Mataram – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram menggelar SEBINA Youth Leadership Program: Pengembangan Kepemimpinan dan Kemandirian Santri Menuju Kesiapan Nikah Terencana. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (19/9/2026) di Pondok Pesantren Attohiriyah, Desa Montong Terep, Kabupaten Lombok Tengah.
Kegiatan ini dipimpin oleh akademisi FHISIP Unram, yakni Dr. Dwi Setiawan Chaniago, S.Sos., M.A., Dr. Anisa Puspa Rani, S.Pd., M.A., dan Dr. Saipul Hamdi. Pelaksanaan program turut melibatkan lima mahasiswa pendamping serta 30 santri yang disiapkah sebagai calon kader peer educator (pendidik sebaya).
Dr. Dwi Setiawan Chaniago, S.Sos., M.A, mengatakan bahwa program ini sebagai upaya pencegahan pernikahan usia muda yang memerlukan pendekatan yang komprehensif.
“Tidak sekadar penyampaian informasi mengenai risiko nikah dini. Remaja laki-laki juga perlu dibekali kemampuan memimpin diri sendiri, merencanakan masa depan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab”, urainya.
Penguatan Spiritual Self-Leadership dan Pembelajaran Fikih Keluarga
Salah satu materi utama dalam program ini adalah penguatan kapasitas kepemimpinan santri berbasis spiritual self-leadership. Pendekatan ini memadukan pembelajaran fikih keluarga dengan perspektif sosiologi gender dan kesiapan menikah.
Melalui materi tersebut, para santri diajak melakukan refleksi diri untuk memahami pentingnya arah dan tujuan hidup sebelum mengambil keputusan besar, termasuk pernikahan. Metode diskusi refleksif juga diterapkan agar santri dapat menghubungkan materi yang didapat dengan perencanaan masa depan mereka.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Dwi Setiawan Chaniago, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada penguatan agensi santri melalui pendidikan refleksif.
“Kegiatan ini mengedepankan agensi santri melalui penguatan pendidikan refleksif dengan memperkuat life dreams santri, agar mereka dapat lebih bijak merencanakan dan mengambil keputusan penting untuk kehidupannya baik dalam hal pekerjaan, pernikahan, maupun visi masa depan lainnya,” ujar Dwi Setiawan.
Pembentukan Santri sebagai Peer Educator di Lingkungan Pesantren
Selain pengembangan kapasitas personal, SEBINA Youth Leadership Program diarahkan pada pembentukan dan penguatan peran santri sebagai penyuluh sebaya (peer educator). Langkah ini bertujuan agar santri tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu merangkul serta mengedukasi teman sebayanya.
Melalui peran peer educator, santri didorong untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh kepada rekan-rekan mereka. Dengan demikian, kepemimpinan santri tidak berhenti pada pengembangan diri sendiri, melainkan berdampak langsung pada lingkungan sosial di pesantren.
Solusi Atas Tantangan Pendewasaan Usia Pernikahan Pasca-Lulus
Program ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari pihak sekolah. Kepala SMA Attohiriyah, Sahwi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa isu pernikahan usia muda merupakan tantangan nyata yang kerap dihadapi pihak pendidik.
“Persoalan pernikahan usia muda ini memang tantangan kita bersama. Jika masih berstatus sebagai siswa, pihak sekolah dapat melakukan kontrol. Namun, tantangan utama muncul setelah mereka lulus, di mana kami sering kesulitan untuk mengarahkan mereka agar melakukan pendewasaan usia pernikahan,” ungkap Sahwi.
Tantangan tersebut menegaskan pentingnya membangun kapasitas dan kemandirian santri sejak masih menimba ilmu di pesantren. Melalui SEBINA Youth Leadership Program, penguatan kepemimpinan santri ditempatkan sebagai langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang bijak dan matang saat memasuki kehidupan bermasyarakat pasca-pendidikan.
Penulis : Yunita, S.H.
Editor : Redaksi Narasio






