Industri Mikro dan Kecil NTB, Tembakau dan Perempuan Mendominasi Penyerapan Tenaga Kerja

- Redaksi

Sabtu, 27 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Industri Mikro dan Kecil NTB, Tembakau dan Perempuan Mendominasi Penyerapan Tenaga Kerja

i

Ilustrasi: Industri Mikro dan Kecil NTB, Tembakau dan Perempuan Mendominasi Penyerapan Tenaga Kerja

Industri Mikro dan Kecil (IMK) terus membuktikan diri sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan yang tangguh, khususnya dalam aspek penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat dalam laporan “Profil Industri Mikro Dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024, Volume 6, 2025”, sektor ini menunjukkan karakteristik padat karya yang signifikan.

Data tahun 2024 mencatat bahwa usaha IMK di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil menyerap total tenaga kerja sebanyak 330.371 orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata bagaimana sektor riil bergerak di tingkat akar rumput, memberikan penghidupan bagi ratusan ribu keluarga di NTB.

Berikut adalah analisis mendalam mengenai sebaran tenaga kerja IMK di NTB berdasarkan sektor industri, demografi gender, usia, hingga tingkat pendidikan.

Dominasi Sektor Tembakau dan Makanan

Struktur ketenagakerjaan IMK di NTB pada tahun 2024 menunjukkan pola konsentrasi yang unik. Tidak semua sektor industri memiliki daya serap yang sama. Terdapat tiga pilar utama yang menopang mayoritas lapangan kerja di sektor ini.

1. Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12)

Industri pengolahan tembakau menempati posisi puncak sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Sebanyak 123.440 orang menggantungkan hidupnya di sektor ini.

Angka tersebut setara dengan 37,36 persen dari total seluruh pekerja IMK di NTB. Tingginya angka ini mengindikasikan bahwa aktivitas pengolahan tembakau—mulai dari perajangan hingga pengemasan skala kecil—masih menjadi aktivitas ekonomi utama masyarakat, yang kemungkinan besar didorong oleh ketersediaan bahan baku lokal dan tradisi pengolahan yang sudah mengakar.

2. Industri Makanan (KBLI 10)

Menyusul di posisi kedua adalah industri makanan. Sektor ini menyerap 89.729 orang atau sekitar 27,16 persen dari total pekerja. Industri makanan biasanya mencakup usaha rumahan seperti pembuatan jajanan, katering rantangan, hingga pengolahan hasil pertanian menjadi produk setengah jadi. Sifatnya yang merupakan kebutuhan pokok menjadikan industri ini stabil dalam menyerap tenaga kerja.

3. Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Anyaman (KBLI 16)

Di peringkat ketiga, terdapat kelompok industri yang memanfaatkan hasil hutan dan perkebunan non-kayu. Industri ini meliputi pengolahan kayu, gabus (tidak termasuk furnitur), serta barang anyaman dari rotan dan bambu. Sektor ini menyerap 35.943 orang atau berkontribusi sebesar 10,88 persen.

Sebaliknya, terdapat sektor-sektor yang penyerapan tenaga kerjanya sangat minim. Industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer (KBLI 29) serta industri jasa reparasi dan pemasangan mesin (KBLI 33) menjadi yang paling sedikit, dengan masing-masing hanya mencatatkan 2 dan 22 pekerja. Hal ini wajar mengingat sektor tersebut biasanya membutuhkan modal lebih besar dan teknologi yang lebih tinggi, yang mungkin belum banyak diadopsi oleh pelaku usaha skala mikro di NTB.

Perempuan Sebagai Penggerak Utama Ekonomi Mikro

Salah satu temuan paling menarik dari laporan BPS tahun 2024 ini adalah dominasi perempuan dalam struktur tenaga kerja IMK. Berbeda dengan sektor industri besar yang mungkin didominasi laki-laki, wajah IMK di NTB adalah wajah perempuan.

Secara keseluruhan, tenaga kerja perempuan mendominasi dengan jumlah 207.386 orang. Ini setara dengan 62,77 persen dari total pekerja IMK. Sementara itu, tenaga kerja laki-laki berjumlah 122.982 orang atau 37,23 persen.

Ketimpangan jumlah ini dapat dijelaskan dengan melihat jenis industri yang mendominasi:

  • Pada Industri Tembakau: Sebagai sektor terbesar, industri ini sangat bergantung pada ketelatenan pekerja perempuan. Tercatat 69.153 perempuan bekerja di sektor pengolahan tembakau.

  • Pada Industri Makanan: Sektor ini juga menjadi lumbung pekerjaan bagi perempuan, dengan 66.230 tenaga kerja perempuan terserap di dalamnya.

Data ini menegaskan bahwa perempuan di NTB memegang peranan krusial dalam roda ekonomi mikro, khususnya dalam proses produksi yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan tangan.

Profil Usia: Bonus Demografi di Sektor Mikro

Produktivitas tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh komposisi usia. Kabar baiknya, IMK di NTB didukung oleh tenaga kerja yang berada dalam rentang usia prima.

Mayoritas mutlak tenaga kerja IMK, yakni sebesar 95,83 persen, berada dalam kategori usia produktif (15–64 tahun). Jika dibedah lebih dalam, kelompok usia “inti” produktif, yaitu rentang 25–64 tahun, mendominasi dengan jumlah 278.321 orang atau mencapai 84,24 persen.

Hanya sebagian kecil, sekitar 4,17 persen, yang termasuk dalam usia nonproduktif. Kelompok ini terdiri dari:

  1. Pekerja Anak (Kurang dari 15 tahun): Fenomena pekerja anak laki-laki tercatat hanya ditemukan pada industri makanan (KBLI 10) dan industri pengolahan lainnya (KBLI 32). Umumnya, keterlibatan mereka bersifat membantu usaha keluarga.

  2. Pekerja Lanjut Usia (65 tahun ke atas): Kelompok lansia ini lebih banyak didominasi oleh perempuan (7.857 orang) dibandingkan laki-laki (4.878 orang). Mereka banyak terserap di industri yang tidak membutuhkan fisik berat namun butuh ketekunan, seperti industri makanan dan anyaman.

Penting untuk dicatat bahwa keterlibatan kelompok non-produktif (anak dan lansia) di sektor IMK sebagian besar berstatus sebagai anggota keluarga atau kerabat pengusaha, bukan pekerja upahan penuh dalam konteks industrial formal.

Inklusivitas Pendidikan dalam IMK

Pendidikan seringkali menjadi barrier atau penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Namun, data BPS ini menunjukkan bahwa Industri Mikro dan Kecil berfungsi sebagai “jaring pengaman” yang inklusif bagi tenaga kerja dengan berbagai latar belakang pendidikan.

Karakteristik IMK yang lebih mengandalkan skill praktis dibanding ijazah formal terlihat jelas dari sebaran pendidikan pekerjanya:

  • Tamatan SD: Menjadi kelompok terbesar dengan 104.935 orang (31,76 persen).

  • Tamatan SMP: Menyusul dengan jumlah 76.897 orang.

  • Tidak Tamat SD/Belum Sekolah: Terdapat 62.645 orang yang tetap bisa produktif bekerja meski tidak menamatkan pendidikan dasar.

Meski didominasi oleh pendidikan dasar, IMK di NTB juga mulai menyerap tenaga kerja terdidik. Tercatat sebanyak 68.140 pekerja merupakan lulusan SMA, dan terdapat 9.331 orang (2,82 persen) yang merupakan lulusan universitas.

Keberadaan lulusan universitas di sektor mikro ini menarik untuk dicermati. Ini bisa mengindikasikan dua hal: semakin ketatnya persaingan di pasar kerja formal, atau mulai munculnya wirausaha-wirausaha mikro baru yang dikelola secara lebih modern oleh kaum terpelajar.

Kesimpulan

Laporan Profil Industri Mikro dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024 memberikan gambaran komprehensif tentang vitalnya sektor ini bagi daerah. Dengan menyerap lebih dari 330 ribu tenaga kerja, IMK bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi sambilan, melainkan fondasi ekonomi masyarakat NTB.

Karakteristik utamanya yang padat karya, ramah terhadap pekerja perempuan, serta terbuka bagi tenaga kerja dengan pendidikan rendah, menjadikan IMK sebagai sektor strategis dalam pengentasan pengangguran dan kemiskinan.

Dominasi industri pengolahan tembakau dan makanan menunjukkan arah kebijakan pengembangan yang potensial. Di sisi lain, dominasi tenaga kerja perempuan menjadi sinyal positif bagi pemberdayaan gender di NTB, meskipun juga menuntut perhatian lebih pada aspek perlindungan kerja dan kesejahteraan bagi pekerja perempuan di sektor informal ini.

Sumber Data: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat, Profil Industri Mikro Dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024, Volume 6, 2025.

Penulis : M. Adib Zata Ilmam, S.Sos., M.Sc

Editor : Redaksi Narasio

Sumber Berita: Sumber Data: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat, Profil Industri Mikro Dan Kecil Provinsi Nusa Tenggara Barat 2024, Volume 6, 2025.

Lanjutan Narasi

Workshop Pelestarian Mangrove, Strategi Mitigasi Iklim dan Penguatan Ekonomi Pesisir NTB
Perjanjian Dagang ART Indonesia – Amerika Serikat Ancaman Bagi Kedaulatan dan Kepentingan Nasional
LPW NTB Desak Reformasi Total Polri: Buntut Penangkapan Kapolres Bima Kota Terkait Narkoba
Sosialisasi KPU Lobar, Pendidikan Segmen Pemilih Perempuan
Diskusi KUHAP Baru, Pakar Hukum Unram Soroti Perluasan Alat Bukti dan Potensi Kesewenang-wenangan
Aktivis Hukum Bongkar Bobrok Penegakan Hukum: Ribuan Laporan “Hilang”, Aparat Kebal Sanksi Meski Salah Tangkap
Menuju Regulasi Berkeadilan, Bedah Naskah Akademik Raperda Perlindungan Petani Tembakau NTB
Ketua Lab Hukum Unram Soroti “Fleksibilitas” KUHP Baru: Waspada Ruang Gelap di Tahap Penyelidikan

Lanjutan Narasi

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:30 WITA

Workshop Pelestarian Mangrove, Strategi Mitigasi Iklim dan Penguatan Ekonomi Pesisir NTB

Kamis, 26 Februari 2026 - 01:42 WITA

Perjanjian Dagang ART Indonesia – Amerika Serikat Ancaman Bagi Kedaulatan dan Kepentingan Nasional

Minggu, 22 Februari 2026 - 10:00 WITA

LPW NTB Desak Reformasi Total Polri: Buntut Penangkapan Kapolres Bima Kota Terkait Narkoba

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:34 WITA

Diskusi KUHAP Baru, Pakar Hukum Unram Soroti Perluasan Alat Bukti dan Potensi Kesewenang-wenangan

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:00 WITA

Aktivis Hukum Bongkar Bobrok Penegakan Hukum: Ribuan Laporan “Hilang”, Aparat Kebal Sanksi Meski Salah Tangkap

Lensa Hari Ini

Aksi Demonstrasi Jilid 2 oleh LPW NTB dan koalisi organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil (KOMPAK) Tahun 2022 di Mapolda NTB menuntut pengusutan kematian Muardin dan Reformasi Polri. Foto: Dokumen LPW NTB

Opini

Erosi Kepercayaan terhadap Kepolisian dan Pengadilan Publik

Selasa, 24 Feb 2026 - 10:00 WITA