Direktur LPW NTB Soroti Dominasi Sektor Informal: “Buruh Kita Masih Terjebak dalam Ketidakpastian Ekonomi”

- Redaksi

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur LPW NTB, Taufan, Soroti Dominasi Sektor Informal Buruh Kita Masih Terjebak dalam Ketidakpastian Ekonomi. Foto: Dok. Istimewa

i

Direktur LPW NTB, Taufan, Soroti Dominasi Sektor Informal Buruh Kita Masih Terjebak dalam Ketidakpastian Ekonomi. Foto: Dok. Istimewa

MATARAM – Pada momentum Hari Buruh 2026, Direktur Lembaga Pengembangan Wilayah (LPW) NTB, Taufan, S.H., M.H., memberikan catatan kritis terhadap struktur ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan rilis data Sakernas Agustus 2025 yang dipublikasi oleh BPS NTB pada Maret lalu. Meski terjadi sedikit peningkatan di sektor formal, Taufan menilai kondisi buruh dan pekerja di NTB masih sangat rentan karena mayoritas masih menggantungkan hidup pada sektor informal dan pertanian tradisional.

“Kita tidak boleh menutup mata bahwa 68,42 persen atau sekitar 2,13 juta orang pekerja kita masih berada di sektor informal. Ini adalah angka yang besar, yang berarti mayoritas buruh di NTB belum mendapatkan perlindungan hukum, jaminan sosial, dan upah yang layak sebagaimana standar pekerja formal,” tegas Taufan dalam keterangannya, Sabtu (02/05/2026).

Pertanian dan Perdagangan: Antara Keterpaksaan dan Migrasi Lahan

Data menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar (35,37 persen), disusul sektor perdagangan (19,05 persen). Namun, Taufan melihat hal ini bukan sekadar masalah kecocokan topografi, melainkan adanya pergeseran paksa akibat menyempitnya lahan.

“Sektor pertanian kita masih dominan, tapi di sisi lain kita melihat ada migrasi tenaga kerja ke sektor perdagangan di perkotaan. Mengapa? Karena lahan pertanian semakin berkurang. Buruh tani yang kehilangan lahan akhirnya lari menjadi pekerja sektor perdagangan kecil-kecilan di kota dengan status informal yang tidak pasti,” urainya.

Ironi Status Pekerjaan dan Kerentanan Buruh

Taufan juga menyoroti status pekerjaan penduduk NTB. Saat ini, tercatat hanya 28,93 persen penduduk yang berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai tetap. Selebihnya adalah pekerja yang berusaha sendiri atau buruh tidak tetap yang masuk dalam kategori informal.

Walaupun jumlah pekerja formal meningkat 2,09 persen poin dibandingkan Agustus 2024, Direktur LPW NTB menganggap progres tersebut terlalu lambat.

“Peningkatan sektor formal sebesar 2 persen itu belum cukup kuat untuk mengimbangi derasnya angkatan kerja. Selama sektor informal masih mendominasi hingga hampir 70 persen, maka wajah ketenagakerjaan kita adalah wajah kerentanan. Pekerja informal tidak memiliki jaminan hari tua dan sangat rentan terhadap guncangan ekonomi,” kritik Taufan.

Desak Perluasan Sektor Formal dan Perlindungan Buruh

Sebagai penutup, Taufan mendesak Pemerintah Provinsi NTB untuk tidak hanya fokus pada peningkatan infrastruktur kota, tetapi juga pada penciptaan ekosistem industri yang mampu menarik tenaga kerja informal ke dalam sistem formal.

“Pemerintah harus hadir untuk memastikan transisi dari informal ke formal berjalan lebih cepat. Kita butuh kebijakan yang memihak pada buruh, bukan sekadar memfasilitasi perdagangan yang tumbuh karena kepadatan penduduk, tapi tidak berkualitas secara ekonomi bagi pelakunya. Investasi di NTB harus mampu mengubah nasib buruh, bukan sekadar menjadikannya angka statistik dalam laporan tahunan,” pungkasnya. (Red)

Penulis : Alyssa Rizkia Haris

Editor : Redaksi Narasio

Lanjutan Narasi

KKN-PMD Unram Desa Gumantar Gandeng UPTD PPA, Beri Edukasi Cegah Pernikahan Anak di SMPN 3 Kayangan
Goes to School, Cara KPU Lombok Barat Cetak Pemilih Cerdas di Madrasah
OTT Bupati Lombok Barat, Ironi Alumni Retret Magelang
Mahasiswa KKN-PMD Unram dan Kemenkum NTB Dorong Perlindungan HKI untuk UMKM Suela
Pengesahan UU Pusat Finansial Internasional dikebut, IGJ ingatkan ancaman Kedaulatan Ekonomi
Perlindungan Anak dari Kekerasan di Pondok Pesantren
Kebakaran 1.956 Hektare Savana, HMI Bima Desak Evaluasi Total Mitigasi Cagar Biosfer Tambora
Krisis Ketenagakerjaan Pulau Sumbawa: Dompu Catat Pengangguran Tertinggi, Bima Terjebak Kemiskinan Pertanian

Lanjutan Narasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:00 WITA

KKN-PMD Unram Desa Gumantar Gandeng UPTD PPA, Beri Edukasi Cegah Pernikahan Anak di SMPN 3 Kayangan

Kamis, 23 Juli 2026 - 18:03 WITA

Goes to School, Cara KPU Lombok Barat Cetak Pemilih Cerdas di Madrasah

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:11 WITA

OTT Bupati Lombok Barat, Ironi Alumni Retret Magelang

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:00 WITA

Mahasiswa KKN-PMD Unram dan Kemenkum NTB Dorong Perlindungan HKI untuk UMKM Suela

Senin, 20 Juli 2026 - 16:00 WITA

Perlindungan Anak dari Kekerasan di Pondok Pesantren

Lensa Hari Ini

mantan Bupati Lalu Ahmad Zaini ditangkap KPK. Foto : Dok. Detik.com

Berita

OTT Bupati Lombok Barat, Ironi Alumni Retret Magelang

Rabu, 22 Jul 2026 - 19:11 WITA