Sorot Kamera Unram Bongkar Korupsi NCC, Peran Rosiady hingga Potensi Rehabilitasi

- Redaksi

Minggu, 14 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi hukum Sorot Kamera FHISIP Unram Seri ke-12 dengan tema “Membongkar Skandal Korupsi NCC, Peran, dan Potensi Rehabilitasi Rosiady sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat,” pada Jumat (12/12/2025) di FHISIP Unram. Hadir narasumber Dosen Bagian Hukum Pidana FHISIP Unram, Dr. Syamsul Hidayat, S.H., M.H., dan Taufan, S.H., M.H., serta unsur Advokat Dr. Ainuddin, S.H., M.H.

i

Diskusi hukum Sorot Kamera FHISIP Unram Seri ke-12 dengan tema “Membongkar Skandal Korupsi NCC, Peran, dan Potensi Rehabilitasi Rosiady sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat,” pada Jumat (12/12/2025) di FHISIP Unram. Hadir narasumber Dosen Bagian Hukum Pidana FHISIP Unram, Dr. Syamsul Hidayat, S.H., M.H., dan Taufan, S.H., M.H., serta unsur Advokat Dr. Ainuddin, S.H., M.H.

Mataram, Narasio.comFakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram (Unram) melalui Sorot Kampus Merah (Sorot Kamera) kembali menyelenggarakan diskusi hukum dalam rangkaian Sorot Kamera Seri ke-12 dengan tema “Membongkar Skandal Korupsi NCC, Peran, dan Potensi Rehabilitasi Rosiady sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat,” pada Jumat (12/12/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Prof. Zainal Asikin, Gedung A, Lantai 3, Program Studi Ilmu Hukum FHISIP Universitas Mataram dengan menghadirkan tiga narasumber utama yakni Taufan, S.H., M.H., selaku Dosen Bagian Hukum Pidana FHISIP Unram, Dr. Ainuddin, S.H., M.H., selaku Advokat dan Dr. Syamsul Hidayat, S.H., M.H., selaku Dosen Bagian Hukum Pidana FHISIP Unram.

Kegiatan dibuka sekaligus pengantar oleh Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H. selaku Dekan FHISIP Unram dengan menegaskan bahwa Sorot Kamera hadir sebagai forum diskusi akademik yang independen dalam menelaah isu hukum yang berkembang di masyarakat. Ia menyoroti bahwa perkara yang melibatkan Prof. Rosiady masih menyisakan ruang perdebatan.

“Perkara ini tidak bisa dilihat secara parsial dan setengah-setengah. Kita perlu melihatnya secara utuh dan komprehensif agar penilaian hukumnya objektif dan berimbang,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa para narasumber dihadirkan untuk memberikan perspektif yang beragam.

Dalam pemaparannya, Taufan menguraikan secara rinci konstruksi dakwaan dalam perkara Nusa Tenggara Barat Convention Center (NCC) yang menggunakan dakwaan primair Pasal 2 dan subsidair Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

Ia menjelaskan bahwa dalam dakwaan tersebut Prof. Rosiady diposisikan sebagai pihak yang turut serta dalam pengelolaan aset daerah terkait skema Bangun Guna Serah (BGS/BOT).

Lebih lanjut, Taufan Menyoroti terkait perhitungan kerugian Negara. Dalam hal ternyata akuntan publik yang dipakai di lapangan tidak terfverifikasi.

“Bagaimana kemudian kita mau menguji sahnya penghukuman ketika yang digunakan adalah akuntan publik yang tidak terverifikasi?” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Ainuddin, menekankan bahwa perkara korupsi kerap disajikan kepada publik secara simplistik sehingga menutup ruang diskusi hukum yang sehat. Ia menilai terdapat kejanggalan dalam proses interpretasi hukum yang cenderung memaksakan peristiwa administratif ke dalam kerangka pidana.

“Prof. Rosiady seolah-olah sebagai tumbal kriminalisasi dalam proses hukum yang tidak tepat,” ujarnya.

Menurutnya, tindakan Prof. Rosiady dalam menandatangani dokumen serah terima tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan proses, kajian teknis, dan tujuan pembangunan NCC sebagai bagian dari visi “NTB Bersaing.”

Ia menyatakan bahwa Prof. Rosiady memiliki hak untuk mendapatkan rehabilitasi, mengingat perkara masih berjalan dan negara memiliki kewajiban untuk memastikan keadilan substantif.

Sementara itu, Dr. Syamsul Hidayat menyoroti kesalahan mendasar dalam banyak perkara pidana korupsi yang keliru sejak awal memilih jalur hukum. Ia menegaskan bahwa Pasal 2 UU Tipikor mensyaratkan kerugian negara yang nyata dan pasti.

“Tanpa kerugian negara yang jelas dan dinyatakan oleh lembaga yang berwenang, delik korupsi kehilangan fondasi utamanya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti berlakunya KUHP Nasional yang mengharuskan penggunaan ketentuan yang lebih menguntungkan terdakwa dalam upaya kasasi.

Terkait rehabilitasi, ia menyatakan, “Amnesti dan abolisi kini diakui secara eksplisit sebagai alasan gugurnya pemidanaan, dan ini menjadi opsi konstitusional yang patut dipertimbangkan.

Dalam sesi, peserta mengajukan beberapa pertanyaan mulai dari kecenderungan kriminalisasi terhadap perkara yang sejatinya berada dalam ranah perdata, tanggung jawab pejabat publik dalam penandatanganan dokumen administratif, hingga relevansi petisi publik terhadap proses kasasi di Mahkamah Agung.

Diskusi kemudian ditutup dengan harapan agar seluruh catatan dan hasil diskusi ini tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat menjadi refleksi untuk memperbaiki cara berhukum ke depannya.

Penulis : Alyssa Rizkia Haris

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

Dr. Muhaimin: Kurikulum Hukum S1 Harus Reduksi Mata Kuliah Umum, Perkuat Keterampilan Praktis dan Integritas
UNW Mataram Gelar Workshop Kesehatan Mental untuk Mahasiswa dan Civitas Akademika Fakultas STEM
Pasca-Kebakaran Desa Adat Sade, Evi Apita Maya Tekankan Pemulihan Sejarah dan Ekosistem Ekonomi Lokal
Jawab Tantangan Dunia Kerja, PERADI SAI dan FHISIP Unram Dorong Mata Kuliah Advokat Masuk Jenjang S1
Pidato Paripurna Prof. Rodliyah: Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan
Statistika Unram Kembangkan Board Games untuk Penguatan Literasi dan Keterampilan Siswa SD
Konstruksi Sosial Batasi Peran Perempuan dan Laki-Laki, Perlu Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal
Polemik Putusan Bebas dalam KUHAP Baru: JPU Bisa Banding atau Tidak?

Lanjutan Narasi

Selasa, 1 September 2026 - 08:30 WITA

Dr. Muhaimin: Kurikulum Hukum S1 Harus Reduksi Mata Kuliah Umum, Perkuat Keterampilan Praktis dan Integritas

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:21 WITA

UNW Mataram Gelar Workshop Kesehatan Mental untuk Mahasiswa dan Civitas Akademika Fakultas STEM

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:45 WITA

Pasca-Kebakaran Desa Adat Sade, Evi Apita Maya Tekankan Pemulihan Sejarah dan Ekosistem Ekonomi Lokal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:00 WITA

Pidato Paripurna Prof. Rodliyah: Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:06 WITA

Statistika Unram Kembangkan Board Games untuk Penguatan Literasi dan Keterampilan Siswa SD

Lensa Hari Ini

Pekerja Rumah Tangga Wajib Dilindungi, Bagaimana Ketentuannya?. Foto: Ilustrasi Gemini AI

Komentar

Pekerja Rumah Tangga Wajib Dilindungi, Bagaimana Ketentuannya?

Senin, 31 Agu 2026 - 19:29 WITA