Mataram – Sekretariat Nasional Civic Engagement Alliance (CEA), sebuah inisiatif yang fokus pada penguatan kapasitas dan kolaborasi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), telah sukses menutup rangkaian Focus Group Discussion (FGD) hari kedua. Diskusi intensif ini digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025, mulai pukul 08.00 hingga 17.30 Wita, bertempat di ex. Gedung Kuliah Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FH-ISIP), Universitas Mataram.
Acara yang dipandu oleh fasilitator Ajeng Kusuma ini menjadi forum strategis bagi perwakilan OMS, Akademisi dan Praktisi di Nusa Tenggara Barat untuk memetakan kondisi riil, tantangan mendesak, dan menggambarkan strategi kebutuhan di tengah dinamika pembangunan regional. Meskipun memiliki banyak fokus pembahasan, akan tetapi point penting yang disoroti yaitu tempat sistem Pengelolaan pengetahuan bersama Forum, isu kesenjangan generasi dan menghasilkan komitmen nyata dari para peserta terkait Pembentukan simpul regional CEA NTB.
Sistem Pengelolaan Pengetahuan Bersama Forum
Menangapi kebutuhan akan ruang kolaborasi pengetahuan dan advokasi gerakan sipil, isu Sistem Pengelolaan Pengetahuan Bersama Forum dibahas. Fauzi dari Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (inSPIRASI NTB) menyampaikan pengalamannya mengenai tempat sebagai ruang kolaborator
“Ruang Tumbuh Merdeka (RTM) berlokasi di Lombok Barat yang dapat digunakan bersama untuk berbagai kegiatan dan transformasi pengetahuan dalam membangun konektivitas.”
Keberadaan RTM sebagai salah satu tempat memperkuat jejaring, memfasilitasi pertukaran pengalaman, dan memastikan bahwa pengetahuan serta praktik baik yang dapat diakses secara kolektif untuk pengetahuan dan advokasi di wilayah NTB.
Isu Kesenjangan Generasi
Isu yang paling menarik perhatian dan memicu diskusi mendalam adalah Pengelolaan Kesenjangan Generasi ( Gap Generation), yang dilihat sebagai kunci keinginan gerakan sipil di masa depan.
Rohana dari Lembaga Pengembangan Sumber Daya Masyarakat (LPSDM) menyoroti ancaman yang dapat merusak fondasi gerakan kesejahteraan:
“Ada hubungan kekuasaan yang menghilangkan nilai-nilai kesetaraan yang sudah dibangun antara generasi dulu dan sekarang.”
Pernyataan ini menekankan pentingnya introspeksi agar aktivisme senior tidak menggunakan hierarki atau otoritas yang menghambat partisipasi dan inovasi dari kelompok muda.
Menyambut tantangan tersebut, Ibu Baiq Zulhiatina dari Solidaritas Perempuan Mataram menawarkan pandangan konstruktif mengenai sinergi antar generasi. Ia menekan perlunya kolaborasi yang setara:
“Melihat bahwa kelompok muda sangat kreatif dari pada kelompok orang tua untuk mengelola program kerja OMS. Akan tetapi perlu kerjasama antara kelompok muda dan kelompok orang tua agar tidak ada ketimpangan.”
Kerja sama yang seimbang akan memastikan bahwa pengalaman dan kematangan senior dipadukan dengan pengelolaan dan ide-ide segar dari generasi muda, menciptakan kesinambungan program kerja.
Melengkapi pandangan tersebut, Dayat, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTB , menggarisbawahi langkah praktis untuk memfasilitasi kolaborasi tersebut:
“Mulai dibangun ruang diskusi dan komunikasi untuk orang-orang lintas organ muda, lintas isu, lintas gender di regional Nusa Tenggara Barat.”
Inisiatif pembangunan ruang lintas diskusi sektor dan lintas identitas ini dipandang sebagai langkah awal yang krusial untuk memberdayakan generasi muda, memastikan suara mereka terakomodasi, dan menjadikan mereka aktor utama dalam gerakan sipil daerah.
Simpul Regional CEA NTB Resmi Disepakati
Kegiatan FGD hari kedua ditutup dengan pernyataan penting dari Sawitri, perwakilan dari Sekretariat CEA Nasional , yang menggarisbawahi peran strategis bersama.
Sawitri menegaskan bahwa peran CEA adalah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gerakan sipil:
“Adanya CEA Membuka ruang aman dan berkelanjutan antara individu, OMS, akademisi dan praktisi yang ingin bergabung dalam gerakan sipil bersama.”
Puncak dari diskusi intensif tersebut adalah keputusan kolektif yang diambil oleh seluruh peserta. Kesepakatan terbentuknya simpul regional CEA NTB menjadi penanda komitmen bersama untuk membangun kerangka kerja yang lebih berdaya dalam menghadapi tantangan perlindungan aktivisme, mengadvokasi kebijakan yang adil, dan memastikan regenerasi yang sehat dalam gerakan masyarakat sipil.
Penulis : Yunita, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






