Keberhasilan sebuah usaha tidak pernah lepas dari sosok “man behind the gun” atau sumber daya manusia yang mengendalikannya. Dalam konteks Industri Mikro dan Kecil (IMK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), karakteristik pengusaha memegang peranan vital dalam menentukan arah, keberlanjutan, dan produktivitas usaha.
Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat, “Profil Industri Mikro Dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024, Volume 6, 2025”, memberikan gambaran detail mengenai siapa sebenarnya para penggerak ekonomi kerakyatan ini. Dari total 118.662 unit usaha IMK yang terdata, profil pengusaha di NTB menunjukkan corak yang unik dari segi demografi usia maupun latar belakang pendidikan.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai karakteristik pengusaha IMK di NTB tahun 2024.
Dominasi Kelompok Usia Matang (45–64 Tahun)
Berbeda dengan citra “startup” digital yang identik dengan anak muda, sektor riil industri mikro di NTB ternyata dikuasai oleh kelompok usia matang. Data BPS menunjukkan bahwa pengusaha pada rentang usia 45–64 tahun mendominasi sektor ini dengan persentase mencapai 52,67 persen.
Dominasi kelompok usia ini mengindikasikan bahwa IMK di NTB sangat mengandalkan kematangan pengalaman. Usia 45 hingga 64 tahun sering dianggap sebagai fase di mana seseorang memiliki stabilitas emosi, akumulasi modal sosial, dan jejaring yang lebih kuat dibandingkan pengusaha pemula. Mereka adalah generasi yang kemungkinan besar telah merintis usahanya selama bertahun-tahun atau mewarisi usaha keluarga yang sudah mapan.
Geliat Pengusaha Muda dan Regenerasi
Meskipun didominasi generasi tua, bukan berarti tidak ada regenerasi. Kelompok usia produktif yang lebih muda, yakni 25–44 tahun, menempati posisi kedua dengan jumlah pengusaha sebanyak 45.776 orang atau sekitar 38,58 persen. Ini adalah kelompok usia “emas” yang biasanya memiliki energi fisik prima dan lebih adaptif terhadap perubahan pasar.
Yang menarik untuk dicermati adalah munculnya kelompok pengusaha “Sangat Muda” atau Gen Z:
-
Usia 20–24 Tahun: Tercatat sebanyak 2.494 orang (2,10 persen) pengusaha muda di kategori ini. Uniknya, mereka paling banyak terjun ke Industri Tekstil (KBLI 13). Hal ini bisa jadi berhubungan dengan tren fesyen, tenun ikat modern, atau usaha pakaian yang memang diminati anak muda.
-
Usia di Bawah 20 Tahun (Pekerja Anak): Meski angkanya sangat kecil (0,14 persen), keberadaan pengusaha di usia sekolah ini patut menjadi perhatian. Mereka teridentifikasi bergerak di industri tekstil (KBLI 13) dan industri barang galian bukan logam (KBLI 23).
Lansia dan Ketahanan Ekonomi di Sektor Makanan
IMK juga menjadi tumpuan bagi kelompok lanjut usia (lansia) untuk tetap produktif secara ekonomi. Tercatat 6,52 persen pengusaha IMK di NTB berusia 65 tahun ke atas.
Sektor apa yang ramah bagi pengusaha lansia? Data menunjukkan jumlah terbanyak berada di Industri Makanan (KBLI 10), dengan jumlah 2.118 orang. Industri makanan—seperti jajanan pasar atau usaha bumbu—cenderung dipilih lansia karena mungkin berbasis pada keahlian memasak yang dimiliki seumur hidup dan tidak menuntut aktivitas fisik seberat industri manufaktur lainnya.
Tantangan Pendidikan: Mayoritas Lulusan SD ke Bawah
Salah satu tantangan struktural terbesar dalam pengembangan IMK di NTB adalah profil pendidikan para pengusahanya. Data BPS 2024 memperlihatkan bahwa mayoritas pengusaha IMK memiliki latar belakang pendidikan formal yang rendah.
Jika digabungkan, lebih dari separuh pengusaha IMK di NTB berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah:
-
Tidak Tamat SD: Sebanyak 25,23 persen.
-
Tamat SD Sederajat: Sebanyak 26,27 persen.
Total sekitar 51,5 persen pengusaha IMK hanya mengenyam pendidikan dasar atau kurang. Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak usaha mikro di NTB bersifat tradisional, berjalan apa adanya, dan mungkin agak lambat dalam mengadopsi teknologi digital atau sistem manajemen modern.
Sektor-sektor yang banyak dikelola oleh pengusaha dengan pendidikan SD ke bawah meliputi:
-
Industri Tekstil (KBLI 13) — kemungkinan besar penenun tradisional.
-
Industri Kayu dan Anyaman (KBLI 16) — pengrajin bambu/rotan.
-
Industri Makanan (KBLI 10).
-
Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12).
Ini menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut lebih mengandalkan skill atau keterampilan tangan yang diwariskan secara turun-temurun (tacit knowledge) daripada pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah formal.
Peran Pendidikan Menengah dan Tinggi
Di sisi lain, harapan akan modernisasi IMK terlihat dari proporsi pengusaha yang berpendidikan menengah dan tinggi.
Pengusaha dengan pendidikan SMA sederajat mencapai angka 21,91 persen. Kelompok pendidikan menengah ini memiliki sebaran terbesar pada:
-
Industri Makanan (KBLI 10).
-
Industri Tekstil (KBLI 13).
Pola yang sama juga terlihat pada pengusaha dengan pendidikan Sarjana/Universitas. Meskipun persentasenya belum mendominasi, para sarjana yang terjun ke dunia IMK cenderung memilih sektor Makanan dan Tekstil.
Masuknya lulusan SMA dan Sarjana ke sektor makanan dan tekstil ini menarik. Ini bisa menjadi indikasi transformasi sektor tersebut menjadi lebih modern. Misalnya, industri makanan yang tadinya hanya warung tradisional, di tangan sarjana bisa berubah menjadi kafe atau produk kemasan yang siap ekspor. Begitu juga tekstil yang bisa dikembangkan menjadi butik atau fashion brand lokal.
Kesimpulan
Profil pengusaha IMK di Nusa Tenggara Barat tahun 2024 melukiskan wajah ekonomi kerakyatan yang tangguh namun tradisional. Didominasi oleh kelompok usia 45-64 tahun dan tingkat pendidikan SD ke bawah, kekuatan utama IMK NTB saat ini terletak pada pengalaman dan keterampilan warisan.
Namun, adanya partisipasi anak muda di sektor tekstil dan masuknya lulusan pendidikan menengah hingga tinggi di sektor makanan memberikan harapan baru. Ini adalah sinyal bahwa IMK bukan hanya tempat bagi mereka yang tidak memiliki pilihan, tetapi juga menjadi lahan bisnis potensial bagi kaum terpelajar dan generasi muda.
Bagi pemangku kebijakan, data ini mengirimkan pesan jelas: program pelatihan dan pendampingan untuk IMK di NTB tidak bisa diseragamkan. Pendekatan untuk pengusaha lansia lulusan SD tentu harus berbeda dengan pendekatan untuk pengusaha muda lulusan SMA/Sarjana. Dengan strategi yang tepat sasaran sesuai profil pengusahanya, akselerasi pertumbuhan IMK di NTB dapat terwujud lebih optimal.
Sumber Data: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat, Profil Industri Mikro Dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024, Volume 6, 2025.
Penulis : Lalu Moh. Nazar Fajri, S.E., M.PA
Editor : Redaksi Narasio






