Sosok Badai NTB dan Perlawanan Sindikat Narkoba

- Redaksi

Selasa, 3 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uswatun Hasanah alias Badai NTB pada kesempatan wawancara di Kota Mataram, NTB, Minggu 1 Maret 2026. Foto: Dok. Istimewa

i

Uswatun Hasanah alias Badai NTB pada kesempatan wawancara di Kota Mataram, NTB, Minggu 1 Maret 2026. Foto: Dok. Istimewa

MATARAM – Di balik riuhnya arus informasi di media sosial Nusa Tenggara Barat, muncul seorang yang kini menjadi momok bagi para pelaku kejahatan narkotika yaitu Badai NTB. Sosok perempuan bernama asli Uswatun Hasanah ini tidak hanya sekadar vokal di balik layar, tetapi telah menjadi representasi perlawanan warga sipil di wilayah Bima dan Dompu dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya melalui gerakan “Bongkar Bandar”.

Nama Badai NTB, kini identik dengan ketegasan, meskipun di balik itu semua, terdapat pergulatan batin yang mendalam antara rasa kemanusiaan dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi.

Media ini, berkesempatan mengenal lebih dalam melalui wawancara secara ekslusif sosok Badai NTB di Mataram, NTB pada Minggu 1 Maret 2026.

Asal-Usul Nama “Badai NTB”

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa julukan “Badai” begitu melekat kuat? pilihan diksi tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Nama “Badai” berakar dari pengalaman masa remaja yang penuh gejolak masa-masa sulit yang secara objektif semestinya tidak dialami oleh anak-anak seusianya kala itu.

Kilas balik masa remaja yang keras tersebut menempa karakternya hingga terjun ke dunia pergerakan. Ketika ia mulai berbicara mengenai isu-isu daerah dan aktif dalam advokasi sosial, nama “Badai” dirasa paling mewakili semangatnya, sesuatu yang datang menerjang untuk membersihkan, meski harus melewati fase yang tidak mudah. Kini, nama tersebut menjadi identitas perjuangannya dalam menyuarakan keresahan masyarakat NTB.

Pemicu Keberanian Melawan Narkoba

Langkah Badai NTB untuk melakukan “publikasi wajah” para terduga pelaku narkoba tidak lahir dari ruang hampa. Segalanya bermula dari keprihatinan mendalam saat ia pulang ke kampung halaman di wilayah Bima dan Dompu. Ia melihat peredaran narkoba telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat setempat hingga ke titik yang mengkhawatirkan.

Sebagai warga negara yang sadar hukum, langkah awalnya adalah melaporkan temuan tersebut kepada aparat penegak hukum (APH). Namun, realitas di lapangan berkata lain. Identitas Badai sebagai pelapor justru bocor dan sampai ke telinga orang-orang yang ia laporkan. Ketika ia mengonfirmasi kebocoran tersebut kepada pihak terkait, ia justru mendapatkan respons defensif.

“Semenjak saat itu, saya berpikir tidak ada lagi harapan bahwa jalur prosedur akan berjalan ideal,” ungkapnya. Ketidakpercayaan terhadap efektivitas hukum positif dalam menjerat para bandar di tingkat lokal inilah yang mendorongnya melakukan metode sanksi sosial. Dengan mempublikasikan wajah terduga pelaku, Badai berupaya mempersempit ruang gerak mereka yang selama ini mungkin merasa aman karena memiliki “ikatan emosional” dengan oknum-oknum tertentu.

Ketakutan vs Tanggung Jawab Generasi

Badai NTB secara jujur menepis anggapan bahwa dirinya adalah sosok yang tidak memiliki rasa takut. Di tengah ancaman, intaian, hingga teror nyata, rasa takut itu tetap ada. Namun, ia memiliki prinsip bahwa rasa takutnya tidak boleh lebih besar daripada rasa pedulinya terhadap kehancuran generasi akibat narkoba.

Di usia yang masih tergolong muda masa di mana seharusnya ia bisa menikmati euforia hidup ia justru terjebak dalam pusaran konflik dengan sindikat berbahaya. “Semua pergerakan ini mengalir dengan sendirinya. Kalau dibilang berani, sebenarnya tidak. Tapi saya punya pilihan untuk berikhtiar mati dalam kondisi yang seperti apa,” tuturnya dengan nada tenang namun berwibawa.

Tantangan dan Sisi Kemanusiaan

Sebagai seorang perempuan, tantangan terbesar bagi Badai NTB bukanlah menghadapi hadangan parang atau pelecehan di dunia maya. Tantangan terberat justru muncul dari dalam diri sendiri: pertempuran nurani.

Ketika ia mempublikasikan identitas seorang bandar atau pengedar, reaksi balik yang ia terima sangat masif. Namun, hal yang paling mengguncang hatinya adalah ketika keluarga dari pelaku yang ia publikasi menghubunginya.

  1. Guncangan Psikologis Keluarga: Badai menceritakan bagaimana ia sering dihubungi oleh orang tua pelaku yang masuk rumah sakit karena serangan jantung, atau istri pelaku yang menangis karena tidak tahu-menahu mengenai aktivitas suaminya.
  2. Stigma pada Anak-Anak: Sebagai manusia, ia merasa terintimidasi oleh sikapnya sendiri saat memikirkan nasib anak-anak pelaku yang masih di bangku SD atau SMP. Mereka harus menanggung beban sosial berupa bullying dan stigma sebagai anak bandar.

“Saya sempat bertanya-tanya, sepadankah cara ini? Saya merasa ikut menghancurkan keluarga orang lain,” akunya. Namun, fase dilema tersebut ia lalui dengan kembali melihat fakta lapangan. Ia menyadari bahwa di sisi lain, ada ribuan keluarga korban narkoba yang hancur, ibu-ibu yang kehilangan anak, dan tetangga yang menderita akibat ulah para sindikat ini. Kehancuran kolektif yang disebabkan oleh narkoba jauh lebih besar daripada risiko sanksi sosial yang ia berikan.

Menanti Kesadaran Kolektif dan Peran Negara

Selama dua tahun terakhir, Badai NTB konsisten bergerak. Meskipun ia merasa jalannya kini terasa sepi, harapan awalnya adalah terciptanya kesadaran kolektif. Ia menginginkan publikasi yang dilakukannya menjadi pemicu bagi tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga ulama untuk mengambil peran aktif di bidang masing-masing.

Ia juga mengkritik bagaimana semangat penegakan hukum narkoba seringkali hanya “selesai di kolom komentar” atau jalur hotline tanpa tindakan nyata yang menjangkau akar masalah. Meski berkali-kali dihadang dengan kekerasan fisik, bagi Badai, itu adalah risiko lumrah saat mengganggu “piring makan” sebuah jaringan kriminal.

Sebuah Pilihan Hidup

Kisah Badai NTB adalah pengingat bahwa di tengah sistem yang kadang tidak ideal, keberanian sipil menjadi katup pengaman sosial. Ia tidak memilih jalan ini karena ingin menjadi pahlawan, melainkan karena ia tidak bisa diam melihat kehancuran di depan matanya.

Baginya, urusan umur adalah rencana Tuhan. Yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan bahwa selama ia masih bernapas, suaranya akan tetap menjadi “badai” yang mencoba menyapu bersih residu-residu kehancuran narkoba dari tanah NTB.

Penulis : Yunita, S.H.

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

12 Peraturan Hidup Menurut Psikolog Ternama Amerika
The Gulf: The Making of an American Sea, Menyelami Kisah Epik Lingkungan Teluk Meksiko Karya Jack E. Davis
Frederick Douglass: Kisah Orator Hebat dan “Nabi Kebebasan”
Kisah Henrietta Wood dan Tuntutan Restitusi Pertama di Amerika
Sejarah Tersembunyi, Bagaimana McDonald’s Mengubah Wajah Kapitalisme Kulit Hitam
Covered with Night, Kolonialisme dan Pelajaran Keadilan Adat bagi Indonesia
Freedom’s Dominion: Saat Kebebasan Menjadi Alat Penindasan
No Right to an Honest Living, Membongkar Mitos Kota Bebas di Amerika

Lanjutan Narasi

Selasa, 3 Maret 2026 - 22:21 WITA

Sosok Badai NTB dan Perlawanan Sindikat Narkoba

Jumat, 28 November 2025 - 08:40 WITA

12 Peraturan Hidup Menurut Psikolog Ternama Amerika

Sabtu, 8 November 2025 - 08:15 WITA

The Gulf: The Making of an American Sea, Menyelami Kisah Epik Lingkungan Teluk Meksiko Karya Jack E. Davis

Jumat, 7 November 2025 - 08:35 WITA

Frederick Douglass: Kisah Orator Hebat dan “Nabi Kebebasan”

Kamis, 6 November 2025 - 08:30 WITA

Kisah Henrietta Wood dan Tuntutan Restitusi Pertama di Amerika

Lensa Hari Ini