Mayoritas pemuda Nusa Tenggara Barat (NTB) berada dalam status belum kawin. Pemuda laki-laki menunjukkan persentase yang jauh lebih tinggi dalam status belum kawin. Sebaliknya, persentase pemuda laki-laki yang berstatus kawin lebih rendah dibandingkan perempuan. Perkawinan di kalangan penduduk usia muda terikat erat dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya lokal.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB memberikan gambaran yang jelas mengenai status perkawinan pemuda di wilayah ini, menyoroti kecenderungan yang beragam antara laki-laki dan perempuan, serta kontras mencolok antara daerah perkotaan dan perdesaan. Memahami dinamika ini penting sebagai pijakan untuk kebijakan yang lebih terarah demi kualitas hidup pemuda NTB di masa depan.
Mayoritas Pemuda NTB Masih Berstatus Belum Kawin
Secara umum, data BPS NTB mengelompokkan status perkawinan pemuda menjadi tiga kategori utama: belum kawin, kawin, dan cerai (meliputi cerai hidup dan cerai mati).
Dari keseluruhan populasi pemuda di NTB, mayoritas berada dalam status belum kawin, yaitu sekitar 63,24 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda masih fokus pada fase pengembangan diri, seperti pendidikan atau merintis karier, sebelum memasuki gerbang rumah tangga.
Di sisi lain, pemuda yang telah menikah berada di angka 34,83 persen. Sementara itu, persentase pemuda yang berstatus cerai relatif kecil, yakni 1,93 persen.
| Status Perkawinan | Persentase Pemuda NTB |
| Belum Kawin | 63,24% |
| Kawin | 34,83% |
| Cerai (Hidup & Mati) | 1,93% |
Data diolah dari BPS NTB, 2024
Pria Cenderung Menunda Nikah
Analisis lebih dalam berdasarkan jenis kelamin menyingkap pola yang menarik dan berbeda di antara pemuda laki-laki dan perempuan di NTB.
Pemuda laki-laki menunjukkan persentase yang jauh lebih tinggi dalam status belum kawin, mencapai 72,83 persen. Sebaliknya, persentase pemuda laki-laki yang berstatus kawin lebih rendah dibandingkan perempuan.
Untuk pemuda perempuan, persentase yang belum kawin adalah 53,64 persen. Artinya, pemuda perempuan di NTB memiliki kecenderungan untuk menikah pada usia yang lebih muda dibandingkan rekan laki-lakinya.
Alasan Penundaan Pernikahan pada Pemuda Laki-laki
Tingginya persentase pemuda laki-laki yang belum kawin mengindikasikan adanya kecenderungan untuk menunda waktu pernikahan. Salah satu faktor dominan yang disoroti adalah tanggung jawab ekonomi.
Dalam banyak budaya, terutama di NTB, laki-laki memegang peran utama sebagai pencari nafkah. Tuntutan untuk memiliki kemapanan ekonomi sebelum menikah menjadi penentu utama dalam mengambil keputusan ini. Pemuda laki-laki cenderung menunggu hingga mereka merasa cukup stabil secara finansial untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
Angka Perceraian Pemuda: Perempuan Lebih Rentan
Meskipun persentase keseluruhan status cerai di kalangan pemuda NTB hanya 1,93 persen, terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin:
- Pemuda Perempuan berstatus cerai: 2,24 persen
- Pemuda Laki-laki berstatus cerai: 1,62 persen
Angka ini berarti, setidaknya terdapat 2 dari 100 pemuda perempuan di NTB yang berstatus cerai. Tingginya persentase cerai pada pemuda perempuan mengisyaratkan adanya kerentanan yang lebih besar dalam membina rumah tangga di usia muda. Belum matangnya usia pasangan saat menikah disinyalir menjadi salah satu penyebab utama perceraian, karena minimnya kesiapan mental dan emosional dalam menghadapi tantangan hidup berumah tangga.
Perbedaan Status Kawin Perdesaan dan Perkotaan
Selain faktor jenis kelamin, wilayah tempat tinggal juga menciptakan pola status perkawinan yang berbeda.
Tingkat perkawinan pemuda di perdesaan jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan:
- Pemuda berstatus kawin di Perdesaan: 40,39 persen
- Pemuda berstatus kawin di Perkotaan: 30,11 persen
Perbedaan ini diperkirakan terjadi akibat tiga faktor utama: ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya.
Tuntutan Ekonomi dan Pendidikan di Perkotaan
Di wilayah perkotaan, tuntutan untuk bekerja di sektor formal lebih besar. Pekerjaan formal seringkali membutuhkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini mendorong pemuda di perkotaan untuk melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat yang lebih tinggi, yang pada gilirannya menyebabkan mereka menunda pernikahan.
Budaya dan Usia Dini di Perdesaan
Sebaliknya, di perdesaan, faktor budaya masih memiliki dampak besar pada tingginya angka perkawinan, khususnya perkawinan di usia dini. Sebagian besar pemuda di perdesaan yang tidak melanjutkan sekolah cenderung memutuskan untuk menikah lebih cepat. Ketiadaan kesempatan atau dorongan untuk melanjutkan pendidikan formal membuat pernikahan dilihat sebagai langkah transisi kehidupan selanjutnya.
Menariknya, meskipun pola perkawinan berbeda, angka perceraian antara kedua wilayah tidak menunjukkan perbedaan yang drastis:
- Pemuda berstatus cerai di Perkotaan: 1,84 persen
- Pemuda berstatus cerai di Perdesaan: 2,04 persen
Angka yang hampir setara ini memperkuat dugaan bahwa salah satu penyebab utama perceraian di kalangan pemuda, baik di kota maupun di desa, adalah usia yang belum matang saat memulai bahtera rumah tangga.
Kesimpulan dan Implikasi
Data BPS NTB jelas menunjukkan bahwa keputusan pemuda untuk menikah adalah hasil dari interaksi kompleks antara gender, tuntutan ekonomi, tingkat pendidikan, dan budaya lokal.
- Pemuda Laki-laki cenderung menunda pernikahan karena tuntutan tanggung jawab ekonomi yang tinggi.
- Pemuda Perempuan lebih cepat menikah dan juga memiliki persentase cerai yang lebih tinggi.
- Wilayah Perdesaan memiliki angka perkawinan yang lebih tinggi, seringkali dipengaruhi oleh faktor budaya dan putus sekolah.
- Wilayah Perkotaan menunjukkan penundaan pernikahan karena fokus pada pendidikan dan karier formal.
Pola-pola ini menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah dan pegiat sosial di NTB. Upaya pendewasaan usia perkawinan melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan, khususnya di perdesaan, serta penguatan literasi keuangan dan kesiapan mental berumah tangga, sangat diperlukan. Dengan demikian, diharapkan pemuda NTB dapat membangun keluarga yang lebih stabil dan sejahtera, sekaligus berkontribusi positif pada pembangunan daerah.
Penulis : Hamzah Fansuri Hidayat, S.H.
Editor : Redaksi Narasio
Sumber Berita: Profil Pemuda NTB 2024, Vol. 7 2025, BPS NTB






