologi Kelam: Dari Postingan Hingga Infus di Mataram
Kegaduhan yang mengguncang Deni bermula dari berita viral terkait tentang dirinya. Pada hari Kamis, 6 November 2025, sekitar pukul 14.00, Deni baru bangun tidur dan mendapatkan kabar dari teman-temannya.
“Ada akun seseorang yang memampang foto saya dengan menyertakan caption yang cukup melukai perasaan saya, keluarga saya, teman-teman terdekat saya,” tuturnya.
Akun Facebook yang disebutkan Deni adalah milik Dian Arkayanti. Deni mengatakan bahwa akun tersebut bahkan sampai hari ini masih memposting foto dan kabar sepihak yang dianggapnya sebagai fitnah.
“Bahkan kabarnya sampai hari ini yang bersangkutan masih memposting foto, kabar, cerita sepihak yang menurut saya tidak semuanya benar/ merupakan fitnah terhadap saya, bahkan juga sampai ke lnstagram dan tiktok,” pengakuannya.
Dampak psikologisnya datang seketika dan menghancurkan mentalnya. Pada sore harinya, Deni diantar seorang teman untuk diamankan ke rumah bibinya di Mataram dalam keadaan setengah sadar dan harus diinfus. Deni mengaku benar-benar terpukul, stres, tertekan.
“Pada hari kamis sore harinya saya diantar seorang teman untuk diamankan ke rumah bibik saya di Mataram dalam keadaan setengah sadar dan diinfus. Saya benar-benar terpukul, stres, tertekan bahkan beberapa kali sempat berpikir untuk melakukan bunuh diri,” terangnya.
Perasaan malu dan bersalah melanda Deni karena keluarga dan teman-temannya harus menanggung hinaan, caci maki, dan tuduhan dari netizen.
“Saya benar-benar merasa malu, bersalah pada keluarga dan teman-temab saya karena mereka harus menanggung hinaan, caci maki, tuduhan dari netizen atas apa yang menirnpa saya,” keluh Deni.
3. Kerugian Material dan Pembatalan Kerja Tim
Tekanan mental yang hebat mendorong Deni mengambil keputusan yang beresiko. Ia membatalkan seluruh jadwal janji pekerjaan untuk merias pengantin dan klien. Deni menjelaskan bahwa pembatalan ini dilakukan olehnya sendiri, bukan oleh klien, karena kliennya cukup paham kondisi yang Deni hadapi.
“Atas pembatalan tersebut saya mengalami kerugian material,” ungkap Deni. Bukan hanya dirinya, kerugian juga ditanggung oleh tim kerjanya, termasuk asisten perias, asisten hena tangan, dan fotografer, di mana pekerjaan dan penghasilan mereka seketika terhenti.
“Begitu juga dengan asisten perias saya, asisten Hena tangan dan foto grafer yang bekerja satu tim dengan saya, pekerjaan dan penghasilan kami tidak ada.”
Deni mengatakan bahwa dirinya benar-benar merasa terancam dan dirugikan atas peristiwa ini, bahkan setelah menerima dampak dari fitnah, caci maki, teror, dan perundungan yang menyebabkan ia depresi.
“saya juga menerima kecaman, teror melalui DM bahkan komentar langsung,” ungkapnya.
Ia menyatakan tidak mengenal Diana Arkayanti, tidak pernah bertemu, apalagi berbicara, dan merasa fotonya diambil tanpa izin untuk diposting dengan caption yang melukai.
“Saya tidak mengenal siapa orang atas nama Diana Arkayanti ini, tidak pernah bertemu apalagi berbicara, dan bagaimana dia sampai mengetahui kabar/cerita tentang saya secara sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu bahkan tanpa izin mengambil foto-foto saya untuk diposting dengan caption yang benar-benar melukai jiwa saya,”
4. Pembelaan Deni
Deni memberikan pembelaan tegas terhadap tuduhan yang paling sensitif.
Pertama, ia membantah keras label “penista Agama” dan “kaum sodom” yang dilontarkan kepadanya, menyatakan ia benar-benar dihakimi oleh ribuan repost dan komentar. Kedua, Deni melawan fitnah spesifik yang menuduh dirinya mengenakan mukena, masuk ke tempat ibadah (masjid), dan melakukan salat Ied dan Tarawih berjamaah, berbaur dengan shaf perempuan.
“Sampai isu ini menggelinding dan melabeli saya sebagai “penista Agama”, kaum Sodom.” Ribuan lebih foto saya, postingannya di repost oleh pengikutnya, saya benar-benar dihakimi. Atas beberapa tuduhan dan fitnah yang mengatakan saya mengenakan mukenah, masuk ke tempat ibadah (masjid) dan melakukan solat led dan Tarawih berjamaah, berbaur dengan shaf perempuan, itu sama sekali tidak benar.”
Deni menantang Dian Arkayanti untuk dapat membuktikan tuduhan ini dan membawa saksi-saksi yang pernah menyaksikan secara langsung.
“Saya sudah tanya ke beberapa temen sekampung yang juga kebetulan saya kenal ada yang komen di medsos, perihal ngeliat deni ikut solat ied dan terawih dimasjid, tapi gada yang benar-benar ngeliat langsung,” ujar salah satu keluarga Deni.
Mengenai jilbab, Deni membenarkan bahwa ia mengenakan jilbab sejak sekitar tahun 2017. Ia menjelaskan bahwa ia benar-benar mengagumi sosok-sosok perempuan muslimah yang terlihat cantik berjilbab, dan ia sangat ingin tampil seperti mereka—cantik, anggun, dan terhormat. Deni mengaku tidak pernah terpikir bahwa konsekuensi dari pakaiannya ini akan menjadi senjata yang digunakan untuk menyerangnya.
“terkait dengan saya yang mengenakan jilbab, saya katakan itu benar adanya, saya berjilbab sejak sekitar tahun 2017, saya mengagumi sosok perempuan muslimah yang terlihat cantik berjilbab, saya sangat ingin sekali tampil seperti mereka, cantik, anggun dan terhormat. Bahkan saya tidak pernah terpikir dan terlintas sekalipun jika konsekwensi dari keinginan dan pakaian yang saya pakai ini akan menjadi senjata yang digunakan menyerang saya,” tutur Deni.
Lebih lanjut, Deni juga membantah tuduhan fitnah yang menyatakan ia sudah pernah bertunangan dan hampir menikah dengan seorang laki-laki. Ia menegaskan tidak pernah berkomitmen untuk hubungan serius, apalagi berhubungan badan dengan lelaki. Deni juga menolak tuduhan mengidap HIV dan menyatakan akan melakukan tes kesehatan untuk melawan tuduhan itu.
“Terkait tuduhan yang mengatakan saya sudah pernah bertunangan dan hampir menikah dengan seorang laki-laki, itu juga fitnah dan kebohongan. Saya tidak pernah berkomitmen untuk hubungan serius bahkan berhubungan badan dengan lelaki, bahkan sampai pada tuduhan saya mengidap HIV (saya akan melawan tuduhan ini dengan melakukan tes kesehatan).”
5. Harapan Kemanusiaan untuk Menghentikan Perundungan
Deni mengakui bahwa ia sebenarnya merasa tidak perlu melakukan pembuktian apapun pada mereka yang menghakiminya karena hal ini sangat menguras energi dan waktu. Namun, demi menghargai keluarga besar dan memenuhi keinginan untuk menghentikan perundungan ini, ia memutuskan untuk melakukan pembelaan.
“sebenarnya saya merasa tidak perlu untuk melakukan pembuktian apapun pada mereka yang menghakimi saya, sungguh ini benar benar menguras energidan waktu. Tapi demi menghargai keluarga besar dan keinginan untuk menghentikan perundungan ini, memulihkan nama baik saya.”
Tujuan utamanya adalah memulihkan nama baiknya dan memperjuangkan rasa adil pada sisi kemanusiaannya.
“dan harapan untuk rasa adil pada sisi kemanusiaan saya … inilah salah satu cara yang harus saya tempuh.” Curahnya
Di akhir pernyataannya, Deni menyampaikan harapan agar ada setitik cahaya dan cara yang lebih bijak, lebih baik untuk merangkul kelompok seperti dirinya. Deni mengingatkan bahwa mereka sama-sama manusia yang lahir dari rahim seorang ibu, memiliki keluarga yang juga membimbing dan mendoakan mereka untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.
“Saya berharap ada setitik cahaya, harapan agar saya, bahkan mungkin ada teman• teman yang merasakan hal yang sama seperti saya akan ada cara yang lebih bijak, lebih baik untuk merangkul kami. Sebab kita sama-sama manusia yang juga lahir dari rahim seorang ibu, memiliki keluarga yang juga membimbing dan mendoakan kami untuk menjadi lebih baik dan menajdi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” tutup Deni.
Penulis : Hamzah Fansuri Hidayat, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






