Sektor Jasa Dominasi Serapan Tenaga Kerja Perempuan NTB, Pertanian Tetap Jadi Penyelamat di Pedesaan

- Redaksi

Kamis, 27 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Secara keseluruhan, data BPS NTB menunjukkan bahwa Kelompok Sektor Jasa adalah penyerap tenaga kerja perempuan terbesar di NTB, mencapai 51,81 persen. Kelompok Sektor Jasa ini mencakup berbagai lapangan usaha, dengan sub-kategori Perdagangan (Perdagangan Besar & Eceran, Reparasi) menjadi penyerap tenaga kerja perempuan paling dominan di dalam kelompok tersebut.

i

Ilustrasi: Secara keseluruhan, data BPS NTB menunjukkan bahwa Kelompok Sektor Jasa adalah penyerap tenaga kerja perempuan terbesar di NTB, mencapai 51,81 persen. Kelompok Sektor Jasa ini mencakup berbagai lapangan usaha, dengan sub-kategori Perdagangan (Perdagangan Besar & Eceran, Reparasi) menjadi penyerap tenaga kerja perempuan paling dominan di dalam kelompok tersebut.

Struktur perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan ketergantungan signifikan pada dua sektor utama dalam menyerap tenaga kerja perempuan, yaitu Jasa dan Pertanian. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB tahun 2024 mengungkapkan sebuah dilema struktural: tingginya daya serap sektor Pertanian di perdesaan berhasil menekan angka pengangguran, namun secara kritis juga mengindikasikan rendahnya kualifikasi tenaga kerja perempuan.

Publikasi Profil Perempuan Bekerja Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024 meninjau andil setiap sektor dalam penyerapan tenaga kerja perempuan, mencerminkan adanya perubahan struktur ekonomi dan kesenjangan jelas antara lingkungan urban dan rural.

Dominasi Sektor Jasa, Pertanian Sebagai Penyangga Utama

Secara keseluruhan, data BPS NTB menunjukkan bahwa Kelompok Sektor Jasa adalah penyerap tenaga kerja perempuan terbesar di NTB, mencapai 51,81 persen.

Kelompok Sektor Jasa ini mencakup berbagai lapangan usaha, dengan sub-kategori Perdagangan (Perdagangan Besar & Eceran, Reparasi) menjadi penyerap tenaga kerja perempuan paling dominan di dalam kelompok tersebut.

Sementara itu, Kelompok Sektor Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) menjadi penyerap terbesar kedua, dengan kontribusi 34,66 persen. Kelompok Sektor Industri Manufaktur menjadi penyerap paling sedikit, yaitu hanya 13,53 persen, mencerminkan kecenderungan pekerjaan berat yang lebih banyak diisi laki-laki, meskipun sektor industri pengolahan mikro rumah tangga umumnya digeluti perempuan.

Dilema Kritis: Sektor Pertanian dan Risiko Kualifikasi Rendah

Meskipun secara provinsi Sektor Jasa unggul, data menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan utama bagi perempuan bekerja secara individual adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yang menyerap 34,66 persen dari total pekerja perempuan.

Ketegasan peran Pertanian terlihat jelas ketika data dipecah berdasarkan wilayah:

Sektor Lapangan Kerja Utama Persentase Serapan di Perdesaan Persentase Serapan di Perkotaan
Pertanian, Kehutanan & Perikanan 48,81 persen 21,44 persen
Perdagangan 21,55 persen 27,63 persen

Hampir separuh (48,81 persen) perempuan bekerja di perdesaan NTB terserap di sektor Pertanian. Tingginya daya serap ini, menurut BPS, disebabkan oleh sifat sektor Pertanian yang bersifat terbuka dan tidak membutuhkan keahlian atau kualifikasi khusus.

Dampak Kritis dan Edukatif

Tingginya persentase ini memiliki dua sisi yang harus dicermati secara kritis dan edukatif:

  1. Sisi Positif (Penyelamat): Besarnya peluang kerja di sektor Pertanian berhasil menyerap banyak penduduk, termasuk perempuan dengan pendidikan rendah yang tidak memiliki banyak pilihan. Hal ini menjadi salah satu faktor kunci rendahnya tingkat pengangguran perempuan di perdesaan.

  2. Sisi Kritis (Risiko Kualitas): Pekerjaan di sektor ini seringkali bersifat otodidak dan tidak memerlukan pendidikan formal tinggi. Hal ini mengunci banyak pekerja perempuan dalam pekerjaan yang rentan, berupah rendah, dan kurang memiliki jaminan sosial. Ini menjadi indikator bahwa tingkat pendidikan yang rendah di perdesaan (seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya) secara langsung bermuara pada jenis pekerjaan yang kurang menjanjikan.

Pemerintah perlu mengambil langkah edukatif untuk memastikan tingginya serapan di sektor pertanian ini tidak mengarah pada stagnasi keahlian dan upah.

Sektor Perdagangan: Ciri Khas Ekonomi Perkotaan

Berbeda jauh dengan perdesaan, perempuan yang tinggal di perkotaan secara signifikan lebih banyak memilih sektor Perdagangan (27,63 persen) sebagai lapangan pekerjaan utama.

Sektor perdagangan menjadi ciri khas daerah perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi dan jual beli. BPS juga menyoroti peran perdagangan online yang marak saat ini, yang semakin banyak digeluti perempuan, khususnya di perkotaan, karena fleksibilitasnya.

Di perdesaan sendiri, setelah Pertanian, sektor perdagangan menjadi pilihan utama kedua (21,55 persen), menunjukkan bahwa aktivitas niaga dan usaha mikro juga berkembang pesat di luar pusat kota.

Kelompok Lapangan Usaha Lain

Walaupun Industri Manufaktur menyerap paling sedikit (13,53 persen), sub-kategori industri pengolahan sering menjadi pilihan perempuan, terutama yang bergerak di industri mikro, kecil, dan rumah tangga seperti produksi makanan, minuman, dan menjahit. Sektor ini merupakan jembatan antara informal dan formal yang dapat didukung untuk meningkatkan kualitas produk dan pasar.

Tinjauan Kritis dan Kesimpulan

Struktur penyerapan tenaga kerja perempuan di NTB mencerminkan dualisme ekonomi: sektor jasa di perkotaan sebagai motor penggerak ekonomi modern, dan sektor pertanian di perdesaan sebagai katup pengaman pengangguran.

Kritiknya adalah, ketergantungan yang terlalu tinggi pada sektor pertanian di perdesaan, yang tidak menuntut keahlian khusus, dapat menciptakan lingkaran setan pendidikan rendah – upah rendah – keahlian terbatas.

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu secara edukatif mengarahkan program pelatihan vokasi dan kewirausahaan yang berbasis pada peningkatan nilai tambah produk pertanian atau transisi ke sektor jasa dan industri pengolahan, sehingga daya serap yang tinggi juga diikuti dengan peningkatan kompetensi dan kesejahteraan tenaga kerja perempuan NTB.

Penulis : Yunita, S.H

Editor : Redaksi Narasio

Sumber Berita: Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, Profil Perempuan Bekerja Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024 Volume 6, 2025

Lanjutan Narasi

Dr. Muhaimin: Kurikulum Hukum S1 Harus Reduksi Mata Kuliah Umum, Perkuat Keterampilan Praktis dan Integritas
UNW Mataram Gelar Workshop Kesehatan Mental untuk Mahasiswa dan Civitas Akademika Fakultas STEM
Pasca-Kebakaran Desa Adat Sade, Evi Apita Maya Tekankan Pemulihan Sejarah dan Ekosistem Ekonomi Lokal
Jawab Tantangan Dunia Kerja, PERADI SAI dan FHISIP Unram Dorong Mata Kuliah Advokat Masuk Jenjang S1
Pidato Paripurna Prof. Rodliyah: Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan
Statistika Unram Kembangkan Board Games untuk Penguatan Literasi dan Keterampilan Siswa SD
Penting Diketahui Pengacara, Begini Tata Cara Sidang Online
Konstruksi Sosial Batasi Peran Perempuan dan Laki-Laki, Perlu Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal

Lanjutan Narasi

Selasa, 1 September 2026 - 08:30 WITA

Dr. Muhaimin: Kurikulum Hukum S1 Harus Reduksi Mata Kuliah Umum, Perkuat Keterampilan Praktis dan Integritas

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:21 WITA

UNW Mataram Gelar Workshop Kesehatan Mental untuk Mahasiswa dan Civitas Akademika Fakultas STEM

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:45 WITA

Pasca-Kebakaran Desa Adat Sade, Evi Apita Maya Tekankan Pemulihan Sejarah dan Ekosistem Ekonomi Lokal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:00 WITA

Pidato Paripurna Prof. Rodliyah: Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:06 WITA

Statistika Unram Kembangkan Board Games untuk Penguatan Literasi dan Keterampilan Siswa SD

Lensa Hari Ini

Pekerja Rumah Tangga Wajib Dilindungi, Bagaimana Ketentuannya?. Foto: Ilustrasi Gemini AI

Komentar

Pekerja Rumah Tangga Wajib Dilindungi, Bagaimana Ketentuannya?

Senin, 31 Agu 2026 - 19:29 WITA